
Lia naik ke mobil dokternya, dia tak perlu repot memesan taksi karena sang dokter berniat mampir ke rumahnya. "Bisakah, kita mampir sebentar di depan?" tanya Lia, dia sadar kalau dia jarang belanja dan tak ada bahan apa pun di rumahnya. Dia lebih sering memakan makanan instan akhir-akhir ini, makanya dia meminta mampir ke swalayan di depan.
"Ada yang ingin anda beli?" tanya si dokter basa-basi, padahal mobilnya sudah berhenti di depan swalayan yang ditunjuk Lia tadi. Lia hanya mengangguk sebagai jawaban. "Mau saya temani?" tanya si dokter lagi.
"Tak apa, saya hanya sebentar, jadi saya bisa sendiri, dok."
"Baiklah, ini di luar jadi jangan panggil saya dokter. Panggil saja kakak, paman, om, atau apa pun senyaman anda!" Lia mengangguk paham. Gadis itu berlari kecil ke dalam swalayan, berbelanja beberapa saat dan langsung kembali secepat yang dia bisa.
"Maaf membuat o–o–om, menunggu," kata Lia canggung, dia juga merasa tak enak telah membuat dokternya menunggu.
"Tak masalah, kita langsung ke tempat kamu sekarang? Atau mau mampir kemana lagi?" tanya si dokter ramah.
"Langsung pulang," balas Lia pelan.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
__ADS_1
Pintu rumah Lia terbuka lebar. "Silakan masuk, om," ucap Lia sopan.
"Aku pulang," ucap Lia pada udara kosong seperti biasa.
"Selamat datang," balas si dokter dari belakang Lia.
"Eh, apa saya harus mengucapkan 'Permisi', ya?" lanjut si dokter menggaruk pipinya canggung, dia merasa sudah salah dalam berkata, tak seharusnya dirinya mengucapkan kata 'Selamat datang' seperti tadi.
"Tak apa, om bisa berkeliling sendiri, kan? Saya akan berganti baju dan menyiapkan makanan." Lia berlari kecil ke kamarnya sebelum dokternya sempat menanggapi ucapannya.
Dokter Putra tersenyum tipis melihat kelakuan polos pasiennya barusan. "Dasar bocah. Si dokter pun berkeliling dan mengamati lingkungan tempat tinggal pasiennya dengan cermat. Ini dilakukan untuk menganalisis, siapa tahu ada masalah yang membuat penyakit pasiennya semakin parah. Namun, tak ada didapatinya sesuatu yang penting seperti yang dikiranya.
"Wah, ternyata kamu cukup pandai mengurus urusan dapur, ya?" kata Dokter Putra bermaksud memuji.
Lia menggaruk pipinya canggung, dia jarang mendapatkan pujian dari orang lain selain dari keluarganya. "Te–te–terima kasih," balas Lia.
__ADS_1
"Santai saja, saya hanya datang untuk melihat bagaimana lingkungan tempat tinggal kamu, sebagai pasien saya. Anggap saja saya guru atau kenalan yang sesekali mampir untuk menyapa dan melihat keadaan kenalannya!"
"Baiklah," balas Lia pelan.
"Jadi, dimana coretan yang kamu ceritakan?" tanya si dokter setelah dia meminum minumannya.
Lia terlihat lebih bersemangat, dia merasa kalau dokternya memercayai dirinya tanpa syarat apa pun. "Di bingkai itu, dok. Mari saya tunjukkan!" katanya cepat.
"Jadi, saya harus berperan sebagai dokter sekarang? Bukan lagi kenalan?" tanya Dokter Putra seakan protes, tetapi dokter itu juga tetap beranjak dari duduknya dan mengikuti Lia.
"Hanya lebih terbiasa manggil 'Dokter' dari pada 'Om'!" aku Lia jujur.
"Hmm, keberatan kalau saya menginap di sini? Saya ingin tahu apa yang terjadi dan saya berjanji tak akan macam-macam!" meski tak ahli, Putra tahu kalau tulisan itu ditulis oleh dua orang yang berbeda.
"Sepertinya percuma, om dokter. Saya sudah memasang cctv, tapi tak ada yang tertangkap hingga saat ini."
__ADS_1
"Ada beberapa titik yang tak bisa dijangkau oleh kamera cctv, Lia. Dan, apa kamu tak ingin tahu siapa atau apa yang mengganggu kamu? Bukannya kamu merasa ada orang lain selain kamu tinggal di sini?" demi pengobatan, pak dokter satu ini mau melakukan apa saja untuk kenyamanan dan kesembuhan pasiennya.
Lia mengangguk mengiyakan, akhirnya diputuskan kalau Dokter Putra akan menginap malam ini. Dia bisa menggunakan kamar mending kakak Lia, Tony.