
Lia menjalani harinya seperti biasa, dia sekolah, pulang, dan kemudian menghabiskan sepanjang waktu di rumah. Kalau ada yang berbeda, kini gadis itu lebih memerhatikan isi kulkasnya. Dia sudah banyak merepotkan dokternya, dia tak ingin menjadi pasien yang tak tahu malu dan semakin merepotkan dokternya itu.
Dokter Putra juga lebih jarang berkunjung, dia hanya berkunjung sesekali di saat dirinya tak banyak janji dengan pasiennya yang lain. Beberapa hari ini saja mereka tak pernah bertemu atau bertukar kabar, padahal Lia ingin menanyakan kenapa dokternya memperkenalkan diri sebagai kekasihnya pada sang tante.
Lain halnya dengan si tante, perempuan yang menyukai dandanan berlebihan itu menjelek-jelekkan keponakannya. Mengatakan kalau keponakannya mulai nakal dan suka bermain dengan pria dewasa, keponakannya pelit dan suka berfoya-foya, serta masih banyak tuduhan palsu yang dibuat untuk mempermalukan Lia, keponakannya sendiri.
Lia yang tak mengetahui hal tersebut, malah menjalani kehidupannya seperti biasa. Dia bertukar sapa lewat surat dengan kakaknya, sang kakak juga membalas seakan mereka hanya terpisah jarak bukannya ruang dan waktu.
__ADS_1
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Lia, saya mendengar rumor tak sedap tentang kamu ..., dan mungkin juga ini menyangkut diriku!" kata Dokter Putra saat mereka bertemu, hari ini waktu mereka untuk makan siang bersama. Si dokter yang mengusulkan, mereka harus bisa meluangkan waktu setidaknya seminggu sekali untuk melihat perkembangan kesehatan mental Lia. Lia pun mengiyakan, dia merasa tak ada alasan untuk menolak. Itu dilakukan untuk kebaikannya, dia juga tak mau tiba-tiba makin parah. Hah, parasit yang beratas-namakan keluarga pasti dengan senang hati akan menancapkan taringnya untuk menghisap warisan ayahnya.
"Hah? Rumor apa, om dokter?" tanya Lia yang tak tahu apa-apa.
"Astaga, Lia ... cobalah sedikit berbaur dan peka! Saya saya yang baru mampir ke sini bisa langsung mendengar gosip soal kamu, masa kamu yang tinggal di sini tiap hari tidak tahu?!"
__ADS_1
"Terlalu merepotkan kalau harus mendengar ocehan tak bermutu tentang semua yang terjadi pada dunia, om dokter. Yang penting aku sehat, gak punya pikiran untuk mengakhiri kehidupan, dan tak menyalahkan diriku sendiri lagi, itu sudah lebih dari cukup untukku?!" balas Lia cukup santai.
Dokter Putra menghela napas panjang, yah apa yang dikatakan pasiennya tak ada salahnya juga sih. "Saya mendengar kalau kamu dirumorkan sering bermain dengan orang yang lebih dewasa. Dan entah karena alasan apa, saya berpikir orang dewasa yang disebutkan ini mengacu pada diri saya sendiri! Ada juga rumor kalau kamu pelit dan suka berfoya-foya, dan tentunya rumor buruk lainnya yang mengikuti!"
Lia mengangguk seolah tak peduli, dia malah tersenyum ringan. "Paling itu kerjaan tante saya?!" ucap gadis itu santai.
"Oh, ya om dokter, beberapa hari lalu tante saya datang lagi dan menanyakan dokter sebagai 'Pacar' saya! Bagaimana kita bertemu dan berapa lama kita menjalin hubungan, saya sudah mengarang cerita, nanti saya ceritakan lebih detailnya. Tapi kenapa om dokter malah mengaku sebagai kekasih saya?" Lia menatap cukup serius sang dokter, bukannya dia berharap jawaban yang manis akan didengarnya, dia hanya ingin tahu apa yang dipikirkan sang dokter hingga akhirnya mengaku seperti itu di depan keluarganya. Dokter Putra terdiam sesaat, sebelum dia menjawab dengan nada serius. "Semua terucap tanpa saya pikirkan?!" aku si dokter balas menatap Lia.
__ADS_1