
Trio usil yang licik dan juga iri pun mengambil serta menyebarkan foto Lia yang sedang bekerja, foto tersebut rencananya akan dipajang di mading sekolah. Lia menjadi bahan perbincangan, ada yang merasa iba, ada yang mengejek, ada juga yang merasa senasib dengan gadis itu.
"Aw, aw, aw, ini dia 'Tuan putri' kita yang sudah jatuh kelasnya menjadi 'Rakyat jelata'!"Ucap Jessi sambil bertepuk tangan, gelak tawa menyambut setelah Jessi selesai berbicara.
"Bisa dong, ya ... kalau kita suruh-suruh gitu?! Asal gak lupa ngasih 'Tip'!" Meta terkikik mengejek Lia.
"Bukannya dulu dia kaya, ya? Ck, ck, ck, kenapa sekarang malah kerja gini setelah jadi yatim-piatu?" kata Lila berpura-pura prihatin.
Lia tak menggubris ejekan ketiganya, dia malah melihat jam di pergelangan tangannya dengan santai. "Permisi, kelas sudah mau mulai. Biarkan saya lewat!" senyum tipis seolah tak terganggu sama sekali terpasang apik
Jessi mendengus keras. "Orang miskin kayak lo gak pantes sekolah di sini?! Lu cuma ngotor-ngotorin nama baik sekolah kita aja!" ucapan pedas terlontar tanpa perasaan.
__ADS_1
"Dan siapa anda? Pemilik sekolah? Kalau bukan sebaiknya diam saja! Saya sekolah di sini dengan semua usaha saya, saya bekerja juga tak merepotkan siapa pun dari kalian, bukan? Saya menarik garis tak ingin diganggu karena saya tak ingin menggangu siapa pun di antara kalian juga. Nama baik yang mana yang saya cemari? Nilai saya cukup tinggi, berbagai piala juga pernah saya raih dan masih terpanjang di etalase kaca depan. Silakan lihat kalau tak percaya?!" kata Lia tegas membela dirinya. Dia paham dia sekarang sendirian, jika dia menangis dan menunjukkan kelemahannya, dia hanya akan semakin dibully. Jadi dia harus lebih tegar dan menunjukkan kalau dia kuat, dia tak akan kalah hebat karena provokasi kekanakan seperti ini.
"Permisi!" lanjutnya melengos pergi, berjalan lurus tanpa menoleh sekali pun lagi.
Akhirnya, hal yang harusnya membuat Lia dipermalukan malah membuat dirinya dikenal sebagai pribadi yang mandiri dan kuat. Jessi mengumpat kasar, dia merasa iri dengan semua yang dimiliki Lia. Kabar baiknya gadis itu sekarang sebatang kara, tak ada lagi tempat bersandar dan mengadu. Jessi kira dia bisa menjatuhkan Lia,.nyatanya dia tetap menjadi orang yang kalah dengan seseorang yang tak memiliki keluarga sama sekali.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Jangan dipikirkan, Lia!" bisik teman yang duduk di belakang Lia.
Lia menoleh lalu tersenyum kecil. "Tentu saja. Semua yang terjadi tadi tak penting kok bagiku!" balas Lia.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong aku juga kerja sampingan, loh. Tapi aku bantuin mamaku di warung, keluarga aku kan buka warung makan di depan rumah," ucap kawannya itu lagi, sepertinya dia ingin menghibur Lia dengan caranya sendiri.
""Hmm, kapan-kapan aku pasti mampir. Sudah lama aku gak makan masakan rumahan. Taulah, aku sendirian sekarang, kalau masak suka gak habis, jadi malas masak deh."
Orang yang jadi lawan bicara Lia pun mengangguk senang. "Tentu, datang saja, atau kita bisa pergi bersama setelah pulang sekolah kapan-kapan!"
"Ide bagus, aku suka?!" keduanya tersenyum kecil bersama.
Pelajaran pun dimulai, Lia memilih fokus dan tak memusingkan hal lain lagi. Setelah ini masih banyak jadwal yang harus dia lakukan. Bekerja saat harus bekerja dan pergi ke psikiater saat dia dapat libur kerja. Lia menghabiskan banyak waktu di luar agar dia tak terlalu mengingat soal keluarganya, dia tak ingin terpuruk dan makin stress, dia juga tak mau kalau dia mulai membayangkan hal-hal aneh dan harus berakhir depresi dan mulai mencari cara untuk mengakhiri hidupnya.
Makanya Lia memilih bekerja walaupun dia mendapatkan uang saku dalam jumlah yang cukup besar untuk anak sekolahan seperti dirinya, tentu saja uang itu hasil yang didapat dari keuntungan bisnis kecil-kecilan ayahnya yang saat ini Sadang dijalankan oleh pegawai yang paling ayahnya percayai dulu.
__ADS_1