
Pagi ini, cuaca berbanding terbalik dengan ramalan yang disiarkan di televisi semalam. Katanya hari ini akan cerah tanpa ada awan mendung sedikitpun yang menutupi langit. Namun, kenyataannya. Langit sejak pagi memuntahkan muatannya dengan cukup deras, awan hitam mengantung, membuat orang-orang malas beraktivitas. Begitupun dengan Lia, gadis itu memilih kembali bergelung di bawah selimut, meski jam sudah menunjukkan hampir pukul tujuh pagi.
Saat waktu menunjukkan jam tujuh kurang sepuluh, Lia pun bangkit dengan ogah-ogahan. Matanya masih terpejam, bahkan selimut masih menempel di pundak gadis itu saat dia menyeret langkahnya ke kamar mandi. Cukup waktu dua menit, Lia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar, tentunya dia masih berkemul dengan selimutnya.
Memakai seragamnya dengan cepat dan dilapisi dengan jaket tebal, Lia pun bergegas ke dapur untuk mengambil dua lembar roti. Setelah memakai sepatu, Lia pun segera berangkat ke sekolah. Dia memilih menggunakan jasa taksi di cuaca sedingin ini. Tak lupa Lia membawa payung dan jas hujan di dalam tasnya, jaga-jaga kalau-kalau ketika dirinya pulang sekolah hujan akan turun dengan sangat derasnya.
Pelajaran dilalui dengan membosankan, bahkan guru yang mengajar pun menguap beberapa kali karena cuaca yang dingin. Apalagi anak muridnya, banyak yang menelungkupkan kepala ke meja karena tak kuasa menahan kantuk.
Lia dengan susah payah mengusir kantuknya, dia bahkan menepuk-nepuk pipinya hingga memerah untuk mengusir rasa kantuk tersebut. Bel jam istirahat berbunyi, Lia dengan cepat berdiri dan bergegas ke toilet. Meski cukup dingin, Lia mencuci wajahnya agar dia tak terlalu mengantuk. Keluar dari toilet, Lia berbelok ke kantin. Dia membeli makanan kotak dan jus jeruk, menurut gadis itu, selain dingin, lapar juga menambah rasa kantuknya.
Saat Lia sedang asik-asiknya melahap makanan yang dia beli, datanglah geng sekolah yang suka mengganggu Lia. Lia menghela napas panjang, apa tak ada hari lain, dia malas ngapa-ngapain saat ini.
"Woah, masih idup aja, lu?!" senyum remeh yang tak digubris Lia terpampang jelas dari cewek rese yang sedang cari gara-gara ini.
__ADS_1
"Padahal eneg liatnya, ya Jess?" timpal Lila cekikikan.
"Boleh nanya? Kapan matinya, sih, lo?" lanjut Meta pedas. Ketiganya memprovokasi Lia agar gadis itu marah.
Lia menyeruput sisa minumannya, mengambil beberapa lembar tisu, lalu mengelap mulutnya. Gadis itu berjalan meninggalkan kantin tanpa membalas ketiganya satu patah katapun.
"Wah, belajar tuli dia, Jess?!" pekik Meta cukup nyaring.
Jessi menghentakkan kakinya kesal. "Sial, dia tak terpancing!" umpatnya kesal.
"Entah dia budek, bego, atau bener-bener gak peduli, gue gak tahu yang mana yang bener!" decih Meta.
"Padahal gue pengen liat dia nangis, sial?!" Lila menendang udara saking kesalnya dirinya.
__ADS_1
Biasanya orang-orang akan terpancing kalau diprovokasi, tapi Lia malah diam dan meninggalkan mereka begitu saja akhir-akhir ini ketika mereka bertiga mencari gara-gara. Itu juga yang membuat ketiganya bertambah dongkol, mereka seolah diperlakukan tak terlihat oleh gadis itu.
"Gue benar-benar ingin menghancurkan wajah tenang perempuan sialan itu?!" desis Jessi penuh dendam.
"Sama, gue juga?!" timpal Lila cepat.
"Apalagi gue, jangan ditanya?!" lanjut Meta kesal.
Ketiganya segera meninggalkan kantin, tak jadi makan karena mood mereka anjlok. Lia sendiri malah duduk santai di kursinya sambil melihat langit dari jendela, langit masih mendung, dengan gerimis ringan yang menetes, semoga tak bertambah deras nantinya.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1