Berkah Atau Musibah

Berkah Atau Musibah
14.


__ADS_3

Mulai dari hari itu, Lia selalu menulis catatan singkat di secarik kertas. Dia terkadang hanya menanyakan kabar kakaknya, kadang juga, Lia bercerita tentang apa yang dia alami. Pokoknya Lia lebih sering berkeluh kesah, sang kakak juga membalas tulisan Lia. Tony mengatakan akan memberi balasan pada orang yang menjahati sang adik, sayangnya dia tak bisa melakukan itu. Anthony juga menyampaikan maaf karena dirinya tak bisa memenuhi janjinya sebagai kakak yang baik, dia pergi lebih dulu dan sekarang malah menjadi parasit di tubuh sang adik. Lia malah merasa bersyukur, dia tak mau tahu apa alasan semua bisa terjadi seperti sekarang. Namun, Lia cukup senang. Artinya sang kakak bisa menjaga janjinya untuk menemani dirinya, siapa yang peduli kalau dia harus berbagi waktu dengan sang kakak. Dia bisa melakukan itu seumur hidupnya, bahkan jika dia harus membayar dengan hidup sendirian selama masa hidupnya.


Lia sudah sedikit lebih jarang menemui dokternya. Hanya sesekali menghubungi lewat ponsel untuk bertukar sapa atau sekedar menanyakan kabar. Bagaimanapun, karena dokter muda itu juga dia bisa mengetahui kalau dia dan kakaknya berbagi waktu. Dia merasa dirinya tak pernah mengalami keluhan atau kejiwaan apapun sebelumnya, semua keluhan yang dia lontarkan seakan tak pernah terjadi begitu dirinya mengetahui bahwa sang kakak terus berada di dekatnya, menemani dirinya. Lia, si gadis malang ini percaya kalau dirinya tak ditakdirkan untuk ditinggalkan. Dirinya masih dicintai dan dilindungi, dia bukan orang terkutuk yang menjadi penyebab semua berakhir.


"Selamat siang, nona!" sapa dokter tampan ini berdiri di depan pintu Lia, sepertinya Dokter Putra sudah dari tadi menunggu gadis itu pulang.


"Selamat siang, dok?" balas Lia dengan nada heran, pasalnya dia tak ingat kalau dirinya dan si dokter membuat janji untuk bertemu hari ini.


Dokter Putra seakan paham apa yang dipikirkan pasiennya ini. "Jangan terlalu khawatir, saya sengaja datang sebagai kawan bicara,bukan sebagai dokter."

__ADS_1


Lia menghembuskan napas lega, dia mengira dirinya lupa kalau sudah membuat janji. "Saya kira saya lupa kalau hari ini saya membuat janji. Ayo, masuk dulu, dok. Tak enak berdiri di luar begini?!" Dokter Putra mengikuti langkah pasiennya.


"Aku pulang!" teriak Lia seperti kebiasaannya sebelum-sebelumnya.


"Selamat datang!" balas si dokter dari belakang Lia.


Dokter Putra bukannya duduk seperti yang dikatakan oleh Lia, dirinya malah ke dapur, tangan dokter muda itu sibuk menenteng kantong plastik belanjaan. Pemuda itu kemudian memasukkan bahan-bahan makanan yang dibelinya ke kulkas Lia, benar saja, hanya ada mie instan dan beberapa makanan kaleng di sana, sama sekali tak ada sayuran atau daging, intinya tak ada makanan sehat untuk gadis itu selama ini. "Sebenarnya pasienku itu hidup di zaman apa? Kenapa sama sekali tak ada sayuran dan daging di kulkasnya? Bahkan seekor ikan pun tak ada, astaga," desah si dokter seraya menghela napas panjang.


"Loh, dokter kok malah di sini?" tanya Lia yang baru datang.

__ADS_1


"Seperti yang kamu lihat, saya sedang melakukan apa kira-kira?" tanya si dokter tanpa berbalik dan terus melanjutkan apa yang dilakukannya tadi.


"Ya buat apa om dokter belanja? Makanan saya masih cukup, kok!" balas Lia.


"Cukup? Yah, bisa saya lihat kalau makanan instan yang kamu miliki CUKUP banyak, Lia?!" Lia memilih diam, bukannya dia sudah mengatakan kalau dirinya terlalu malas memasak kalau makan sendirian, maka dari itu dia menyimpan makanan instan seperti mie dan lainnya untuk dia makan saat lapar. Gadis itu lebih memilih membuat minuman saja di sudut lain dari dapurnya.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2