Berkah Atau Musibah

Berkah Atau Musibah
37.


__ADS_3

"Saya sudah melaksanakan perintah anda, tuan," ucap si bibi dengan sopan.


"Terima kasih, ya bi," balas Putra. "Apa tak ada luka atau memar di tubuhnya?" tanya pemuda itu khawatir.


Si bibi menggeleng pelan. "Tak ada, tuan," balasan wanita paruh baya itu membuat Putra menghela napas lega.


"Bibi bisa pulang, biar saya yang mengurus sisanya," kata pemuda itu.


"Saya bisa tetap di sini dan membantu saat diperlukan, tuan," balas si bibi.


Putra tersenyum tipis. "Tak apa, bi. Saya bisa, kok. Lagian tugas bibi hanya sampai saya pulang dan saya sekarang sudah di rumah, bi. Jadi, bibi harus pulang sekarang." si bibi tak bisa apa-apa meski dia sangat ingin membantu, memang dia hanya bekerja saat majikannya ini tak ada di rumah.


"Baik, tuan, semoga hari anda menyenangkan," ucap si bibi sebelum dia pergi.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Putra tak diam saja, masalah kali ini dia usut sampai tuntas. Semua dia serahkan pada sekolah untuk memberikan hukuman yang pantas pada siswi yang sudah membuli temannya sendiri. Lia tak turun selama beberapa hari, tentu saja ini atas pertimbangan Putra. Pemuda itu melarang Lia ke sekolah, meski gadis itu mengatakan kalau dia sudah baik-baik saja.


Dibantu pengacara andal, anak-anak nakal yang sudah menjahati Lia pun dihukum oleh pihak sekolah. Mereka di DO. Tak berhenti sampai di situ, Putra memberikan perlindungan penuh pada Lia. Pria itu menikahi Lia agar dia menjadi wali sah gadis itu. Dia tak pernah berharap pernikahan yang bahagia, dia juga tak berharap akan ada cinta di antara mereka. Dia hanya ingin melindungi Lia dari para lintah yang terus menempel dan berniat menjadi parasit dalam kehidupan gadis itu.


Tentu saja om dan tante Lia menolak keras, tapi mereka tak bisa berkata apa-apa. Lia yang harusnya di bawah perwalian mereka menolak dan memilih untuk setuju dengan semua ucapan Putra.


Meski telah menikah, Lia dan Putra tidur di kamar terpisah. Sesekali Anthony kadang bangun saat malam, berbicara dengan Putra yang masih terjaga.


Hingga beberapa tahun kemudian, saat Lia sudah menyelesaikan semua pendidiknya. Gadis itu memilih untuk memulai usaha dari rumah saja, Putra sebagai suami di atas kertas menyetujui dengan cepat. Pria itu bahkan memberi dukungan seratus persen pasa pilihan gadis itu.


"Lia, ada yang ingin aku bicarakan," kata Putra pada suatu malam saat keduanya sedang menonton bersama.


"Apa, dok?" tanya Lia menghadap ke arah Putra, gadis itu bahkan mematikan televisi yang tadi mereka berdua tonton.


Putra tersenyum kecil mendengar panggilan Lia kepadanya. Meski mereka sudah menikah beberapa tahun, tapi gadis itu masih saja memanggil dia dokter saat mereka bicara. "Kamu sudah mapan, kamu juga sudah cukup umur, kamu tak lagi perlu berlindung di bawah sayap saya ke depannya. Jadi ..., apa kamu ingin kita berpisah?" tanya Putra hati-hati. Dia tak mau memenjarakan kebebasan Lia, gadis itu berada di usia emas, usia yang biasanya ingin merasakan arti sebenarnya dari kata cinta. Kalau mereka tetap berada dalam ikatan pernikahan, tak akan ada pria yang mendekati gadis cantik ini. Itulah alasan Putra bertanya hal tersebut.


"Apa saya sebegitunya tak disukai?" tanya Lia lirih, bagaimana pun dia sudah terbiasa tinggal bersama Putra selama ini. Sangat menyedihkan membayangkan harus hidup berjauhan dengan pria itu.

__ADS_1


"Bukan begitu," tukas Putra mengelak dengan cepat.


"Kita bahkan tak pernah tidur di satu ruangan yang sama, padahal kita sudah lama menikah," cicit Lia dengan mata berkaca-kaca. "Apa saya begitu buruk dan tak bisa berperan sebagai istri?" tanya gadis itu lagi. "Saya akui kalau saya masih sangat kekanakan, tapi saya sangat ingin belajar menjadi istri yang baik!" tambahnya lagi.


Otak Putra kosong begitu dia mendengar ocehan Lia, dia menatap Lia dengan tatapan tak percaya. "Apa kamu menunggu aku?" tanya Putra dengan sangat hati-hati. Dia tak ingin berakhir dalam kesalahpahaman.


Lia menelengkan kepalanya, baru saja dia akan membuka mulut, gadis itu langsung pingsan seketika, entah karena alasan apa.


Putra tentu saja panik, tadi mereka masih berbicara baik-baik. Lalu kenapa sekarang Lia malah tak sadarkan diri. Malamnya, Lia membuka mata. Sayangnya, dia saat ini menjadi Anthony. "Ngapain lu di sini?" tanya Anthony mengguncang tubuh Putra yang tertidur di sisi ranjangnya.


"Lia tadi pingsan, makanya aku menunggui dia sadar. Tapi malah kakak yang datang," jelas Putra.


"Sudah kuduga, pasti Lia kelelahan!" dengus Tony menatap penuh permusuhan suami adiknya itu. Dia tahu kalau adiknya dan Putra menikah karena suatu alasan dan itu semua untuk kepentingan adiknya, tetapi tetap saja dia kesal. Namun, dia tak bisa menyalahkan siapa-siapa. Semua sudah suratan dari Tuhan, dari pada adiknya sendirian. Lebih baik bersama dengan Putra yang sangat penyabar dan penuh perhatian pada Lia, adiknya itu.


Seminggu berlalu, tapi Lia tak kunjung muncul juga. Selalu Anthony yang datang saat mata itu terbuka. "Apa kakak tak bisa menemukan Lia bersembunyi di mana?" tanya Putra terdengar aneh. Maksudnya kan mereka berbagi tubuh yang sama, jadi siapa tahu saja jiwa Tony bisa mencari di mana keberadaan jiwa Lia.


"Lu kira gue sama Lia lagi main petak umpet apa?" hardik Tony ikutan pusing. "Sebenarnya kalian ada masalah apa, sih?" tanya pria itu. "Lia gak biasanya begini!" katanya lagi.


Putra pun menceritakan semuanya, mulai dari awal hingga akhirnya Lia pingsan. Satu tonjokan melayang begitu Putra selesai bercerita. "Bajing*n, lu mau buang adik gue!" umpat Tony murka.


"Itu sama saja, bodoh!" kata Tony memakai Putra sekali lagi.


Saat akan melayangkan pukulan lagi, tangan yang Tony gunakan untuk memukul berhenti bergerak, seolah tak mau menuruti apa yang dia ingin lalukan. "Seberapa banyak kamu berharap Lia balik?" desis Tony tiba-tiba.


"Sebanyak apa pun kemungkinan yang ditawarkan!" jawab Putra dengan cepat.


"Kalau begitu berkorbanlah sedikit, sepertinya aku tahu cara untuk membuat adik bodohku yang bersembunyi itu kembali," dengus Tony pelan. "Tapi setelah itu, berjanjilah kalau kamu akan membahagiakan adikku! Jadilah keluarga asli untuk lia, jangan lepaskan gadis bodoh yang tak bisa jujur dengan perasaannya sendiri itu!" pesan Tony.


Putra mengangguk mantap, detik berikutnya, pria itu dipukuli oleh kakak iparnya dengan sangat keras. Putra tak melawan, dia menerima semua pukulan yang tertuju padanya. Hingga sebuah pelukan hangat memerangkap tubuhnya yang terasa remuk akibat banyaknya pukulan yang dia terima. "Bodoh, kenapa diam saja?" tutur suara yang sangat Putra rindukan beberapa hari ini.


Putra terkekeh pelan, tidak adik, tidak kakak, keduanya sangat suka memaki orang. "Jangan tertawa, kita harus memanggil dokter," kata gadis itu melerai pelukannya.


"Tetaplah di sini, jangan menghilang lagi, Lia," pinta Putra lirih.

__ADS_1


"Apa bedanya? Lebih baik aku menghilang dari pada harus berpisah dengan dokter," balas gadis itu dengan air mata memenuhi wajahnya.


"Maaf, itu kebodohanku. Aku kira aku harus melepaskan kamu agar kamu bisa bebas, Lia," kata Putra memeluk seraya menepuk-nepuk punggung Lia dengan lembut.


"Bersama dokter aku juga bisa bebas," kata Lia menanggapi.


"Bukan itu maksudku," desah Putra. "Aku hanya ingin kamu menemukan seseorang yang menjadi takdirmu," lanjut pria itu lagi.


"Apa dokter bukan orang itu?" tanya Lia.


"Aku tak tahu ..., aku tak bisa mengetahui apa yang kamu rasakan," balas Putra dengan nada getir.


"Nyaman!"


"Hangat!"


"Kasih sayang!"


"Aku hanya ingin menjalani semuanya bersama dokter selamanya!"


"Malah aku yang tak tahu apa yang dokter rasakan padaku. Apakah hanya sebatas rasa kemanusiaan, atau ada rasa lain yang dokter rasakan untukku," tutur Lia jujur.


Putra membelalakkan matanya, dia tak salah dengar kan. Ini bisa dikategorikan sebagai pernyataan cinta kan. Apa dia seberuntung ini. Pernikahan yang dia kira akan berakhir saat istrinya dewasa, kini malah berkembang menjadi cinta. Mereka bisa hidup bersama hingga tua nanti.


"Jangan pernah berpikir untuk pergi dariku karena kamu sudah menolak kesempatan yang aku berikan, sayang!" kata Putra seraya tersenyum puas.


"Aku tak berniat kemana-mana, tuanku!" kata Lia main-main.


Dan dimulailah rumah tangga mereka yang sebenarnya, kamar mereka dijadikan satu, mereka hidup dengan bahagia dan sesekali bercanda. Anthony tak pernah hadir lagi, bahkan saat malam menjelang. Pria itu seolah pergi setelah mengatakan untuk menjaga adiknya. Mungkin pria itu hanya berniat menemani adiknya hingga adiknya memiliki keluarga yang bisa menemani dan diandalkan.


Keduanya berbahagia dan berharap semua akan tetap sama hingga maut menjemput mereka.


...°°°°°...

__ADS_1


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2