
Lia mengerjapkan matanya, dia ingat semalam dirinya melontarkan ajakan agar bisa menikah dengan dokternya. "Aku pasti sudah gila," katanya sambil menyelimutinya tubuhnya hingga kepala, gadis itu bersembunyi di balik selimut tebal.
Lia menendang selimutnya, kemudian bangkit dari tidurnya, dia harus bersiap. Baru saja berjalan beberapa langkah, Lia berhenti tepat di depan kalender yang menggantung di sisi dinding. "Ahh, aku lupa kalau ini hari minggu!" katanya menepuk dahinya sendiri.
Lia menepuk-nepuk pipinya pelan. "Karena sudah bangun, sekarang aku akan mandi dan bebersih rumah aja, deh?!" lanjut gadis itu lalu menghilang di balik kamar mandi.
Setelahnya Lia mulai membereskan rumah, menyapu dan mengepel lantai, mengganti tirai dan membersihkan debu di jendela. Selesai mengerjakan semua, Lia berbaring di tengah rumahnya karena terlalu kelelahan. "Ha-ah, ternyata melelahkan juga, ya!" gumam gadis itu, napasnya masih terengah karena banyak bergerak untuk melakukan ini dan itu.
"Aku ingin membuat sarapan, sayangnya aku sepertinya tak memiliki tenaga yang tersisa," lanjut gadis itu mengusap perutnya yang mulai terasa lapar. Lia bahkan terlalu malas untuk bergerak saat mendengar telepon genggamnya berdering. Paling hanya pesan random yang menawarkan hal-hal tak jelas, makanya Lia malas mengambil teleponnya.
Beberapa saat kemudian, pintu rumah Lia diketuk dari luar. Lia yang tadinya memejamkan mata, segera menghela napas dan berdiri dengan malas untuk melihat siapa yang datang. "Tak bolehkah aku berbaring sejenak tanpa ada gangguan?" keluh Lia mendesah lelah.
__ADS_1
"Om dokter?" Lia mengernyitkan keningnya melihat ternyata dokternya yang bertamu.
"Aku datang untuk melihat keadaan kamu sekalian membawakan sarapan!" Putra mengangkat tangannya, memperlihatkan makanan yang dibelinya di jalan.
"Om dokter, anda sungguh penyelamat bagiku?!" pekik Lia sebagai balasan. Tak ada yang lebih menyenangkan daripada sarapan gratis yang dibawakan di saat sangat-sangat lapar dan juga malas bergerak, seperti yang Lia alami saat ini.
Dokter Putra tersenyum kecil. "Jangan berlebihan," tegurnya.
Lia mempersilakan dokter muda itu untuk masuk dan sarapan bersama. Si dokter pun ikut masuk dan duduk di meja makan. "Bersih-bersih?" tanya si dokter melihat sekeliling rumah Lia.
"Ternyata kamu cukup rajin, ya?!" ucap si dokter seraya menyeringai kecil.
__ADS_1
"Masih jauh dari kata rajin, om dokter. Tapi setidaknya aku tuh niat beberes kalau lagi libur! Yang penting niat sama rencana dulu, ntar pasti dilakuin kalau gak ada rencana dadakan lain," balas Lia. Si dokter menganggukkan kepalanya.
Keduanya sarapan bersama, beberapa saat kemudian Lia kembali membuka suaranya. "Om dokter seakan tahu saja kalau aku lagi laper tapi terlalu malas masak gegara capek," cerocos Lia memuji dokternya.
"Saya itu telepon kamu berkali-kali, tapi gak diangkat-angkat, ya jadinya saya langsung ke sini. Saya takut kalau kamu pingsan atau ada masalah gitu!" balas si dokter.
"Ohh, jadi telepon saya tadi 'Kring-krang-kring' om dokter toh yang telepon. Saya kira pesan penawaran yang keseringan masuk tanpa tahu jam gitu-gitu, makanya gak saya angkat, he-he," aku Lia memamerkan senyum tanpa dosa miliknya.
"Makanya nanti liat-liat dulu, siapa tahu penting, kan?" timpal si dokter menasehati.
Lia mengangguk cepat. "Pengennya gitu, tapi terlalu malas gerak gegara capek, om dokter!" kata gadis itu mengaku. Dokter Putra hanya tersenyum tipis, dia cukup senang berbicara dengan pasiennya yang satu ini. Mudah diajak bicara dan selalu cukup tenang meski dalam keadaan marah.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...