Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 14


__ADS_3

(⓿_⓿)


"Halo eperiwan." Wahyu memasuki lapangan basket, menghampiri teman-temannya, mengangkat tangan bertos ria ala mereka.


"Ganti baju, kita pemanasan dulu ya," Wawan si kapten mengomando, setelah menyauti dan bertos ria dengan temannya.


Bina turun kelapangan Ketika para remaja berseragam basket sudah berkumpul dan melakukan pemanasan.


Sebenarnya Bina masih sedikit sungkan pada mereka, selain mereka kakak kelas Bina, mereka juga lebih tua, dan badan mereka lebih tinggi dari Bina. Gimana gitu rasanya mengajar orang yang dalam segi umur lebih tua dari kita. Dari informasi mereka juga, tak ada angkatan Bina yang tertarik dengan ekskul basket, mereka lebih memilih mengikuti ekskul bola, atau voli, tak heran juga karena kedua ekskul itu sudah beberapa kali membawa piala hasil perlombaan mereka, sedang basket hanya beberapa, bahkan tiga tahun terakhir tidak ada sama sekali.


Walau begitu mereka tetap semangat berlatih, mereka juga membuat Bina lebih santai dengan guyonan-guyonan mereka. Lawakan yang kadang membuat nya menahan tawa karena sungkan, sampai ditegur untuk tertawa saja jika ada yang lucu.


"Wan, tangkep." Seruan itu dapat Bina dengar dari sisi lapangan.


Bina membagi mereka dalam dua tim yang akan melawan satu sama lain. Kini mereka sedang latihan tanding, nanti Bina akan memberi waktu dan mereka akan bertukar anggota, entah satu atau dua anggota mereka yang akan ditukar dengan tim lawan. Ini melatih mereka agar nanti tidak terlalu bergantung pada satu orang, agar nanti ketika sesuatu terjadi dengan satu orang, semua nya masih bisa tanding tanpa merasa berat, karena semuanya tergantung pada orang tersebut.


"Three point."


Decitan dan derap sepatu yang beradu dengan lapangan menjadi alunan yang sudah biasa didengar. Bina memperhatikan dengan seksama, kadang dia meniup peluit untuk menunjuk orang-orang yang akan ia tukar. Diantara mereka juga sesekali Bina lihat ada yang praktekan hal-hal yang ia ajarkan, walau tak sama persis.


"Wah."


Peluit tanda berakhirnya pertandingan Bina tiup. Ia bertepuk tangan beberapa kali. Satu-persatu remaja-remaja itu berjalan ke sisi lapangan dengan pelan, ada juga yang langsung menjatuhkan dirinya terlentang diatas lapangan, karena kelelahan, untung lapangannya di dalam gedung.


"Makasih Dek," Wawan mengangkat tangannya ke arah Bina, yang ditanggapi dengan senyum oleh gadis itu. "Ges duluan ya, buru-buru." Wawan melenggang berlari keluar gedung setelah mendapat anggukan dari beberapa temannya, mungkin dia memang buru-buru.


"Dek Bina, pulang naik ojek online?" Wahyu menghampiri Bina, ia membuka tasnya.


"Iya Kak." Bina mengangguk, ia juga mengambil tasnya.


"Maaf ya, kakak nggak bisa anter, mau fotokopi tugas." Wahyu mengeluarkan botol minum dari dalam tasnya, meminumnya setelah berkata.


"Nggak papa Kak." Bina mengangguk sekali, 'orang biasanya juga naik ojek online, sok-sokan.' Walau begitu beberapa kali Wahyu pernah mengantarnya pulang.


"Maaf banget," Wahyu menangkupkan tangannya kedepan, memasang raut sedih. "Nanti kalau ada apa-apa hubungi aja yah, kalau udah sampe rumah kabari kakak, oke?" Wahyu mengacungkan jempolnya tersenyum.


Bina mengangguk, tersenyum canggung.


"Yuk Gi." Wahyu memasang raut cerah, memanggil temannya yang sendari tadi duduk diam, di belakang Bina.


"Yuk." Irgi bangkit dari duduknya sedikit melirik Bina.


"Yuk Dek Bina, jalan bareng sampe gerbang." Wahyu merangkul Bina.

__ADS_1


"Yu!" Irgi menepis tangan Wahyu, kala melihat raut wajah Bina yang kaget.


Wahyu kaget, menatap Irgi meminta maaf. Ia tau Irgi paling tidak suka saat teman-temannya sembarangan memperlakukan perempuan, apalagi itu bukan siapa-siapa mereka.


"Minta maaf!" Irgi menatap tajam kearah Wahyu.


"Dek Bina, maaf yah, reflek tadi." Ucapan Wahyu dibalas anggukan pelan Bina. "Yuk, bareng." Lanjutnya.


"Woy, Gi, Yu, bareng." Ucup berteriak, berlari ke arah ketiganya. "Fotokopi kan?" Tanyanya.


"Iya, udah sana lo, katanya janjian sama your lop." Wahyu mendorong bahu Ucup, hingga pemuda ceking itu sedikit oleng.


Ucup berdecak, balas mendorong Wahyu. "Jomblo, harap diam."


"Stay halal brother." Ucap Wahyu, melupakan tadi tangannya yang sempat merangkul Bina yang hanya sedetik itu.


"Baaacoooot." Ucap Ucup, tangannya membentuk pelangi seperti stiker spongebob yang sempat viral.


"Udah ayo." Geregetan dengan perdebatan unfaedah teman-temannya, Irgi mendorong punggung keduanya agar segera berjalan.


"Eh, gaes pamit." Wahyu berteriak dengan posisi Irgi yang mendorongnya, kepalanya menoleh kebelakang melihat teman basketnya yang tersisa, berpamitan.


Setelah mendapat sahutan, mereka berjalan meninggalkan gedung, dengan Bina yang mengekor di belakang mereka.


"Makasih," gumam Bina. Ia heran dengan pemuda itu, mereka sudah seperti orang yang tidak saling mengenal, walau memang mereka tidak saling mengenal. Namun tak bisa dipungkiri pemuda itu juga masih berbuat baik padanya, Bina kadang dibuat tidak enak olehnya. Kebaikan yang tak bisa Bina balas.


"Dek Bina, ojeknya udah dateng?" Wahyu berbalik menoleh ke arah Bina.


"Ehmmm." Bina bingung, menggaruk belakang lehernya pelan, yang pesan ojek juga bukan dia.


"Udah didepan, itu kayaknya." Irgi menyahut, tangannya terarah pada gerbang sekolah yang terbuka menunjuk pada pria berseragam ojek yang duduk diatas motornya.


"Ooh iya itu Kak," ucap Bina.


"Gue duluan ya," Ucup yang sedari tadi diam mendengarkan, menepuk punggung kedua temannya, mulai menaiki motor.


"Hati-hati Cup." Irgi brucap pelan.


Ucup mengangguk membalas Irgi, tersenyum ke arah Bina berpamitan. Ia menepuk punggung Wahyu sekilas yang ditanggapi dengan anggukan kepala. "Yuk duluan."


"Aku juga duluan ya, Kak." Bina berucap ketika melihat Ucup mulai pergi.


"Yaudah hati-hati ya, Dek Bina." Wahyu melambaikan tangannya ke arah Bina.

__ADS_1


"Iya Kak," Bina mengangguk tersenyum kecil.


"Kalau ada apa-apa, telpon kakak." Wahyu membuat tangannya seperti telepon yang ia dekatkan pada telinganya, mengulang ucapannya di lapangan tadi.


"Hati-hati." Wahyu berucap sekali lagi, tersenyum ke arah Bina yang mulai berjalan meninggalkannya, setelah berpamitan.


"Kamu suka Bina, Yu?" Irgi bertanya ketika melihat Bina sudah hilang di telan jarak.


Wahyu menoleh ke arah temannya. Pemuda yang kini menatapnya itu menampakkan raut datar. "Kenapa?" tanyanya.


"Tanya aja." Irgi berbalik, menghampiri motornya.


Melihat itu Wahyu mengerutkan dahinya. "Kalo gue suka, lo mau bantuin nggak?" Wahyu berjalan menyusul Irgi.


"Bener?" Irgi menoleh setelah menyalakan motornya untuk dipanasi.


"Apanya?" Wahyu mengernyitkan dahi.


"Suka Bina." Irgi berucap menatap Wahyu tanpa ekspresi. Sedikit membuat Wahyu terkejut, namun kembali menetralkan ekspresinya kembali, dengan mengalihkan pandangannya.


Wahyu terdiam sejenak, kemudian mengangguk tersenyum menunduk malu, ia menggaruk tengkuk lehernya, membuat Irgi menatapnya tak bersuara.


"Udah ayo, saya ada janji abis ini." Ucap Irgi, mengalihkan tatapannya.


"Mau bantuin nggak Gi?" Wahyu kembali bertanya, menaiki motornya.


Irgi mengangkat bahunya tanda tak tau. "Beneran suka apa nggak? Saya nggak mau bantu kalo kamu cuma mau main-main." Irgi membelokkan motornya ke luar parkiran.


"Hmm," Wahyu bergumam, ia tau Irgi tak akan mengijinkannya memacari seseorang untuk disakiti. Ia juga tak yakin dengan perasaannya.


"Kalo kamu nggak yakin, nggak usah."


"Gue nggak terlalu yakin sih, tapi gue yakin nggak bakal nyakitin dia." Wahyu mengikuti Irgi.


"Kalo bukan kamu yang nyakitin dia, bisa aja dia yang nyakitin kamu." Irgi menatap Wahyu.


"Masa? Lo pikir dek Bina bakal atau berpotensi nyakitin gue gitu?" Wahyu mendongak berfikir.


"Bisa aja, dia juga manusia Yu. Nggak mesti dianya yang nyakitin kamu, tapi mungkin keadaan yang ngebuat di bisa aja nyakitin kamu." Ucap Irgi. Wahyu mengangguk-anggukan kepalanya, ia suka ketika harus membicarakan hal serius dengan Irgi.


Irgi mengambil nafas panjang. "Sama satu hal lagi, apapun yang terjadi nanti, saya takut kamu membenci. Saya takut mungkin akan ada hal yang membuat kamu membenci dia atau.... sa.. orang lain." Irgi menghela nafas. "Saya takut kamu kecewa."


"Yuk," Irgi menjalankan motornya, meninggalkan Wahyu yang masih belum sepenuhnya mencerna ucapannya.

__ADS_1


Jujur saja ia takut Wahyu akan membencinya dengan keputusan yang akan ia ambil nanti dengan Bina. Ia takut Wahyu akan kecewa dengan dirinya, bukan tak mau mencertakan apa yang ia alami. Namun, biarlah ini menjadi urusannya dengan Bina, biar ini menjadi tanggung jawabnya dengan Bina. Cukup Pita, jangan juga Wahyu, itu akan menjadi semakin sulit untuk dirinya.


__ADS_2