Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 8


__ADS_3

☆*: .。. o(≧▽≦)o .。.:*☆


Kini Bina duduk di boncengan vespa biru milik Irgi. Memejamkan mata menikmati sejuknya udara malam yang menerpa wajahnya.


Tak ada percakapan yang membuat mereka membuka suara. Hanya ada suara kendaraan mereka yang melaju pelan dan suara kendaraan lain yang menemani perjalanan mereka.


Bina terlalu lelah hari ini. Setelah berlibur, badannya menjadi lemah karena tidak melakukan apa-apa. Bina hanya rebahan, dan mengerjakan pekerjaan rumah sedikit. Dan hari ini badannya yang sudah lemah karena tidak bergerak, harus dikagetkan dengan kegiatan yang melelahkan. Tak dipungkiri memang menyenangkan, tapi setelah selesai, baru terasa di badan.


Sendari rumah Irgi tadi, Bina menahan diri untuk tidak merasa kelelahan agar tidak merepotkan, dan terus menanggapi obrolan mereka dengan sopan, walau sangat melelahkan. Tapi tanpa dipungkiri ia juga berterima kasih pada mereka. Memperlakukannya dengan baik, dan memberinya makan gratis, dengan itu selain berhemat Bina juga tak perlu masak untuk makan malam.


Pemuda dihadapannya ini juga tak membuka suaranya. Mungkin ia juga merasakan apa yang Bina rasakan. Lelah, akan kegiatannya hari ini. Apalagi ia adalah anggota osis, pastinya Irgi berangkat lebih pagi dari Bina, dan pulang lebih telat dari pada siswa MPLS dipulangkan.


Bina membuka matanya, melihat pemandangan jalan penuh lampu yang indah, tersenyum. Menghirup udara mengandung oksigen yang bercampur debu dan polusi, dalam. Memainkan tangannya yang berada di atas pundak Irgi pelan.


Pemuda dihadapannya hanya diam, fokus berkendara, menjalankan motornya dengan pelan. Bina senang dengan cara Irgi berkendara, itu membuat mereka lebih lama dijalan, dan membuat mereka lebih lama pula menikmati suasana sekarang. Beristirahat sejenak dengan begini, membuat mereka merasa lebih baik.


Tak lama, mereka sudah sampai di tempat tujuan. Bina turun dari boncengan, melepas helm yang ia kenakan, memberikannya pada si pemilik.


"Makasih kak, mampir?" Tidak, itu hanya basa-basi belaka.


Irgi menggeleng sebagai jawaban. Pemuda itu masih duduk diatas motornya, menggunakan helm. Ia meng standar motornya, mengubah posisi duduknya menyamping menghadap Bina.


"Kamu segitunya mau masuk basket?" Pemuda itu bertanya.


Bina memalingkan wajahnya, menganggukkan kepalanya pelan.


"Kenapa?"


"Aku cuma mau aja." Balas Bina, pandangannya mengarah pada tanah, pohon, dan apapun itu, asal tidak menatap Irgi.

__ADS_1


"Pasti ada alasannya. Papa bilang kamu tuh ngak mau nikah, tapi kamu akhirnya mau karena mau sekolah di kota, kamu sekolah di kota karena basket kan?" Irgi panjang lebar.


"Bukan itu. Salah satu alasannya, ayah sama ibu."


"Salah satu? Berarti kamu punya alasan lain kan?" Pemuda itu menatap Bina lekat. "Bisa kamu kasih tau alasannya?"


Bina masih mengalihkan tatapannya, enggan menatap pemuda dihadapannya. Walau nada bicara Irgi lembut, tak ada intonasi yang tinggi, dan tak ada kata kasar yang keluar dari mulutnya, tapi aura mendominasi dari Irgi membuat Bina sedikit takut pada pemuda ini. Tak tau kenapa, tapi Bina merasa, pemuda hidapannya ini adalah seorang yang tak bisa ditentang. Dengan nada lembutnya saja Irgi berhasil membuat dirinya seperti ini, Bina tidak bisa membayangkan bagaimana jika pemuda ini marah.


"Bina, alasan kamu ada sangkut paut dengan saya. Saya berhak tau." Pemuda itu masih menatap Bina. Ia harus tau apa alasan Bina menerima perjodohan mereka. Walau bagaimanapun ini berhubungan dengannya, masa depannya. Ia pasti akan terus menanyakan hal serupa pada Bina suatu hari. Entah dengan sendirinya atau Bina sendiri yang memberitahu nya, yang pasti ia harus tahu. Mungkin juga, walau ia mengetahuinya sendiri, ia akan terus menuntut Bina memberitahunya, karena ia akan terus penasaran dan ingin Bina mengatakannya sendiri.


Irgi menghela nafas, ketika melihat Bina menggelengkan kepalanya. Ia kembali mengenakan helm, menyalakan motornya, bersiap akan pergi.


"Masuk, saya pamit." Irgi hendak menjalankan motornya.


"Nanti kak Irgi juga tau." Bisik Bina pelan. Namun masih terdengar di telinga Irgi.


Irgi mengangguk saja, mulai menjalankan motor meninggal kan Bina yang masih berdiri menunduk di tempatnya.


Bina menghela nafas, berbalik masuk kedalam kostnya. Setelah menutup pintu, Bina terdiam, melihat sekeliling. Ia menatap dapur, berjalan perlahan ke arah sana, dilihatnya dapur itu, sudah bersih dan rapi, hasil karya tangan Irgi.


Bina jadi teringat pertanyaan Irgi. Apa ia harus memberi tahu pemuda itu alasannya. Tapi Bina sendiri ragu alasannya akan dianggap remeh dan ditertawakan. Ayah dan ibunya bahkan tak tau alasan nya. Apa pemuda itu berhak tau? Sedang orang tuanya sendiri pun tak pernah ia beri tahu.


Bina tersenyum tipis, menyentuh piring yang tadi sore disentuh Irgi untuk dicuci. Tangan pemuda itu lumayan cekatan. Bina memang tak melihat Irgi mencuci piringnya, tapi tadi sebelum pulang dari rumah Irgi, ia dan pemuda itu mencuci piring bersama, dan Bina melihatnya bagaimana tangan besar Irgi mengambil piring dari tangan nya untuk dibilas. Irgi terlihat seperti Kardi, rajin mencuci piring, bahkan di rumah mereka ada jadwal piket cuci piring. Berbeda dengan rumah Bina, kardi yang akan mencuci piring dan akan Bina bantu sebisanya.


Mengingatnya, ia jadi merindukan sang ayah, bagaimanakah kabar pria itu? Apa ia sehat? Apa ia masih menjadi superior. Bagaimana dengan ibunya, ia juga merindukan masakan beliau. Apin? Apa ia sudah tumbuh besar. Ah Bina seperti sudah tak bertemu mereka setahun, padahal baru seminggu terpisah.


Bina berbalik lagi ke arah kamarnya. Membuka pintu ruangan itu, pelan. Setelan melihat kasur, ia buru-buru menutup pintu, berlari melemparkan dirinya ke atas kasur. Bina berusaha menahan rasa ingin rebahan sedari dari rumah keluarga Irgi.


Bina berguling menempatkan dirinya senyaman mungkin diatas kasur. Memeluk guling, membuka ponselnya, mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Menghilangkan pikirannya tentang Irgi, Bina membuka kontak pada ponselnya menekan tombol panggil, pada nama ayahnya.

__ADS_1


"Assalamualaikum ayah." Ucap Bina kala panggilan terhubung.


"Waalaikum salam, Bin, gimana kabarnya?" Kardi mengubah panggilan biasa menjadi panggilan video.


"Baik ayah, ayah gimana?" Bina bertanya, ia tersenyum menatap wajah ayahnya yang memenuhi layar.


"Baik, ayah kamu kamu banget cuaks." Kardi memasang wajah sedihnya.


Bina memutar bola matanya, mendengar kata terakhir yang ayahnya ucap. "Aku juga kangen, ibu mana?" Bina mengalihkan.


"Dih, nggak cuaks."


"Ck, ayah tuh, Ibu mana?" Bina jengkel melihat ayah nya kini memalingkan kamera ponsel nya ke arah yang berlawanan dari wajahnya.


"Nih ibumu nih." Kardi memberikan ponsel nya pada sang istri yang baru saja datang menghampirinya.


"Halo ibuu, Bina kangen banget tauuu." Bina membalikkan tubuhnya hingga kini posisinya tertelungkup, memandang wajah sang ibu yang kini tersenyum dibalik layer.


"Halo, ibu juga kangen, gimana kabarnya?"


"Baik bu, ibu gimana?"


"Baik, gimana disana? Enak? Atau gimana? Jangan begadang terus nonton drakor." Lilis mengacungkannya jari telunjuk nya kearah layer.


"Nggak bu, Apin mana?" Bina mengalihkan pembicaraan.


"Udah tidur dia mah, kamu gimana sekolahnya, katanya hari pertama kesekolah kan, gimana?"


Bina terus tersenyum memandang layer ponselnya, yang memperlihatkan wajah dari kedua orang tua nya. Saling membagi rindu mereka satu sama lain.

__ADS_1


ILY❤️


╰(*°▽°*)╯


__ADS_2