Berkah Atau Musibah

Berkah Atau Musibah
11.


__ADS_3

Lia mengizinkan dokternya untuk menginap, tentu saja setelah sedikit diskusi panjang. Lia juga menanyakan apa keluarga dokternya itu tak mencari, jawaban sederhana, si dokter mengatakan kalau dia tinggal sendiri. Tak ada yang mencarinya meski dia tak pulang ke rumah untuk waktu yang lama, makanya Dokter Putra lebih sering menginap di rumah sakit kalau terlalu lelah untuk pulang ke rumah.


"Maaf, ya om dokter. Saya hanya bisa menyiapkan makanan seadanya, baru kali ini saya memasak lagi karena ada teman makan," ucap Lia tak enak hati saat mereka berdua duduk di meja makan.


"Tak apa," balas si dokter pengertian. "Jadi biasanya kamu makan apa kalau gak masak? Beli di luar?" si dokter lanjut bertanya. Dia merasa pasiennya sudah mulai nyaman, jadi dia tak ingin keheningan menimbulkan kecanggungan lagi.


Lia menggaruk pipinya canggung. "Mie instan, om dokter," balas gadis itu pelan.


"Astaga, Lia. Makan banyak mie instan itu gak baik buat kesehatan. Jadi kurangi, ya kalau bisa."


"Maunya sih gitu, om dokter. Tapi malas masak kalau cuma makan sendirian, sayang makanannya gak habis, om dokter!" aku gadis itu.


Dokter Putra berpikir sejenak. "Jadi, haruskah saya mampir untuk numpang makan di sini?" katanya mencetuskan ide yang sedikit melenceng. Masalah makanan sudah tak masuk dalam ranahnya yang merupakan dokter kejiwaan. Tapi entah mengapa, dokter itu ingin pasiennya sehat dan tak akan sakit hanya karena makanan instan saja.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Lia bersemangat dia sangat senang kalau ada yang menemaninya makan. Setalah dia berhenti bekerja sampingan, dia jadi memiliki banyak waktu luang. Lia berhenti bukan karena dirinya diejek kemarin, tetapi dia merasa ada yang aneh pada dirinya saat malam menjelang.


"Mungkin saya bisa meluangkan waktu kalau tak terlalu sibuk. Biar saya yang membeli bahan-bahannya," balas si dokter.


"Saya bisa berbelanja sendiri, kok om dokter!"


"Tak apa, anggap saja bayaran karena kamu sudah memasak dan saya menumpang makan di rumah kamu!" Lia pun mengangguk menerima penawaran dokternya.


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


"Tapi, om dokter?!"


"Tak apa, sudah sana. Selamat malam, Lia!"

__ADS_1


Lia pun akhirnya pergi ke kamarnya, dia tak bisa memungkiri kalau matanya sudah sangat berat rasanya.


Dokter Putra mengeringkan tangannya setelah dia selesai membersihkan meja sekaligus mencuci piring yang dia dan Lia gunakan. Dokter muda itu mulai mengamati lingkungan tempat tinggal pasiennya, Rapi dan bersih, ternyata pasiennya cukup rajin juga. "Mari kita cari apa yang terjadi," bisik Dokter Putra mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah.


Dokter muda itu menoleh ke belakang saat mendengar suara pintu kamar terbuka. "Mungkin anak itu susah tidur karena ada saya," ucap si dokter pelan.


Suara langkah kaki yang berat mulai mendekat, si dokter mengernyit bingung. Suara langkah itu sedikit berbeda dari langkah pasiennya, terdengar lebih berat dan juga lebar.


"Siapa anda?" tanya pemilik suara langkah yang didengar dokter tadi.


"Bukankah pertanyaan itu seharusnya saya yang mengajukan?" balas si dokter dengan tenang.


Pemuda di depan Dokter Putra menyilangkan tangannya. "Saya pemilik rumah dan anda orang tak dikenal di sini?!"

__ADS_1


"Huh?" Putra menelaah informasi yang baru di dapatnya tersebut.


__ADS_2