Berkah Atau Musibah

Berkah Atau Musibah
36.


__ADS_3

Sepulang sekolah, lagi dan lagi, Lia dikerjai oleh tiga nenek sihir yang selalu mencari gara-gara dengan dirinya. Saat dia ke toilet, tiba-tiba pintu toiletnya terkunci. Lia sudah menggedor cukup lama, tapi tak ada yang datang membukakan pintu untuknya.


Gadis itu mendesah lelah, apa tak ada habisnya masalah ini, kenapa selalu dia yang diganggu, sebenarnya dirinya sudah mencoba agar tak mencolok, tetapi tetap saja dirinya dijadikan target oleh Jessi dan yang lainnya. "Apa aku harus membalas sesekali?" gumam gadis itu dengan wajah dingin, matanya berkilat tajam menjanjikan pembalasan yang lebih kejam.


Tak lama kemudian, dia menggelengkan kepalanya cepat. "Tak boleh, tak boleh, jangan sampai kegilaan menguasai diriku?!" katanya menepuk-nepuk pipinya menyadarkan diri. Dia sangat tahu kalau dirinya labil, tapi dia tak ingin jatuh dan menjadi penjahat hanya karena tiga nona manja yang butuh ketenaran dan perhatian.


Lia ingat kalau ponselnya dia taruh di saku rok, dengan cepat dia mengambil benda persegi itu dan menelepon seseorang. Angka satu menjadi pilihan gadis itu sebagai panggilan cepat satu-satunya yang dia miliki. "Om, tolong aku sekarang?!" kata gadis itu begitu teleponnya terhubung.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...

__ADS_1


Putra dan dokter lainnya sedang membahas hal penting tentang bagaimana cara mereka menangani pasien dengan cepat. Dokter muda itu mendapat panggilan di tengah pertemuan, dia lupa menyetel ponselnya ke mode getar.


Melihat nama di layar, Putra meminta maaf dan menerima panggilan dengan cepat. Mendengar nada yang digunakan Lia tak setenang biasanya, Rama pun berdiri dari duduknya. "Saya harus pergi sekarang, salah satu pasien saya dalam keadaan gawat?!" kata dokter muda itu segera berlari keluar tanpa menunggu tanggapan dari para seniornya. Dia tak peduli hukuman apa yang akan diterimanya nanti, satu dalam pikirannya, dia harus segera menemui pasiennya saat ini. Lia tak pernah meminta tolong sesulit apapun masalah yang gadis itu hadapi, belum lagi suara yang sedikit terengah dan terdengar cukup putus asa menambah kepanikan dokter yang terlihat tenang dari luar itu.


Putra menyetir lebih cepat, mengejar titik merah yang terpampang di ponselnya. Itu alat pelacak yang dipasang di ponsel pasiennya, dia hanya takut kalau pasiennya terlibat masalah dan dia harus segera bertemu tapi tak tahu dimana pasiennya berada. Dengan penuh pertimbangan, dan dia pun memasang pelacak secara diam-diam.


"Sekolah?" kening Putra berkerut, kenapa lokasinya di sekolahan.


"Kamu gak apa-apa?" tanya Putra begitu dia berhasil mendobrak pintu di depannya.

__ADS_1


"He-he, kukira aku harus menunggu lebih lama," ucap Lia sebelum dia jatuh pingsan.


Dokter Putra segera membawa Lia pergi dari sekolah dengan cepat, dia melaju dengan gila-gilaan, belum sampai sepuluh menit dirinya telah sampai di rumahnya. Ya, kali ini si dokter memutuskan untuk membawa Lia ke rumahnya. Selain lebih dekat, di sini juga terdapat cukup banyak persediaan obat.


"Kebetulan bibi belum pulang, tolong gantikan pakaiannya," pinta Putra pada seorang bibi yang dia pekerjakan di rumah. Bibi itu tak menginap, hanya bekerja saat Putra tak di rumah saja. Si bibi mengangguk mengiyakan, melaksanakan perintah majikannya tanpa banyak suara.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Lia?!" ucap Putra khawatir.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2