
Di sekolah Lia lebih sering melamun, dia tak bisa fokus pada pelajarannya. Otak kecilnya sibuk memikirkan hal aneh yang terjadi di rumahnya pagi ini. Oke, meski dia merasa dirinya kurang sehat secara kejiwaan, tapi dia tak sampai menjadi gila dan percaya kalau kakaknya masih hidup bersama dirinya. Dia juga sudah berobat dan tak memiliki tanda-tanda menuju kegilaan, tapi hari ini, dia meragukan kejiwaannya sekali lagi. Dia tahu ini gila, tapi dia berharap kakaknya bisa menemani dirinya meski itu hanya berupa bayangan saja.
Jam pulang sekolah tiba, dengan cepat Lia bangkit dari duduknya dan berlari lebih dulu keluar kelas setelah selesai memberi salam. Dia terburu-buru untuk pergi ke psikiater-nya. Masa bodoh kalau dia datang tanpa membuat janji terlebih dulu, ini keadaan yang mendesak dan dia akan semakin merasa dirinya gila kalau tak berkonsultasi pada dokter-nya.
Di dalam taksi, Lia menelepon dokter-nya. "Apa saya bisa mampir? Hanya sebentar pun tak apa, bahkan jika harus menunggu juga tak masalah. Ini penting, saya mohon?!" kata Lia begitu sambungan teleponnya terhubung.
"Saya masih ada satu pasien sekarang, Nona Nathalia," sahut si dokter dari seberang sana.
"Saya bisa menunggu, bahkan jika harus menunggu selama beberapa jam!" balas Lia memohon.
"Baiklah, tapi jangan mengeluh jika anda menunggu terlalu lama, ya."
"Tentu, saya baru saja sampai. Saya tutup Sulu dan terima kasih!" Lia menutup sambungan teleponnya, dia membayar tarif taksi dan langsung masuk ke dalam setelah mengucap kata terima kasih. Lia menunggu dengan sabar, dia duduk di ruang tunggu selama beberapa waktu.
__ADS_1
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Membosankan, bukan?" tanya si dokter sembari melempar senyum bersahabat ketika Lia memasuki ruangannya.
"Sedikit kalau boleh jujur," balas Lia cepat.
Si dokter kembali tersenyum tipis. "Baiklah, keberatan kalau saya mendengar keluhan anda sambil menikmati secangkir teh?" tanya dokter itu.
"Jujur, saya cukup lelah sekarang. Tadinya ini akan jadi waktu istirahat saya, nyatanya anda datang dan ... yah, begitulah!" lanjut si dokter menjelaskan.
"Silakan duduk dimana pun yang menurut anda nyaman, nona." si dokter mengangkat gagang telepon dan berbicara sebentar setelah dia mempersilakan Lia untuk duduk senyaman gadis itu. Tak berselang lama, dua cangkir teh telah disiapkan.
"Jadi, ada masalah mendesak apa sampai-sampai anda datang bukan di saat berkunjung, nona?" kata si dokter sambil menyeruput minumannya.
__ADS_1
"Silakan diminum, teh ini bagus untuk menenangkan pikiran, juga bisa mengurangi rasa lelah berlebihan, katanya begitu, sih."
"Dok, sepertinya obat yang anda baru resepkan tak berpengaruh pada saya. Saya merasa diri saya semakin gila, saya melihat hal-hal aneh yang seharusnya tak saya lihat tadi pagi!" jelas Lia menjabarkan isi pikirannya. Lia bernapas lega, meski tak menghilang tapi menceritakan pada dokternya cukup mengurangi rasa gelisah yang mengganggu dirinya sejak pagi tadi.
"Dan apa hal tersebut?"
"Saya melihat tulisan kakak saya dan itu tulisan baru. Apa saya harus dikurung di rumah sakit jiwa, dok? Apa halusinasi saya bertambah parah? Padahal saya sudah konsultasi dan melakukan beberapa terapi agar tak memengaruhi kehidupan saya, bukan?!"
"Saya paham apa yang anda risaukan, nona. Tapi tenang dulu dan ceritakan secara perlahan, oke?!" Lia pun menceritakan semuanya, dari semalam saat dia merasa kesepian, coretan iseng yang dibuatnya karena terlalu merindukan keluarganya, dan balasan dari coretan yang dibuatnya yang dia lihat tepat sebelum dia berangkat ke sekolah. Tak ada satu pun rincian yang terlewat, Lia menceritakan semua sesuai permintaan dokter-nya.
"Sepertinya saya harus memastikan sendiri apa itu hanya imajinasi atau benar-benar terjadi, boleh saya mampir sebentar ke rumah anda, nona? tanya si dokter. Lia pun mengangguk ragu, tak pernah ada yang bertamu ke rumahnya setelah dia tinggal sendirian. Semua menjauh, bahkan keluarganya. Jadi Lia merasa canggung untuk menerima tamu, apalagi tamu dadakan seperti sekarang.
"Maaf kalau saya terlihat sedikit canggung, dok. Susah lama tak pernah ada yang berkunjung. Saya harap anda mengerti!" dokter itu mengangguk paham, dia datang bukan sebagai tamu, tetapi sebagai dokter.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...