
◑﹏◐
Mata sembab Bina bersitatap dengan mata yang kini menyipit karena bibirnya yang tersenyum ceria. Senyum itu tak ia balas, ia hanya menatap matanya, tak mengeluarkan suara atau hanya menyahuti panggilan pemuda si pemilik mata. Mata itu terlihat bahagia, tak punya beban yang berlebihan seperti yang Bina rasakan. Ingin sekali rasanya Bina memilikinya.
Namun tak lama, senyum itu surut entah kemana. Tak terlihat, lenyap begitu saja. Padahal ia ingin melihatnya untuk waktu yang lama. Mungkin walau tak memiliki, bisa melihat dengan lama, sudah sedikit memberikannya obat walau tak kasat mata. Namun senyum itu tak berlangsung lama, setelah Bina melihatnya.
“Mau makan es krim?” Pertanyaan itu terlontar dari pemuda yang baru saja melunturkan senyum cerianya, berganti dengan senyum lembut yang tipis.
Wahyu tak tau apa yang terjadi dengan gadis di hadapannya ini. Mata sembab dengan bekas air mata yang masih jelas terlihat. Tatapan yang menatapnya juga kosong. Terlihat sangat kacau. Namun ia tak mau menanyakannya langsung, lebih baik ia menenangkan Bina terlebih dahulu.
Bina masih menatap Wahyu, tanpa berucap. Diam ditempatnya tak bergerak sedikit pun. Hal itu membuat Wahyu mematika mesin motornya, berjalan menghampiri Bina. Wahyu hendak pulang dari acara kumpul dengan temannya, tanpa sengaja melihat Bina berjalan seorang diri dipinggir jalan. Entah untuk apa, namun Wahyu tau Bina tak memiliki jadwal eskul apapun hari ini.
Wahyu meraih tangan Bina yang tergantung bebas begitu saja. “Mau makan es krim?” Ia berucap lembut, terseyum, menunduk menatap Bina, yang juga menatapnya.
“Es krim bisa mengurangi kesedihan loh, yuk.” Wahyu mengusap pipi Bina. Tak mendapat respon, ia menarik pelan tangan Bina, membawanya menuju motor. “Ayo naik.” Ucapnya semangat, ketika sudah menaiki motor, menunggu Bina menduduki boncengannya. “Abis makan es krim, nanti kakak anter pulang.”
Bina mendudukan dirinya di belakang Wahyu, tanpa suara. “Udah?” Wahyu bertanya, dirasa Bina mengangguk, ia melajukan motornya menuju tujuan.
...
Wahyu berjalan keluar dari dalam minimarket, tangannya membawa dua buah es krim stik rasa coklat. Ia mendudukan dirinya pada salah satu kursi depan mini market, disamping gadis yang sendari tadi hanya diam.
“Nih, rasa coklat.” Wahyu memberikan salah satu es krim ditangannya pada gadis itu. Membuka es krim nya sendiri, memakannya.
“Makasih.” Hanya kata itu yang Bina katakan sejauh ini. Bina juga mengikuti Wahyu membuka es krimnya, memakannya perlahan. Mereka berdua menikmati es krim dalam diam.
Tak lama es krim ditangan Wahyu telah tandas di makannya. Sendari tadi mereka diam tak ada yang membuka pembicaraan, Wahyu sendiri membiarkan Bina menikamti es krimnya. Memandang jalanan, dengan lalu-lalang kendaraan yang mendominan. Angin sore saat ini sejuk, tak seperti biasanya. Wahyu memejamkan matanya menikamati sapuan angin lembut yang menerpa wajahnya, di kursi depan minimarket tempat mereka duduk sekarang.
“Makasih kak.”
__ADS_1
Suara itu membuat Wahyu membuka matanya, menolah pada gadis disampingnya. Mata gadis itu masih memarah, namun kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya, ia rasa.
“Sama-sama.” Wahyu tersenyum ceria menatap Bina, melayangkan tangannya mengusap kepala Bina.
Bina yang diperlakukan begitu menundukkan kepalanya, malu. Menahan bibirnya yang berkedut mati-matian agar tak tersenyum. Perasaan ini lagi. Bina tak mengerti, ia merasa dirinya sekarang begitu senang, perasaan ini membuatnya melupakan sejenak kejadian beberapa saat lalu. Namun tak lama Bina mengingat Sila, gadis itu, gadis yang beberapa saat lalu berteriak padanya berkata bahwa dirinya menyukai Wahyu, dan ia tak suka Bina
dekat dengan pemuda itu. Sesaat Bina terdiam, kemudian dengan buru-buru, ia mendongak menepis dengan pelan tangan Wahyu.
“Maaf,” Wahyu berucap akan respon Bina. Ia sempat melihat bibir Bina yang berkedut menahan senyum, ia pikir Bina suka dengan perlakuannya.
Hening. Mereka berdua sama-sama memandang jalanan, tanpa berniat mengeluarkan suara. Mereka berdua terus bertengkar dengan pikiran mereka masing-masing. Mengingat Pita, Bina mulai kembali berfikir.
Sedang Wahyu, mengingat perkataan Irgi tempo hari lalu, membuat Wahyu sering kali berusaha memastikan perasaannya pada Bina. Pemuda itu benar, jika ia sendiri tak yakin dengan perasaannya, bisa saja ia akan menyakiti Bina. Mungkin saja, dirinya hanya kagum akan sosok Bina yang menjadi idolanya dulu, sosok Bina yang bermain basket, bukan sosok Bina yang kini duduk dengannya. Maka itu, ia berusaha untuk memastikan perasaannya.
“Udah lebih baik.” Wahyu bertanya, menolah pada Bina. Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Dek Bina,” Wahyu memanggil, membuat mau tak mau Bina menoleh padanya. “Kakak nggak tau apa masalah yang dek Bina alami, tapi semua manusia itu pasti punya masalah.” Ia berucap tersenyum lembut menatap Bina.
“Dan kakak yakin dek Bina bisa lewatinnya. Tuhan, nggak mungkin kasih kita cobaan kalau kita sendiri nggak bisa jalaninnya. Jadi setiap masalah pasti kita bisa jalanin, asal berusaha, karena Tuhan nggak mungkin kasih kita kesulitan kalo kita sendiri nggak bisa selesainnya.” Wahyu masih tersenyum lembut, beradu pandang pada Bina yang hanya diam mendengarkan.
“Kalo dek Bina nggak bisa selesain masalah sendiri, dek Bina bisa bagi keorang lain. Contohnya orang tua, sahabat, atau.... kakak juga boleh. Walau tidak bisa membantu dalam menyelesiakna masalah, setidaknya itu bisa mengurangi bebannya.” Pemuda itu tersenyum menampakan giginya.
Wahyu menghela nafas. “Kalo dek Bina belum bisa ceritain, nggak papa, dek Bina bisa bersandar sebentar kalo mau. Manusia bisa lelah, bisa lemah, bisa menangis, dan menurut kakak, manusia tetep butuh sandara. Kalo semisal nggak ada manusia yang mau dijadiin sandaran kita masih punya Tuhan, untuk bersandar. Dan dek Bina bisa bersandar di kakak, kakak siap jadi sandaran dek Bina kapanpun.” Wahyu meletakan tangannya dengan perlahan dikepala Bina, mengusapnya lembut.
“Dek Bina kuat, kakak yakin.” Lanjutnya dengan senyum lembut.
Pandangan Bina memburam, tak lama ia merasakan pipinya yang tadi sempat kering, kini mulai basah kembali. Jujur saja, Bina tak pernah mendengar kaliamat-kalimat yang diucapkan Wahyu dari siapapun, ini pertama kalinya ia mendengarnya. Selama ini, ia tak pernah menceritakan apapun pada siapapun, termasuk orang tuanya. Ia hanya menangis sendiri, dikamar. Menyembunyikannya dari siapapun.
Hari ini juga sama. Ia menangis sendiri, tak menceritakannya pada siapapun, namun entah kenapa pundaknya terasa sedikit lebih ringan dari sebelumnya. Hanya karena kalimat-kalimat yang terucap dari bibir pemuda disampingnya. Bahu Bina bergetar, ia menutup wajahnya mengunakan telapak tangannya. Sudah berapa kali ia menangis semenjak ia menganggukan kepala saat sang ayah memintanya menikah dengan anak temannya. Sudah berapa kali?
__ADS_1
Bina seakan ingin runtuh rasanya. Mungkin ia memang secengeng itu, mungkin memang ia manja, jadi dirinya mengahadapi cobaan segitu saja sudah menangis tergugu begini, bagaimana dengan kedepannya. Dunia memang terlalu menakutkan, jauh berbeda dengan fatamorgana yang ia cipta dalam kepala.
Tak lama badan Bina terasa hangat. Dua tangan merengkuh tubuhnya. Mendekapanya seolah akan melindunginya dari dunia. Punggungnya diusap perlahan, mungkin mau menidurkan Bina dari dunia agar ia tak melihatnya. Bina semakin tergugu dalam pelukan.
Wahyu meletakan dagunya dipuncak kepala Bina. Terus mengusap punggung gadis itu yang semakin bergetar didalam peluknya. Rasanya Wahyu, seperti menyelam dalam masalah Bina, namun ia buta tak bisa melihat apapun disana. Ia tak tau kenapa gadis itu menangis. Namun rasanya ia bisa merasakan begaimana beratnya pundak Bina.
Cukup lama, mereka berpelukan, lebih tepatnya Wahyu memeluk Bina. Wahyu mulai meregangkan dekapannya, setelah dirasa sang gadis sudah lebih tenang dari sebelumnya. Pemuda itu menangkup pipi Bina dengan kedua telapak tangannya. Menghapus setiap lelehan air mata disana.
“Mau makan es krim lagi?” Ucap Wanyu tersenyum ceria, menatap mata merah dihadapannya.
Bina menggelang. “Makasih.” Ucapnya.
Wahyu berdiri dari duduknya, “Kakak anter pulang tapi tunggu disini sebentar.” Kemudian ia melenggang pergi, masuk kedalam minimarket kembali.
Bina hanya melihatnya. Ia membersihkan sisa-sisa air matanya. Mengatur nafasnya, yang masih sesegukan. Menundukan kepalanya, menunggu Wahyu. Sore ini mini market tak terlalu ramai, karena orang-orang mungkin sudah berada dirumah mereka masing-masing mengingat matahari juga akan tenggelam dalam hitungan menit.
Tak lama Wahyu keluar, ditangannya terdapat keresek bergambar logo minimarket berukuran sedang.
“Nih, es krim buat dirumah.” Pemuda itu menyerahkannya pada Bina. Bina sempat menggeleng menolak, namun pemuda itu memaksanya.
“Udah ambil aja, buat dek Bina. Yuk pulang, nanti keburu maghrib.” Wahyu menggulurkan tangannya kearah Bina.
Bina melihat itu langsung berdiri, dari duduknya, tanpa menyentuh tangan Wahyu, membuat pemuda itu menurunkan tangannya, menggaruk bagian belakang kepalanya entah kenapa.
“Yuk naik.” Wahyu berucap, ketika ia sudah duduk diatas motor.
Bina mengikutinya, “makasih ya kak.” Ucapnya lirih.
(┬┬﹏┬┬)
__ADS_1