Bercerita Tentang Kita

Bercerita Tentang Kita
part 34


__ADS_3

(´▽`ʃ♡ƪ)


Bangkar yang membawa Bina sudah masuk ruang pemeriksaan sepuluh menit yang lalu. Irgi duduk pada kursi tunggu. Perasaannya masih sama, bahkan rasa khawatir itu kini meningkat, karena dokter belum juga keluar dari sana setelah sekian lama. Lengannya bertumpu pada lutut, saling mengepal, menunduk merapalkan doa yang tak pernah putus sendiri di ambulan tadi.


Bayangan-bayangan buruk terus berputar di kepalanya, yang terus berusaha pula ia singkirkan. Tak ada kata yang terucap dari bibirnya. Tak ada hal lain di pikirannya selai Bina dan Bina. Rapalan doanya saat ini hanya tentang Bina dan Bina. Sungguh Irgi sudah tak memikirkan apapun lagi selain gadis itu.


Tak jauh berbeda dengan Sila. Gadis itu duduk di kursi tunggu bersisian dengan dokter UKS, berlawanan dengan Irgi dan Wahyu. Menunduk menatap tautan tangannya di atas pangkuan, sesekali menghapus air matanya yang kemungkinan sudah akan habis. Doa juga turut ia panjatkan dalam hatinya.


Berbeda dengan Wahyu. Pemuda itu menatap penuh tanya pada teman di sampingnya. Irgi terlihat begitu cemas, lebih terlihat cemas daripada ketika tau tentang penyakit Pita. Dahinya menyerngit melihat itu. Sejak di mobil tadi, sejak dirinya melihat telapak tangan Irgi yang menggenggam tangan Bina, raut cemas itu tak pudar dari wajahnya. Menimbulkan banyak pertanyaan dalam kepalanya. Namun tak dipungkiri juga, rasa khawatirnya terhadap Bina lebih besar dari rasa penasarannya.


Kerutan di dahi Wahyu seketika menghilang saat melihat Irgi tiba-tiba bangkit dari duduknya. Pemuda itu terlihat mengeluarkan ponselnya, menekan-nekan benda itu kemudian menempelkannya pada telinga. Hal itu tak lepas dari tatapan Wahyu.


Irgi menekan ponsel pada telinganya, berdoa agar orang yang ia telepon segera mengangkat panggilannya. Bunyi dering pada ponselnya terdengar, hingga suara di seberang sana menyambutnya dengan sapaan.


‘Hallo.’


Irgi membuka mulutnya, hendak mengeluarkan suara. Namun tatapannya dengan Wahyu yang kini masih menatapnya, bertemu. Mereka saling menatap satu sama lain cukup lama. Irgi seakan tau apa yang ada dalam pikiran Wahyu. Pemuda itu memilih beranjak dari tempatnya, pergi menjauh.


“Halo.” Irgi menyapa setelah mendapat tempat yang cukup jauh dari tempat pemeriksaan Bina.


‘Halo kenapa nelpon? Udah jawabnya lama.’ Seseorang berdecak di seberang sana.


“Pa.” Irgi ragu untuk menyampaikan hal ini pada papanya.


‘Apa?’ Andi bertanya.


Irgi mendongak, menatap pada langit-langit rumah sakit. Pikirannya tentang Bina kini bercabang pada Pita dan juga.... Wahyu. Karena kekhawatirannya, ia tanpa sadar bersikap tidak biasa dengan Bina, dan tentu saja itu menimbulkan tanya dari Wahyu. Irgi tidak bodoh, ia bisa melihat bagaimana tatapan Wahyu padanya. Ia takut membuat pemuda itu kecewa, sungguh.


‘Apa Irgi?’ Andi kembali bertanya ketika lama tak mendapat sautan dari putranya.


Irgi mengambil nafas dalam. Dengan gugup ia berkata, “Bina masuk rumah sakit Pa.”


‘Kenapa? Dimana? Papa sama mama kesana sekarang.’ Andi terlihat kaget dengan ucapan terburu di sana.


“Rumah sakit Mitra. Tapi Papa jangan kesini dulu, ada teman Wahyu dan Bina disini.” Irgi berucap kalem.


Andi terdiam cukup lama. ‘Oke, kabari papa nanti. Tapi Bina gimana?’ Andi berucap, mengerti bahwa anaknya kini belum mau memberitahu banyak orang tentang dirinya dan Bina.


“Dokter belum keluar, Pa.”


Andi terdengar menarik nafasnya, saat mendengar nada lemah dari Irgi. ‘Kabari secepatnya,’ ucapannya.


Mereka berdua hening. Terdengar suara grasak-grusuk dari Andi di seberang sana. Irgi ingin mengabari Kardi, namun nyalinya terlalu kecil untuk menghubungi pria itu. Hingga ia hanya berani mengabari ayahnya sendiri.


“Irgi tutup ya, Pa.”

__ADS_1


‘Oke, jangan lupa banyak berdoa. Papa tunggu kabarnya secepat mungkin. Papa mau kabari Kardi dulu.’


Irgi menutup panggilannya setelah mendapat balasan salam dari sang ayah. Pemuda itu bersandar pada tembok putih rumah sakit. Kembali lagi, tatapan Kardi terbayang di kepalanya. Tatapan penuh harapan yang begitu berat Irgi jalani. Dia merasa tidak sanggup akan beban besar itu. Dirinya seakan begitu lemah. Pita... ia sangat mencintai gadis itu, tapi bagaimana ia memperjuangkannya. Irgi menunduk menghapus air matanya yang jatuh entah kenapa.


“Irgi.”


Irgi mendongak menatap pada mata bulat yang jernih, salah satu hal yang ia suka dari seseorang di hadapannya.


“Kamu kenapa?” Gadis itu memegang bahu Irgi, menatap pada kekasihnya yang terlihat kacau sekarang.


Irgi tak berucap, ia terus memandangi Pita. Gadis itu begitu cantik, walau dengan bibir pucat keringnya. Pemuda itu melangkah maju, menabrakan dirinya pada sang kekasih. Kepalanya ia letakkan pada bahu gadis itu, dengan tangan menggapai pinggangnya.


Pita tentu kaget dengan perlakuan Irgi. Namun tak lama gadis itu menyambut Irgi dalam pelukannya, mengusap punggung kekasihnya dengan perlahan.


Irgi mengeratkan pelukannya. Sungguh ia sangat mencintai gadis ini, sungguh. Mata Irgi pemanasan dalam pelukan, dirinya seakan ingin menangis untuk semua hal yang beberapa bulan ini begitu berat ia jalani.


“Kamu kenapa disini? Gak sekolah? Kamu gapapa kan?” Pita bertanya, tangannya masih setia mengusap punggung Irgi.


“Saya gak papa.” Irgi menggeleng di bahu Pita, berucap pelan.


“Terus kenapa disini?” Pita bertanya kembali.


Irgi diam sejenak. Pikirannya kini kembali tentang Bina. Apa dokter sudah keluar? Apa Bina baik-baik saja.


“Gak papa, teman saya ada yang sakit.” Ucapnya pelan.


“Siapa?” Sila kaget, khawatir takut orang itu mungkin teman Irgi yang dekat dengannya.


“Kamu nggak kenal.” Ucap Irgi beralasan.


“Terus gimana?”


“Udah nggak papa.” Irgi berdoa semoga memang Bina baik-baik saja. “Kamu..... gimana?” Irgi melepas pelukannya dengan Pita, menatap gadis itu tepat pada matanya. Menggenggam kedua tangannya erat. Pasalnya Pita mengabari dirinya tidak masuk sekolah hari ini karena jadwal kontrolnya.


“Aku gapapa.” Pita tersenyum lembut menatap Irgi. Dirinya tidak mungkin membuat kekasihnya terlalu banyak pikiran.


“Saya...”


“Aku...” Pita memotong kalimat Irgi dengan cepat. “Aku gapapa, aku sehat. Doain ya.” Senyum itu tak luntur menatap Irgi.


Irgi ikut tersenyum tipis. Semoga memang begitu. Semoga gadis di hadapannya ini memang benar-benar baik-baik saja. Irgi ingin sekali menjaganya untuk waktu yang lama. Ingin sekali. Dulu memang harapan terbesarnya selain membahagiakan orang tuanya, Irgi ingin menjaga Pita untuk seumur hidupnya. Namun sekarang dirinya seakan ragu dengan harapannya yang satu itu.


“Aku pulang ya.” Pita melepas tautan tangan mereka di bawah sana dengan perlahan. Berjalan menjauh dari kekasihnya, setelah mendapat anggukan.


Irgi menatap punggung Pita yang menjauh. Apa ia bisa bersama Pita? Apa dirinya bisa menolak Kardi? Apa dengan Bina menolak, dirinya bisa bebas dengan hal ini? Pikirnya dulu memang begitu. Dengan Bina menolak pasti semua beres. Namun, bagaimana dengan papanya. Kardi. Orang tuanya, Bina, Wahyu. Dulu dirinya dengan gampang mengatakan pada Bina tidak akan mengecewakan banyak hati. Namun sekarang dirinya ragu.

__ADS_1


Jika dirinya memilih Pita. Apa papanya tak akan marah? Apa ayah Bina tak akan kecewa? Namun jika dirinya bersama Bina. Apa Pita dan Wahyu tidak apa-apa?


Irgi bingung, kepalanya seakan ingin meledak sekarang.


“Gi.”


Irgi menoleh, pada dua sosok yang kini berjalan perlahan menuju dirinya.


“Ngapain?” Wahyu, pemuda itu bertanya, setelah sampai di hadapan Irgi. Menatap Irgi yang terlihat begitu kacau keadaanya.


Irgi menggeleng. “Gapapa.” Pemuda itu menampilkan ekspresi senormal mungkin menjawab pertanyaan Wahyu.


Wahyu hanya mengangguk. Dirinya memang penasaran akan Irgi. Namun, dirinya ragu untuk bertanya di saat kondisi seperti ini.


“Bina gimana?” Irgi bertanya penasaran, rasa khawatirnya kembali lagi.


“Udah gapapa. Udah masuk ruang inap kok.” Wahyu menjelaskan dengan perlahan. Dirinya berbicara seperti bukan dengan Irgi yang biasanya. Seakan ada sekat diantara mereka sekarang.


Irgi menghela nafas lega mendengarnya. Pemuda itu mengangguk anggukan kepalanya. Rasa cemasnya sekarang sedikit berkurang, walau masih ada karena dirinya belum melihat langsung bagaimana kondisi Bina.


“Bina kenapa?” Tanya Irgi.


“Dokter bilang alergi berat, tapi untung kita bawa Dek Bina secepatnya kesini, jadi semuanya gapapa.” Wahyu berucap bersyukur ketika dokter mengatakan hal itu padanya tadi.


Irgi lagi-lagi mengangguk. “Bina abis makan apa, Dek?” Irgi bertanya pelan pada gadis disamping Wahyu.


“Makanan dari Dani, Kak. Tapi aku gak tau namanya apa.” Sila juga menjawab pelan.


Irgi menghela nafas, mencoba mengingat mungkin saja Bina mengatakan suatu hal soal alergi padanya. “Udang?” Irgi bergumam kecil, hampir tak terdengar.


Wahyu menyerngitkan dahinya saat mendengar gumaman Irgi. Kecil, namun ia masih dapat mendengarnya. Bagaimana pemuda itu bisa tau Bina alergi udang. Padahal dokter sendiri tak tau Bina mengalami alergi karena apa. Hal itu semakin membuat Wahyu berfikir dalam kepalanya.


Setelah tak lagi ada yang bersuara Wahyu berkata. “Kita pulang Gi. Dokter Susi udah kabari orang tuanya Dek Bina kok.” Wahyu merangkul Irgi, berusaha mengembalikan suasana.


Tak lama, Irgi melepaskan rangkulan Wahyu pada bahunya. Pemuda itu menatap Wahyu dan juga Sila bergantian. “Kalian duluan aja. Saya mau makan dulu di kantin.” Ucap Irgi, tanpa persetujuan dari kedua manusia di hadapannya Irgi melenggang pergi menuju kantin rumah sakit.


Wahyu menatap Irgi yang melangkah dengan cepat meninggalkannya. Ada sesuatu yang Irgi bangun antara dirinya dan juga Irgi. Seakan ada sekat yang tak Irgi ijinkan dirinya memasuki kawasan itu. Ada sesuatu hal yang Irgi sembunyikan dari dunia.


Wahyu menghela nafas. Mungkin bukan saat nya dirinya tahu tentang Irgi, tak semuanya ia harus tau dari pemuda itu. Irgi bisa menyembunyikan apapun darinya. Dan mungkin kalau sudah saatnya, Irgi akan memberitahunya tentang semua hal yang berusaha pemuda itu sembunyikan darinya. Seperti sebelum-sebelumnya.


Namun, semoga saja sesuatu yang ia pikirkan tidaklah benar adanya.


Wahyu menolah kebelakang. “Yuk Dek.” Mengajak teman Bina untuk pergi dari sana. Wahyu berjalan, dengan Sila yang berjalan mengekor di belakangnya.


( •̀ .̫ •́ )✧

__ADS_1


__ADS_2