
Tante Nita kembali berkunjung sore itu, dia mengetuk lebih sopan, terlalu malu kalau pria yang mengaku pacar keponakannya itu masih ada di rumah sang keponakan. "Halo, keponakan tante," sapa wanita itu begitu keponakannya membukakan pintu.
Lia menoleh ke kiri dan kanan, melihat apa ada orang lain selain bibinya yang berkunjung. "Siapa yang kamu cari?" tanya sang bibi dengan kening mengernyit heran melihat kelakuan keponakannya.
"Saya hanya tak menyangka bibi datang sendiri ke sini," ucap Lia dengan nada sopan.
Si bibi mengangkat bahu ringan. "Apa salahnya datang berkunjung ke rumah keponakan sendiri? Dan jangan panggil tantemu ini bibi, panggil TANTE, oke?!" Lia mengangguk paham.
"Terus? Sampai kapan Tante dibiarkan berdiri seperti ini?" Tante Nita protes sambil mengetuk-ngetukkan kakinya ke lantai.
"Upss, sengaja ...," bisik Lia sangat-sangat pelan.
"Hah? Kamu bilang apa? Tante gak denger?!"
__ADS_1
"Ha-ha-ha, saya bilang saya gak sengaja, tan. Ayo masuk, tante mau minum apa?" Lia bertanya sambil melangkah ke ruang tamu rumahnya.
"Kopi hitam saja," jawab si tante singkat. Lia mengangguk lalu berjalan ke arah dapur.
Tak lama kemudian Lia kembali lagi, tapi dia tak membawa apa-apa, tangannya kosong. "Saya lupa, kalau di rumah gak ada kopi. Soalnya gak ada yang minum, tan!" si tante mengangguk paham.
"Ya, sudah. Teh manis saja!" katanya mengubah minuman yang dia minta.
"Kali ini apa? Tehnya habis? Atau gulanya yang gak ada?" tanya si tante yang melihat keponakannya kembali tanpa minuman yang dia minta.
"He-he-he, saya lupa ngisi stok, tan!" ucap Lia cengengesan.
Tante Nita menghela napas, kesabarannya benar-benar diuji oleh ponakannya ini. "Air es aja, air es! Kali ini gak mungkin kamu gak punya, kan?" Lia mengangguk. Di belakang dapur, gadis itu tertawa cekikikan, dia lumayan suka mengerjai tantenya yang sangat sok cantik ini.
__ADS_1
Bukannya Lia gadis yang nakal, dia hanya membalas perbuatan keluarganya yang lepas tangan pada dirinya. Saat ayah dan ibunya pergi untuk selamanya, mereka malah meributkan hak untuk mendapatkan warisan miliknya. Tak ada yang mengulurkan tangan untuk meringankan penderitanya, tak ada juga yang menghibur saat dia terpuruk dalam kesedihan. Semua berpaling, menjauh dan seolah tak kenal dengan dirinya. Jadi, anggap saja kelakuannya tadi hanya balasan kecil dari sikap mereka padanya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
"Tadi tante ke sini, katanya kamu lagi gak bisa ketemu sama tante. Makanya tante balik lagi sekarang buat liatin kamu!" Lia mengangguk, dia sudah tahu karena dokternya sudah menyampaikan hal yang sama tadi.
"Oh, ya, tante juga ketemu sama pacar kamu. Sejak kapan kamu pacaran? Anak mana? Masih sekolah atau sudah kerja? Kalau tante lihat sih sepertinya sudah kerja?!" cerocos si tante ingat dengan Dokter Putra, orang yang dia temui tadi siang.
"Sekarang mana dia?" si tante celingukan mencari pria yang dia maksud.
"Hah? Pacar?" otak Lia tiba-tiba tak berfungsi, kenal seseorang yang bisa dikatakan dekat saja tidak, masa dia memiliki pacar yang tak dia ketahui siapa.
"Iya, pacar! Pemuda yang tante titipkan pesan tadi," timpal si tante merotasikan matanya. "Dasar anak muda, masa pacar sendiri lupa!" ketus Tante Nita mendecih. Lia mulai paham, mungkin dokternya mengaku sebagai kekasihnya, Lia pun mengiyakan dan mengarang cerita kemudian.
__ADS_1