Berkah Atau Musibah

Berkah Atau Musibah
29.


__ADS_3

Sepulang sekolah Lia mampir ke tempat dokternya, tentu saja tadi dia menghubungi sang dokter terlebih dahulu. Li terlalu malas pulang, sehingga dirinya mampir di mall dan membeli pakaian ganti di sana.


"Sore," sapa Lia setelah beberapa saat menunggu dan diizinkan masuk ke ruangan dokternya.


"Duduk dulu, saya masih harus menyelesaikan ini!" ucap si dokter dengan nada formal.


Lia mengangguk dan segera duduk dengan nyaman, dia membuka tasnya dan mengambil novel dari dalam sana. Tak ada salahnya membaca beberapa lembar sambil menunggu dokternya selesai. "Maaf membuat anda menunggu, nona." sang dokter melangkah mendekati Lia dan duduk di depan Lia.


Lia menutup novelnya dan tersenyum simpul. "Tak apa, tak begitu lama, kok dok," balas Lia santai.


"Jadi, ada masalah apa? Apa ada hal aneh yang nona rasakan? Atau ada kejadian yang harus anda ceritakan?" tanya si dokter membuka catatannya, siap mencatat apa yang akan Lia katakan.


"Saya datang untuk bercerita, dok!" aku Lia menjawab dengan tenang.


"Baiklah, mari kita mulai. Saya akan menjadi pendengar yang baik!" balas si dokter ramah.

__ADS_1


Lia mulai menceritakan kalau dirinya kembali diganggu, entah apa alasannya kali ini, tapi Lia sedikit kesal dan hampir meledak karena emosinya. Untungnya dia masih bisa menahan, padahal pikirannya sudah memikirkan seribu cara untuk membalas orang-orang yang mengganggunya tadi.


"Kamu marah karena meja dan bangku kamu dicoret-coret?" Lia mengangguk mengiyakan.


"Dan parahnya kamu sempat membayangkan kalau kamu membalas dengan mencoret di wajah mereka?" lagi, Lia mengangguk membenarkan.


"Dan bukannya mencoret dengan pulpen atau alat tulis lainnya, tapi kamu merasakan keinginan yang kuat untuk memakai benda tajam seperti silet atau gunting?" tanya Dokter Putra lagi. Astaga, bisa-bisa pasiennya menjadi psikopat karena seringnya diganggu.


"Begitulah yang saya rasakan tadi, dok," cicit Lia mengaku.


"Jadi, apa tak ada masalah dengan emosi dan keinginan aneh yang saya rasakan tadi, om dokter?" karena dokternya memanggil namanya, Lia jadi ikut-ikutan memanggil dokternya dengan sebutan om dokter, seperti saat mereka di luar.


"Tak masalah kalau tidak dilakukan. Itu hanya pengaruh negatif dari emosi yang menumpuk!" Lia mengangguk seraya menghela napas lega. Dia tahu dia kurang sehat, dirinya bisa masuk rumah sakit jiwa karena gangguan mental. Namun, Lia menolak kalau harus menyandang gelar sebagai penjahat psikopat sebagai tambahan.


"Kmu minum obat Dengan teratur, kan?" tanya si dokter saat dia selesai menulis apa yang Lia katakan.

__ADS_1


"Selalu dan tepat waktu!" balas Lia membuat si dokter tersenyum simpul.


Dokter Putra yakin kalau Lia bisa sembuh, gadis itu menunjukkan keinginan yang kuat untuk kembali normal. Bahkan di saat emosi, dia masih bisa mengingat saran dokternya. Maka peluang kesembuhan bagi Lia sangat besar, hanya butuh kesabaran dan seseorang untuk menemani serta mendengarkan keluh kesah gadis itu.


"Om dokter ..., belum makan, kan?" cicit Lia bertanya.


"Tentu saja belum," balas si dokter. "Kenapa? Kamu mau mentraktir saya makan?" lanjut dokter muda itu bertanya.


Lia mengangguk cepat. "Karena terlalu kesal, saya tak ingin makan sendirian!" aku remaja itu jujur.


"Baiklah, mari kita makan bersama. Untuk sekarang, kamu bisa menunggu saya hingga pulang di kafe depan, oke?" Lia mengangguk senang, kemudian berlalu pergi. Dokter Putra pun menerima pasien lain yang sudah membuat janji temu dengannya.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2