
Lia melongo begitu dia keluar dari kamarnya. Bagaimana tidak, ruang tamunya sangat berantakan. Bekas kacang dan minuman kaleng berserakan dimana-mana. Lia bahkan melihat dokternya meringkuk di sofa, sepertinya sang dokter ketiduran di sana.
Gadis itu berkacak pinggang sambil menggelengkan kepalanya, sudah pasti dia akan sibuk membersihkan rumah lagi hari ini. Padahal baru dua hari lalu dia membereskan rumahnya, saat dia libur.
"Sebaiknya aku membuat sarapan dulu, kalau aku membersihkan ruangan ini, aku takut akan mengganggu istirahat om dokter," gumam Lia, gadis itu lalu menganggukkan kepalanya, setuju dengan apa yang dia ucapkan barusan.
Lia menyibukkan diri di dapur, meski tak suka melihat rumah yang belum rapi, tetapi dia tak punya pilihan lain selain mengerjakan hal lain. Dia tak ingin membangunkan sang dokter yang terlihat sangat kelelahan, dia tak tahu apa yang dokternya dan kakaknya lakukan semalam, hingga sang dokter berakhir bermalam di rumahnya.
Dokter Putra mengerjapkan matanya, aroma sedap memenuhi indera penciumannya, menggoda dirinya untuk cepat-cepat bangun dan melihat apa yang membuat dirinya merasa begitu lapar, lebih dari biasanya. Baru saja kakinya menapak lantai, suara bungkus kacang yang terinjak terdengar, membuat Putra sadar sepenuhnya. Putra menutup wajahnya melihat kekacauan yang dilakukannya di rumah orang lain. "Aku harus meminta maaf!" gumamnya merasa bersalah sekaligus malu.
"Om dokter susah bangun? Kalau sudah, om dokter boleh meminjam kamar mandi di kamar kakak saya!" teriak Lia dari dapur, dia mendengar suara yang dibuat dokternya.
__ADS_1
"Aku mengerti," balas si dokter singkat. Kemudian dia pun pergi ke kamar Tony, kamar yang tepat di samping kamar Lia. Gadis itu sendiri yang pernah mengatakan padanya sekali dulu dan Dokter Putra entah mengapa masih mengingatnya.
Di dalam kamar mandi, Putra bergumam sendiri, menyalahkan dirinya karena terlalu lemah dan jatuh tertidur setelah mengacaukan rumah orang lain. Harusnya dia membereskan dulu, kemudian baru pulang. Kenapa malah menginap di rumah orang.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Di waktu yang sama, Lia yang telah selesai membuat sarapan sederhana. Masuk ke kamar kakaknya, dia yakin dokternya pasti tak akan kepikiran untuk meminjam pakaian kakaknya. Makanya dia menyiapkan satu set baju sang kakak dan ditaruhnya di atas meja di samping tempat tidur. Lia pun kembali keluar dari kamar itu dan mulai membereskan ruang tamunya yang terlihat seperti kapal pecah.
"Tak apa, om dokter. Ini juga salah Kak Tony, kok," balas Lia santai. "Sudah lama juga gak liat rumah diberantakin gini," lanjut gadis itu seolah mengenang masa lalu.
"Apa aku harus sering datang dan mengacaukan rumah kamu lagi?" tanya Putra yang tentu saja hanya bercanda, sebagai dokter dia tak ingin pasiennya depresi karena mengingat kenangan lalu.
__ADS_1
"Ide bagus, tapi kuharap tak terlalu sering. Aku masih pelajar yang banyak memiliki tugas, tak mungkin aku terus-terusan membersihkan rumah saja," timpal Lia.
"Mau kubantu? Begini-begini aku juga bisa beberes meski tak terlalu rapi," ucap Putra menawarkan diri.
"Mungkin lain kali, aku sudah menyelesaikan semua untuk sekarang!" balas Lia menatap puas ruang tengahnya yang kembali rapi seperti sedia kala.
"Padahal aku sudah niat membantu untuk meminta maaf tadi," aku Putra sedikit menyesal terlambat menawarkan diri.
"Om dokter bisa bantuin ngabisin sarapan yang aku buat aja ntar," celetuk Lia memberikan tugas pada dokternya. Keduanya pun sarapan bersama setelah Lia mencuci tangan.
...°°°°°...
__ADS_1
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...