
Lia menemukan tanda-tanda keanehan lainnya, sebagai contoh dia tak pernah memakai sesuatu, tapi hal itu malah telah habis dipakai. Dia merasa ada orang lain yang tinggal di rumahnya selain dirinya. Cepat-cepat Lia mampir ke psikiaternya, dia mengeluhkan dan menjelaskan semua. Tangan sang psikiater menulis semuanya dengan cepat, penuh sabar dia juga menanyakan berbagai hal dan mengajak Lia berbicara. Si psikiater itu seolah akan percaya dengan apa saja yang Lia katakan. Inilah hal yang disukai dari dokternya yang satu ini, selain wajahnya cukup sedap dipandang, dokternya itu cukup hangat dan selalu percaya dengan apa yang dia ucapkan. Dokternya juga pendengar yang baik.
Lia juga menceritakan tentang teman-temannya, tepatnya teman yang sama sekali tak diingatnya. Gadis itu merasa dia tak ingat satu pun nama dari mereka semua, tak ada gunanya juga menghapal nama orang yang membenci dan selalu mengganggu dirinya bukan.
"Jadi, apa yang ingin kamu lakukan pada mereka?" Dokter Effendi bertanya setelah mendengar banyak keluhan Lia.
Lia menelengkan kepalanya ke samping. "Memang ada yang harus saya lakukan, dok?" tanya Lia seakan tak paham.
__ADS_1
"Mungkin saja kamu marah dan ingin membalas mereka. Mendorong mereka dari tempat yang tinggi, atau memaksa mereka meminta maaf padamu?!"
Lia mengangkat bahu tak peduli. "Kenapa harus? Itu hanya buang-buang waktu! Mereka pasti akan suka kalau saya merespon, lebih baik didiamkan dan tak usah dipedulikan sama sekali saja, itu pilihan terbaik menurut saya."
"Baiklah, menurut pandangan saya sebagai dokter kamu selama ini, kamu itu hanya kesepian dan depresi. Tapi kamu tidak pernah merasa ingin melukai atau melampiaskan kekesalan kamu pada orang lain.. Jadi, tak ada masalah serius. Kamu bisa sembuh jika minum obat secara teratur."
"Adakah apa pun selain obat? Saya sudah bosan dan mual hanya dengan melihat benda itu!"
__ADS_1
"Huft, baiklah, saya permisi dulu. Terimakasih, dok!" si dokter mengangguk sambil tersenyum ramah. Lia menebus resep yang diberikan oleh dokternya, dia lelah melihat obat, obat, dan obat setiap waktu. Namun, sayangnya dia membutuhkan itu untuk membuatnya tenang dan terlihat normal.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Aku pulang!" ucap Lia saat dia masuk ke rumahnya, rumah yang sepi menyambut kedatangan dirinya. Gadis itu sudah mulai terbiasa dengan hal ini setelah melewatinya beberapa waktu.
"Menyukai seseorang mungkin membutuhkan berjuta alasan, tapi membenci seseorang hanya perlu satu alasan kecil, bukan begitu, kak? Kakak pernah mengatakan kata-kata itu ketika aku masih kecil, padahal aku tak tahu artinya waktu itu." Lia menatap foto keluarga yang di gantung di dinding rumahnya. Foto berukuran besar ketika dia masih berumur enam tahun, kakaknya pun masih sangat muda dan terlihat tampan di dalam sana.
__ADS_1
Lia berdiri, menempel memo di figura foto yang tadi dilihatnya. 'Aku merindukanmu, kak' itu yang tertulis di memo tersebut. Lia memang lebih dekat dengan sang kakak, mereka seakan anak kembar, padahal keduanya lahir di tahun yang berbeda, meski hanya beda satu tahun, yang jelas mereka bukan anak kembar.
Lia menghela napas panjang, menepuk-nepuk pipinya pelan. "Jangan larut dalam emosi negatif lagi, Lia. Ayo kita bereskan rumah saja sekarang!" katanya mengingatkan dirinya sendiri. Lia pun mulai membersihkan rumahnya, dia tak tahu bahwa tulisan yang ditulisnya barusan bercahaya meski samar.