Berkah Atau Musibah

Berkah Atau Musibah
32.


__ADS_3

Beberapa hari setelah acara lamaran tak langsung yang terjadi dadakan itu, Lia dan Putra kembali bertemu. Kali ini mereka bertemu di taman kota.


"Saya belum terlambat, kan?" ucap Putra menghampiri Lia.


Lia menggelengkan kepalanya. "Saya juga baru sampai, kok," balas gadis itu.


"Mau makan? Atau langsung ngobrol?" tanya Putra.


"Kita beli minum aja, saya sudah makan tadi," balas gadis itu. Keduanya berjalan ke stan minuman dan membeli minuman yang mereka pilih.


"Om dokter ngapain ngajakin saya keluar? Biasanya kita kan ketemu kalau gak di rumah sakit tempat praktek om dokter, ya pasti di rumah saya," tanya Lia sambil menyeruput minumannya.


"Yah, anggap saja ini latihan kencan?!" balas si dokter cepat. "Dan kalau di luar begini, jangan panggil saya 'Om dokter', cukup panggil 'Putra' aja, oke?" lanjut dokter muda itu membuat Lia tersedak minumannya.

__ADS_1


"Dokter sakit?" Lia menyentuh dahi dokternya, memastikan apa dahi dokternya panas atau tidak.


Dokter Putra menangkap dan menggenggam tangan Lia, dia menggelengkan kepalanya pelan. "Saya gak bakalan ngajakin kamu keluar kalau saya sakit, Lia!" katanya seraya memamerkan senyum menawan yang dimilikinya.


"Oh, Tuhan, om dokter pasti lagi sakit parah ini, parah banget malah. Pulang aja, yuk om dokter. Saya belum siap ganti dokter baru, saya nyaman kalau cerita sama om dokter?!" cerocos Lia asal, gadis itu terlihat sedikit panik.


Dokter Putra melebarkan senyumnya. "Kamu khawatir sama saya?" tanya Putra dengan nada senang.


"Makanya itu kita kencan sekarang! Jangan khawatir, saya sehat seribu persen?!" Lia melongo. Apa ini cara ajakan kencan zaman sekarang, ya. Lia memang tak memiliki pengalaman berkencan, apalagi berpacaran. Tapi setahu Lia, tak seperti ini kencan yang sering dilihatnya di televisi.


Sibuk berpikir, Lia tak sadar kalau tangannya ditarik pelan untuk mengikuti langkah Putra. Kini keduanya berdiri di depan gedung bioskop, Lia mengerjapkan mata saat dirinya kembali menginjak bumi, ya anggap saja tadi pikiran dan jiwa Lia sedang melanglang buana kemana-mana dan sekarang baru kembali. "Kita mau ngapain ke sini, om dokter?" tanya Lia seolah otaknya hanya pajangan yang tak bisa digunakan untuk berpikir.


"Nyari baju, beli makanan, sekalian berenang!" jawab si dokter asal.

__ADS_1


Lia menatap dokternya dengan kening mengernyit. "Memang bisa?" tanyanya lagi entah polos atau o'on. Dokter Putra gemas sendiri melihatnya.


"Kita ke sini buat nonton, Lia. Masa kamu percaya gitu aja apa yang saya katakan?!" Putra mengusap wajahnya, kalau bukan negara hukum, Lia pasti sudah dikarungin dan dibawa pulang untuk dikenalkan pada orang tuanya. Sayangnya itu termasuk penculikan kalau dia nekat melakukan.


Lia membulatkan mulutnya, membentuk huruf 'O'. "Makanya saya nanya, kan tadi? Soalnya saya gak percaya," balas Lia cengar-cengir.


Putra hanya mengangguk seraya tersenyum simpul, dia mengajak Lia menonton. Lia memilih film horor, sedangkan Putra lebih memilih film komedi. Akhirnya mereka berdua sepakat menonton film komedi-horor agar adil.


Yah, tak masalah apakah ini kencan atau bukan, yang penting keduanya cukup menikmati hari yang mereka lewati.


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...

__ADS_1


__ADS_2