
Kelas Lia mengadakan kemah di luar, tak lupa gadis itu membawa persediaan obatnya. Dia tak mau kalau dirinya kumat di tengah kemah. Dokter Putra pun mewanti-wanti, mengingatkan untuk mengabari dirinya kalau terjadi sesuatu yang tak diduga selama acara kemah sekolah.
Sebenarnya Lia tak ingin ikut, dia takut kalau masalah tentang dirinya akan diketahui teman sekelas dan juga pihak sekolah. Tapi sayangnya, tak boleh ada yang tak hadir. Bisa dikatakan acara kali ini untuk tambahan nilai dan wajib diikuti.
"Apa sebaiknya saya mengikuti dari belakang?" gumam si dokter yang ikut khawatir. Mereka belum mengetahui bagaimana cara mencegah Lia berbagi waktu dengan sang kakak di malam hari.
"Itu hanya merepotkan om dokter. Lagipula ini hanya dua hari dan satu malam saja, mungkin saya bisa melewatinya tanpa tidur di malam hari," balas Lia memikirkan solusi yang paling sederhana menurutnya.
Dokter Putra menggelengkan kepala tak setuju. "Saya kurang setuju dengan itu, katakan saja kalau kamu bisa menahan kantuk saat malam, tapi siapa yang tahu kalau kamu akan jatuh tertidur dengan tak sengaja saat berpura-pura terlelap?" sang dokter tak ingin mengambil resiko, dia juga takut kalau dikacaukan, bisa-bisa kakaknya Lia akan mengambil jam siang pasiennya juga.
Lia menggigit kukunya gelisah, dia tak bisa berpikir lagi sekarang. "Jadi apa yang harus aku lakukan, om dokter?""
__ADS_1
"Mari kita buat surat kesehatan palsu, kamu percaya pada saya, kan?"
"Hah?" Lia menatap dokternya, si dokter terlihat terlalu serius untuk dikatakan sedang bercanda.
"Kita buat dirimu terlibat kecelakaan, biar saya yang mengurus surat izinnya," jelas sang dokter. Hanya ini cara satu-satunya yang dia pikir cukup untuk mendapatkan izin dari pihak sekolah. Tak mungkin pihak sekolah akan memaksa seorang siswi yang baru kecelakaan untuk mengikuti kegiatan di luar sekolah, tak peduli seberapa pentingnya kegiatan itu.
Lia berpikir sejenak, sebelum dia menganggukkan kepalanya setuju. Lebih baik melakukan sesuatu apapun itu asal dia bisa tak mengikuti kegiatan kemah tersebut, daripada harus ketahuan kalau dia dan kakaknya berbagi waktu.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Buruk, om dokter," balas Lia dengan wajah lesu.
__ADS_1
"Apa benar-benar sakit?" ini hanya rencana pura-pura, kenapa pasiennya merasa buruk saat ini.
Mata Lia berkaca-kaca menatap dokternya. "Badan saya pegal semua gara-gara kebanyakan baring. Bayangkan saya gak boleh bergerak turun dari tempat tidur?!" keluh Lia sedikit terisak.
Dokter Putra menggelengkan kepalanya pelan. Dia mengira pasiennya sangat kesakitan makanya menjawab seperti tadi, rupanya hanya karena pegal dan bosan saja.
"Bersabar saja selama beberapa hari, tak mungkin kamu langsung boleh pulang dengan surat keterangan yang didapat. Nanti pihak sekolah kamu curiga?!"
"Ahh, aku juga bosan makan makanan rumah sakit yang hambar. Aku pengen makan yang pedes-pedes," keluh Lia lagi.
Dokter Putra terkekeh pelan. "Nanti saya bawakan kalau saya mampir lagi." Lia tersenyum senang mendengar janji dokternya.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...