Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 24


__ADS_3

*^____^*


Bina meletakan tasnya dengan terburu, pada entah meja siapa. Membuat manusia-manusia dalam kelas berteriak kaget, mengumpat pada dirinya, namun ia hiraukan. Setelahnya Bina berlari keluar, mengejar seorang gadis dengan rambut hitam lebat dengan riasan pita pink, yang kini berjalan menjauh dari kelasnya. Gadis itu berjalan lambat seperti manusia pada umumnya, namun Bina merasa gadis itu berjalan seperti cheetah, sangat cepat.


Nafas Bina sudah tak beraturan, larinya kini sudah berganti dengan jalan cepat. Dadanya berdebar hebat, keringat juga mulai muncul pada pelipis Bina, badannya terasa panas, padahal cuaca masih dingin, mengingat jam juga masih menunjukan setengah tujuh. Bina menaiki tangga, mengikuti gadis itu, yang mungkin saja menuju toilet sekolah.


Saat memasuki toilet, sudah tak tampak seorangpun disana, namun pintu toilet yang baru saja tertutup menandakan tak hanya Bina sendiri ditempat itu. Bina membasuh wajahnya yang sudah penuh keringat, pada wastafel, menatap dirinya yang sudah setengah kacau pada cermin dihadapannya. Gadis yang ia kejar kini mungkin saja ada dibalik satu pintu toilet yang tertutup itu. Bina akan menunggunya. Ia harus... mungkin meminta maaf pada gadis didalam toilet itu. Bina merapikan dirinya sedikit, menunggu.


Tak lama pintu salah satu bilik toilet terbuka, menampakan gadis yang sendari tadi Bina tunggu. Gadis itu diam ditempatnya, menatap Bina melalui cermin. Aduan tatapan itu tak berlangsung lama, karena gadis dengan balutan seragam SMA persis seperti Bina itu berbalik hendak pergi dari sana.


Sebelum itu Bina memanggilnya.


“Sila.” Ucap Bina cepat.


Namun gadis itu berjalan seolah tak mendengar panggilan Bina. Melihat itu Bina buru-buru mecekal lengannya, menariknya masuk kembali ke dalam toilet.


“Aku... minta maaf.” Bina berucap pelan.


Ucapan Bina membuat suasana pagi yang masih sepi ini begitu hening. Bina diam, menunggu gadis dihadapannya bersuara. Sedang Sila, gadis itu entah memikirkan apa.


“Buat apa?” Sila berucap lirih, hampir tak terdengar oleh Bina, namun ia masih bisa mencernanya.


“Aku...” Bina bingung, ia juga tak tau harus meminta maaf untuk apa.


Sila mencoba melepaskan cekalan Bina pada lengannya. Namun kekuatan Bina lebih besar dari pada dirinya. Membuatnya masih dalam posisi yang sama.


“Kamu.. suka kak Wahyu?” Bina bertanya, nadanya sangat pelan.


Mendengar pertanyaan Bina, gadis yang tadi masih berusaha melepaskan dirinya dari Bina, sekuat mungkin, kini terdiam ditempatnya. Entah apa yang dipikirkannya. Namun tak lama, gadis itu menunduk, kembali berusaha melepaskan dirinya dari Bina. Ekspresinya berubah, murung.


Bina tak melonggarkan sedikitpun cekalannya. Ia harus menyelesaikan masalahnya dengan gadis dihadapannya ini. Ia diam bersabar menunggu sebuah jawaban dari Sila.


“Sila..”


“Kamu suka kak Wahyu?” Ucapan Bina terpotong dengan cepatnya pertanyaan Sila. Gadis itu tak menjawab pertanyaan Bina, namun melemparkan pertanyaan serupa pada gadis yang kini ia tatap tepat dimata.


Reaksi Bina sama, sama dengan reaksi Sila ketika dilempar pertanyaan serupa. Ia diam membeku ditempatnya. Bina kembali memikirkan tentang perasaan anehnya. Apa itu perasaan jatuh cinta? Apa ia juga jatuh cinta pada Wahyu? Sama seperti Sila. Namun Bina sudah memikirkannya tempo hari, ia akan mengabaikan perasaan anehnya tanpa tau perasaan apa itu. Jika dirinya tau pun, bagaimana dengan Irgi? Ayahnya? Apa ia bisa menggelengkan kepala dihadapan sang ayah.


Irgi benar. Dirinya mungkin saja terlalu rumit, mungkin saja dirinya juga bisa menyakiti pemuda itu. Mungkin saja dirinya dan Irgi membuat keputusan yang mungkin menyakiti, mengecewakan, banyak hati. Sila juga akan sakit hati bukan, jika ia juga mengambil keputusan yang salah. Ia bisa saja mengecewakan dan menyakiti banyak manusia.


Bina terdiam cukup lama. Ia menunduk, menatap pada bersihnya lantai toilet sekolah. Ia sudah memikirkannya. Namun, kenapa sekarang dadanya seperti merasa tak nyaman. Kenapa rasanya ia tak bisa mengatakan tidak pada gadis dihadpannya.


“Kamu ada hubungan apa sama kak Wahyu? Pacaran?”


Pertanyaan Sila berhasil membuat Bina mendongakan kepalanya menatap gadis itu. Ia menggeleng cepat menjawab Sila. Ia tidak pacaran, ia tak mau pacaran. Ia juga tak mempunyai hubungan apa pun dengan pemuda itu. Hanya teman, pikiran Bina mengatakan dirinya dan Wahyu adalah teman. Hanya itu. Tidak lebih. Namun berbeda dengan dadanya yang kini seolah berontak ingin menyangkal jawaban dari sang pikiran.


“Nggak pacaran.... berarti kamu suka kak Wahyu?” Sila bertanya pelan, raut wajah gadis itu tak berubah, menatap Bina dengan raut sendu.

__ADS_1


Bina menatap Sila. Ia mengatur nafasnya, meredakan rasa tak enak pada dadanya yang seolah tertekan. Menahan sesuatu yang mungkin saja akan lepas jika pikiran Bina tak kuat menahan. Ia sudah pikirkan, ia yakin dirinya dan Wahyu hanya teman. Membuang jauh perasaannya yang entah apa itu, pada pemuda itu. Ia menarik nafas dalam. Kemudian menggeleng, dengan mata yang tak lepas menatap Sila.


“Maaf..” Bina berucap lirih. “Maaf kalo kamu nggak suka aku deket kak Wahyu.” Lanjutnya.


Sila melepaskan lengannya dari Bina ketika dirasa cekalannya mengendur. Ia memalingkan wajahnya kearah salah satu pintu toilet, tak mau menatap Bina. Tak bisa dirinya menatap Bina yang kini lekat menatapnya.


Sila bergumam. Ia juga bingung dengan perasaannya. Ia tak mau marah dengan Bina. Namun perasaannya pada Wahyu seakan marah besar pada gadis dihadapannya ini. Mungkin saja dirinya terlalu mengikuti ego yang muncul, atau ego yang hanya ia buat sendiri. Ia juga tak mengerti dengan dirinya sendiri.


“Aku minta maaf.” Sila berucap pelan, menunduk.


Bina menegapkan tubuhnya, mendengar kalimat itu. Ia hanya mengangguk. Kembali lagi ia adalah orang yang tak pandai merespon ekspresi seseorang. Jadi ia hanya diam ditempatnya, menuduk entah melihat apa. Menunggu gadis dihadapnnya ini untuk kembali mengeluarkan suara.


Tak tahan dengan keadaan hening ini Bina mengambil nafas dalam. Kenapa masalah sepele ini bisa menjadi seperti ini.


“Aku...”


“Kamu boleh deket kak Wahyu kok, kalo latihan basket.” Lagi-lagi Sila berucap cepat, memotong ucapan Bina.


“Eh, tapi kan..”


“Nggak papa. Latihan basket. Em.. nggak papa.” Sila berucap terbata, bingung menggaruk tengkuknya.


Lama mereka hanya diam ditempat masing-masing. Saling menggaruk tengguk untuk berfikir akan mengelurkan kalimat apa lagi. Bina rasanya sudah kehabisan topik untuk dibahas. Hingga.


“Astagfillahalazim.”


Bina mengusap dadanya, menenangkan bagian tubuh yang kini berdetak cepat didalamnya. Ia menatap pada gadis yang sangat ia kenal, teman sekelasnya, yang kini juga melakukan hal yang sama dengan dirinya.


“Apasih Ra?” Sila bertanya jengkel, setelah berhasil menenangkan dirinya.


Gadis yang dimaksud itu tersenyum tipis kemudian perlahan senyum itu berubah menjadi senyum lebar menampakan gigi. Tidak seram, karena gadis itu juga sembari menampilkan wajah bodohnya pada kedua gadis dihadapannya. Menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Mengucap maaf walau tak bersuara.


“Ck, ngagetin.” Bina berdecak jengkel.


“Lagian, lo main lempar-lempar aja tas lo, sampe tuh para manusia-manusia minta keadilan katanya.” Rara berucap memaju-majukan bibirnya kesal.


Mendengar itu, kini gantian Bina yang menggaruk belakang kepalanya. Tersenyum lebar, menangkupkan telapak tangannya dihadapan gadis itu.


“Ya maap,” ucapnya. “Lagian keadilan apa sih? Emang mereka cocok dikasih keadilan?” lanjutnya.


“Palingan juga keadilan minta diskonan kas.” Sila berucap.


Bina mengangguk setuju dengan omongan Sila. “Iya ya.”


“Balik kelas yuk Bin.” Sila berucap, entah sadar atau tidak ia menggandeng lengan Bina.


Bina sempat kaget dengan tindakan gadis disampingnya, namun ia abaikan. Mereka sudah meminta maaf, berarti mereka juga sudah baikan kan?

__ADS_1


Rara melihat itu menahan senyumnya. Ia juga sempat memikirkan pertemanan antara kedua manusia dihadapannya ini. Suasana kelas akan berbeda jika salah satu dari mereka ada yang saling bertengkar bukan? Walau bagaimanapun, mereka sudah seperti keluarga, dan akan menjadi keluarga.


“Bentar, upacara nggak Ra?” Bina bertanya sebelum ditarik melangkah keluar toilet, sebab ia tak membawa topi sekolah. Subuh tadi Bina bangun terlambat karena terlalu asik menonton drama koreanya yang hanya tinggal lima episode. Kepalang tanggung dan penasaran, jadi ia habiskan saja lima-limanya dalam satu malam.


Rara mengedikkan bahunya, tak tau. Gadis itu berjalan melewati Bina dan Sila, menuju cermin, memperbaiki dirinya yang sedikit berantakan akibat naik motor.


“Pelit informasi lo Ra,” celetuk Sila.


“Ck, ya emang gue nggak tau.” Rara berdecak jengkel.


Setelah merapikan dirinya di depan cermin. Rara berbalik, mendorong punggung kedua temannya, yang menghalangi jalan. Mengajak mereka berdua kembali ke kelas. Karena kedua orang yang ia dorong tak kunjung maju, ia pun mengerahkan tenaganya sekuat mungkin, hingga membuat kedua gadis itu terdorong cukup keras.


“Aduh.”


Sila terjatuh. Namun Bina selamat, karena kini tubuhnya menabrak benda kokoh yang suhunya mirip dengan suhu badannya. Bina masih memejamkan matanya, saat dua tangan mulai menepuk-nepuk pundaknya.


“Dek Bina.”


Panggilan itu berhasil membuat Bina membuka matanya. Saat matanya melihat tubuh seseorang dihadapannya, dengan buru-buru gadis itu berjalan mundur. Menatap kaget manusia dihadapannya.


“Nggak papa?” Wahyu bertanya pada gadis dengan raut kaget dihadapannya.


Bina dengan cepat mengedipkan mata. Kemudian ia menangkap sosok Sila, yang kini masih jatuh terduduk, menatap dirinya, dengan entah raut apa ia tak tau.


Melihat arah pandang Bina, Wahyu mengikutinya. Saat matanya menangkap seorang gadis yang terduduk, pemuda itu buru-buru memapah Sila untuk berdiri.


“Nggak papa kan dek? Ada yang sakit nggak?” pemuda itu melihat tubuh Sila, takut-takut ada bagian lecet pada gadis itu.


Sila hanya menggelang, rona merah pada pipinya yang pucat mulai tampak. Gadis itu menunduk malu, menahan senyumnya sebisa mungkin. Dadanya berdebar cepat, seakan dirinya ingin sekali masuk kedalam toilet dan mandi kembali untuk kedua kalinya pagi ini.


“Jangan dorong-dorong depan tangga dek bahaya.” Wahyu menatap pada Rara, yang kini hanya mengangguk tersenyum bersalah.


“Kaka duluan ya, cepet ke lapangan upacara sebentar lagi.” Ucap Wahyu hendak melangkah.


“Yah Ra gue nggak bawa topi...” Bina merengek pada Rara, memasang raut sedihnya. Ia tak mau berjejer di depan dan menjadi tontonan.


Langkah Wahyu terhenti mendengar Bina. Pemuda yang baru saja beberapa langkah menjauh itu kini kembali lagi. Melepas topinya, memberikannya pada Bina.


“Ambil Dek Bina, nanti pulang balikin ya.” Wahyu berucap setelahnya pemuda itu berlari pergi sebelum Bina merespon.


Bina hanya diam bingung ditempatnya. Memegang topi milik Wahyu yang ada ditangannya. Melihat kepergian Wahyu. Namun tak lama, tatapan Bina kini beralih pada Sila. Gadis itu menatap pada topi ditangannya.


Bina menyodorkan topi itu pada Sila. Namun dengan cepat Sila menggelang, menolaknya.


“Nanti aku pake topi kamu, kamu pake topi ini.” Bina berucap.


Setelah diam cukup lama akhirnya Sila menggeleng kembali. “Nggak papa,” ucapnya berjalan pergi.

__ADS_1


( *︾▽︾)


__ADS_2