
Anak magang yang bernama Rina membuka dan menutup mulutnya saking terkejutnya dirinya. Setahunya, dokter di depannya ini jomblo dan belum punya calon pasangan. Terus dari mana cewek gak jelas yang mengaku-ngaku jadi pacar gebetannya ini datang.
"Pacar?" Rani menyilangkan tangannya, menatap remeh Lia. "Jangan bercanda, setahu saya Dokter Putra masih SENDIRI?!" katanya menekankan suaranya di akhir kalimat.
Lia berpura-pura kaget. "Astaga, benarkah? Sepertinya kamu harus memperbaharui status kamu, sayang," ucap Lia menatap dokternya.
Lia lalu menelengkan kepalanya dan menatap bingung Rina. "Tapi, siapa kamu? Kenapa pacar saya harus cerita kalau dia udah punya tambatan hati sama kamu atau orang lain?" jleb, pertanyaan Lia menancap tepat dan terasa menyakitkan. Tak mungkin Rina menjawab dengan bangganya kalau dia seseorang dari sekian banyak orang di sini yang begitu berharap kalau dokter di depannya ini memilih dia sebagai pendampingnya.
Dokter Putra tak ingin kejadian ini semakin berlarut-larut, dirinya akhirnya mengusap pucuk kepala Lia seraya tersenyum amat manis. "Aku sudah lapar, jadi ayo kita ke ruangan aku dulu, yuk sa ... yang," kata Rama mengucapkan kata sayang sepelan mungkin, agar kata-kata itu hanya didengar oleh anak magang di depannya ini. Lia mengangguk cepat, dia bersemangat karena berhasil mengerjai wanita yang mendekati dokternya.
"Saya akan makan siang dengan kesayangan saya dulu." Dokter Putra menatap Rina si anak magang, dia tak berbohong kalau Lia memang pasien yang paling dia sayangi. "Kita bisa makan lain kali, itupun kalau saya memiliki waktu!" lanjut pemuda itu. Lia dan Rama melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Rina. Sedangkan Rina yang ditinggalkan, mengepalkan tangannya dengan erat. Dia menatap Lia yang menggandeng tangan gebetan hatinya dengan penuh permusuhan.
"Sialan, dasar bocah pengganggu!" umpatnya meninggalkan tempat itu dengan kaki menghentak kesal.
__ADS_1
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Begitu sampai di ruangan dokternya, Lia tertawa dengan lepas. Sang dokter membiarkan saja pasiennya itu tanpa menyela sama sekali. "Apakah om dokter meningkat wajahnya tadi?" tanya Lia si sela-sela tawanya. "Astaga, aku tak bisa berhenti tertawa," katanya lagi melanjutkan tawanya, sudut mata gadis itu mengeluarkan air mata karena tertawa terlalu banyak.
Si dokter malah membuka makanan yang dibawakan pasiennya, dia melahap makanan tersebut setelah berdo'a sebelumnya. "Enak?" tanya Lia antusias, tawanya sudah berhenti beberapa detik lalu.
Dokter Putra menganggukkan kepalanya. "Lumayan, masih bisa dimakan!" komentar si dokter muda.
"Saya habiskan agar kamu gak keberatan bawa pulang tempatnya!" ucap si dokter yakin tanpa tahu malu.
"Tinggal bilang kalau enak, apa susahnya, sih?" ketus Lia kesal. "Kalau gak habis, aku juga bisa ngabisin kok?!" lanjut gadis itu menimpali.
"Tidak bisa, ini dibuat untuk aku, kan? Jadi sebagai rasa terima kasih, aku harus ngabisin walau rasanya hanya sebatas 'Lumayan'?" Lia tak menjawab, tapi dia memasang tampang cemberut dan menatap ke lain arah.
__ADS_1
Dokter Putra menahan tawanya, dia berdehem kemudian kembali bersuara. "Anggap saja itu balasan karena sudah mengejutkan saya tadi?!" katanya bersahabat.
"Heh, tapi om dokter tadi ikut berakting juga, tuh?!" serang balik Lia tak mau disalahkan.
"Oh, jadi kamu mau ketahuan kalau kamu berbohong tadi, gitu?" tantang si dokter menyilangkan tangan di depan dada.
"Arghh, gak gitu juga dong?!" keluh Lia kehabisan kata-kata.
"Sekarang kita impas, kan?" Lia mengangguk mengiyakan. Dokternya pernah mengaku sebagai pacarnya pada bibinya yang menor, dan sebaliknya Lia juga mengaku sebagai pacar pada anak magang barusan. Yah, anggap saja impas.
"Tapi kedepannya aku gak bisa janji gak akan gitu lagi?!" kata Lia jujur.
Dokter Putra tersenyum tipis. "Aku tahu, dan aku juga akan membantu seperti yang sudah-sudah kalau itu memang diperlukan!" janjinya membuat Lia senang. Hari itu, Lia kembali berbincang dengan si dokter cukup lama. Dia bahkan menunggui sang dokter pulang, dan mereka pulang bersama.
__ADS_1