Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 27


__ADS_3

( •̀ ω •́ )✧


“Siap gaes?” Wawan sang kapten kini sudah mulai mengulurkan tangannya, mengajak bertos sebelum latih tanding mereka tiga puluh menit lagi.


Untuk membangkitkan semangat mereka yang kini sudah sebagian bercucuran keringat entah karena gugup atau cuaca memang sedang panas. Mereka tak boleh kalah lagi. Bina sudah mengajarkan mereka banyak ilmu. Dan hari ini, walau bukan perlombaan atau tanding yang sesungguhnya, mereka harus tetap memberikan yang terbaik.


“Nggak perlu menang. Kita cuman perlu mengerahkan yang terbaik.” Wawan kembali berucap ketika tidak ada dari mereka yang menggapai tangannya untuk bertos.


Wajah tegang masing-masing dari mereka kini sudah mulai tampak. Apalagi sekarang tribun sudah banyak yang menempati. Walau masih banyak yang kosong, namun tak sedikit juga yang sudah diduduki oleh manusia-manusia. Ekskul basketnya memang tak terlalu diminati, namun tetap saja basket adalah salah satu ekskul dengan penggemar perempuan yang lumayan banyak. Entah dari kalangan yang mengerti basket, atau hanya karena cowok-cowok tampan di lapangan.


Belum lagi penonton dari tim lawan mereka yang kini sudah memenuhi tribun seberang. Begitu banyak mata yang menatap mereka. Bukan pertama kali mereka bertanding dengan sekolah yang sama. Namun pemain yang kini berhadapan dengan mereka adalah orang-orang yang berbeda. Dan mereka selalu menghasilkan pertandingan yang sangat tidak mereka harapkan.


Bina berada di pinggir lapangan. Tepat di depan tribun bagian bawah. Harap-harap cemas ia rasakan. Walau bukan lomba, ini hanya latih tanding, namun tetap saja dadanya kini berpacu cepat. Ia berdoa dalam hati semoga yang terbaik di beri pada mereka.


“Gaes...” Wawan kembali bersuara, tangannya masih setia menunggu sambutan dari teman-temannya.


Wahyu menghela nafasnya dalam. Ia sudah berlatih serius hanya untuk latih tanding ini. Ia pasti bisa. Ia pasti bisa seperti Bina. Pemuda itu mengambil nafas dalam sekali lagi. Perlahan mengulurkan tangannya bergabung dengan tangan Wawan.


Hal itu membuat Wawan tersenyum. Ia adalah kaptennya, ia harus membuat teman-temannya semangat, menopang mereka untuk berjalan bersama. Walau tak dipungkiri, perasaan yang ada dalam dirinya pun sama seperti yang teman-temannya rasakan.


“Ayo gaes.” Ucup berucap, ikut menggabungkan tangannya dengan Wawan dan Wahyu. Hal itu membuat semua tangan satu-persatu mulai mengikuti.


Mereka bertos ria, membangkitkan semangat untuk diri mereka sendiri dan orang lain. Bina tersenyum dari tempat duduknya. Perasaannya yang harap cemas masih ada, namun sedikit berkurang ketika melihat para lelaki itu tersenyum mengangkat tangannya tinggi-tinggi saling melempar senyum dan semangat mereka.


Deheman dari arah belakang Bina membuatnya menoleh pada asal suara. Pemuda dengan seorang gadis cantik, baru saja mendudukan bokong mereka pada tribun tepat di belakang Bina. Pandangannya bersitatap dengan si pemuda. Ada sesuatu yang dikatakan pemuda itu lewat matanya.


"Mulainya kapan Bin?” Pemuda itu, Irgi, berkata menatap Bina.


“Eh, mmm, bentar lagi kak.” Bina berucap terbata.


Bina melirik pada perempuan yang kini duduk di samping Irgi. Itu... bukan gadis yang ia temui di pameran. Itu gadis yang Irgi bonceng tempo hari. Bukan Pita. Bina mengedarkan pandangannya, mencari sosok Pita. mungkin saja gadis itu melihat kedua manusia yang ada di hadapannya ini. Mungkin saja Irgi berbohong. Mungkin saja Irgi berselingkuh. Mungkin.. namun mengingat perkataan Irgi malam itu, tak ada kebohongan yang Bina lihat.


Bina menggaruk kepalanya. Bagian tubuhnya yang itu kini memunculkan kata ‘mungkin’ begitu banyak. Ia sampai tak tau harus percaya yang mana.


“Dia siapa Gi?” gadis di samping Irgi bertanya.

__ADS_1


“Ini.... Bina, pelatih basket, anak sepuluh IPA.” Irgi menjawab pelan, pemuda itu masih menatap Bina dengan lekat.


Gadis itu terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Ia mulai menatap Bina, menilai gadis itu dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Gebetannya Wahyu ya?” Celetuknya.


“Rasya.” Irgi berucap menolah cepat pada gadis di sampingnya.


“Loh kenapa? Emang gebetannya Wahyu kan? Aku sering liat dia boncengan atau jalan berdua sama Wahyu.” Rasya, gadis itu menoleh pada Irgi sebentar, kemudian menoleh kembali menatap Bina.


“Gausah ngomong gitu.” Irgi menatap tajam pada gadis disampingnya.


“Bina bentar lagi pertandingan dimulai.” Irgi berucap, ia menatap Bina yang kini menatap bertanya pada keduanya. Setelahnya gadis itu berbalik, duduk kembali pada tempat duduknya.


Pertandingan sudah dimulai. Decitan dan derap langkah sudah menjadi alunan suara yang saling mendominasi di lapangan. Teriakan para penonton juga sudah heboh, menambah ketegangan dan keseruan kedua tim yang kini saling berusaha meraih poin tertinggi. Peluit juga berbunyi beberapa kali.


Bina tegang sungguh. Setiap langkah dari teman-temannya di dalam lapangan penuh dengan doa-doa yang Bina panjatkan. Bukan hanya pertandingan, ini juga harapannya. Mereka, dirinya, harus lebih tinggi daripada apa yang sudah mereka dapatkan. Selayaknya manusia pada umumnya yang tak pernah puas dengan apa yang mereka miliki. Ia harus mewujudkan harapan seseorang.


“Lo Bina kan?”


Bina menolah kaget, saat suara yang sangat ia kenal menyapanya. Pandangannya beradu dengan mata coklat yang kini menyipit akibat tersenyum. Badan Bina diam di tempatnya. Ia kenal manusia ini. Sangat kenal. Gadis itu Putri, salah satu teman basketnya waktu SMP.


Bina masih diam. Pandangannya tak beralih pada objek apapun selain gadis disampingnya ini. Lagi-lagi Bina kembali bodoh, tak tau harus merespon bagaimana, dan ia selalu benci dengan sifatnya yang satu ini.


“Bina...” Putri memanggil, menatap lekat pada mata Bina. “Kamu masih ingat dengan kejadian waktu itu ya?” ucapnya.


Bina tak merespon, ia hanya menatap, tak mengeluarkan suara sedikitpun. Tubuhnya menegang ketika Putri menyebut hal yang membuat dada Bina kini terasa terhimpit oleh benda berat. Nafasnya berat, seolah oksigen enggan masuk dalam paru-parunya.


Putri mengambil nafas dalam, saat tak mendapat respon. Gadis itu memalingkan tatapannya pada lapangan yang kini mempertontonkan olahraga yang ia sukai. Para pemain dengan lincah berlari kesana kemari berusaha menggapai bola. Senyumnya tersungging saat salah satu tim mencetak poin di detik terakhir waktu pertandingan. Hingga peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan telah berbunyi.


“Lo nggak usah mikirin dia lagi Bin. Lo masih punya mimpi. Masih punya masa depan yang indah untuk lo gapai. Gue tau lo masih berusaha memenuhi semua harapan dia.” Putri berucap, tatapannya tak ia alihkan dari lapangan yang kini sudah tak memperlihatkan pertandingan saat berucap.


Jeda cukup lama. Hingga Putri menoleh menatap Bina dengan senyum manisnya. “Tapi... lo juga harus wujudkan harapan lo sendiri. Lo harus gapai cita-cita lo sendiri. Bukan karena lo, dia nggak bisa gapai cita-citanya. Bukan.” Putri menggelang, menatap lekat pada gadis di sampingnya.


Bina masih diam. Mencerna setiap ucapan, setiap kalimat, dan setiap kata yang keluar dari bibir temannya. Dirinya juga ingin menggapai harapannya sendiri, menggapai cita-citanya sendiri, namun dirinya seolah sulit untuk melakukan itu. Dirinya seolah terjerat dalam suatu hal tak tak pernah membiarkan dirinya lepas begitu saja.

__ADS_1


“Woy put, pulang.”


Teriakan itu berhasil membuat Putri berdiri dari duduknya. Gadis itu menepuk pundak Bina, sebelum berjalan meninggalkan gadis itu sendirian.


Bina menatap punggung Putri yang kini mulai mengecil karena jarak yang tercipta. Pikirannya kosong, ia sudah lelah rasanya memikirkan banyak masalah dalam hidupnya.


“Dek Bina.....” Wahyu berteriak dari arah lapangan. Pemuda itu mengangkat kedua tangannya.


Bina menolah. Teriakan itu berhasil mengembalikannya pada dunia nyata setelah tenggelam dalam lamunan. Gadis itu tersenyum menatap pada pemuda yang kini dengan semangat melambaikan tangannya memanggil Bina.


Lagi-lagi pemuda itu. Bina serasa ingin mengantonginya kemanapun ia pergi. Pemuda yang selalu bisa membuatnya menghapus sementara hal tak mengenakan dari pikirannya.


“Dek Bina, sini.” Panggilnya lagi.


Bina bangkit dari duduknya. Jujur ia tak terlalu memperhatikan lapangan. Karena seorang gadis yang tadi mencuri pandangannya. Jadi ia tak tau apa mereka menang atau tidak.


“Gimana tadi?” Wahyu berucap, tersenyum bangga pada gadis di hadapannya.


Bina mengerjapkan matanya, ia bingung. Ia tak tau hasil akhir pertandingannya bagaimana. Sayang sekali padahal ini adalah pertandingan pertama mereka setelah Bina menjadi pelatih. Bina jadi menyesal sekali rasanya.


Pemuda di hadapannya tersenyum cerah. Sedang teman-temannya juga tersenyum menatap Bina di belakangnya. Ia jadi tambah bingung mau merespon bagaimana.


“Keren kalian.”


Suara pemuda di belakang Bina menyapa. Membuat Bina menoleh, dan kini perhatian semua orang juga beralih pada pemuda itu.


“Iya dong.” Wahyu tersenyum bangga, pemuda itu berjalan menghampiri temannya, merangkulnya.


“Irgi mau ikut basket nggak nih?” Celetukan salah satu pemuda berseragam basket membuat yang lain kini tertawa. Ledekan yang sudah sering Irgi dapatkan ketika menginjakan kakinya pada lapangan basket.


“Walaupun gak menang yang penting ada perkembangan. Good job gaes.” Wawan tersenyum.


Wahyu melepas rangkulannya dengan Irgi. Pemuda itu berlari menjulurkan tangannya mengajak teman-temannya bertos. Hal itu disambut dengan semangat dari yang lain. Wahyu juga menarik lengan Bina, untuk ikut serta dalam tos mereka. Karena tak dipungkiri, dengan adanya Bina, mereka bisa sejauh ini.


Bina tersenyum. Walau tak menang mereka sudah berprogres sejauh ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Berjalan dengan cepat mereka pasti bisa mewujudkan impian mereka. Bina pasti bisa mewujudkan impiannya, tunggu saja. Bina akan selesai sebentar lagi.

__ADS_1


Irgi menatap Bina. Gadis berambut pendek itu kini tersenyum cerah. Berbeda sekali dengan beberapa saat lalu, saat berbincang dengan seorang gadis dari SMA lawan yang entah ia tak tau siapa. Dan Irgi terlalu penasaran dengan pembahasan mereka, terutama sosok ‘dia.’


\~\~>_


__ADS_2