Berkah Atau Musibah

Berkah Atau Musibah
12.


__ADS_3

Dokter Putra sibuk menyusun informasi yang dia dapatkan, akhirnya dia berhasil menebak apa yang terjadi. "Anda kakak dari Nona Lia?" tanya si dokter yakin.


"Tentu saja! Saya satu-satunya kakak kandung Lia. Jadi, siapa anda? Jangan bilang anda mendekati adik saya yang rapuh dengan maksud tertentu?!" aku dan tuduh Tony mendengus marah.


"Ekhem, sebelum anda semakin salah paham, biarkan saya memperkenalkan diri saya. Nama saya Putra dan saya seorang dokter, saya dokter pribadi adik anda, Nona Lia!" jelas Putra dengan nada tenang. Meski dia tak paham bagaimana orang yang seharusnya tak ada di dunia ini bisa muncul di depannya, tetapi dia tetap harus menjaga ketenangannya agar tak menimbulkan masalah dan kesalahpahaman yang tak diperlukan.


Kakak Lia membelalakkan matanya mendengar ucapan pria di depannya ini. "Apa adik saya sakit? Apa parah? Tolong katakan kalau penyakitnya tak berbahaya?!"


"Nona Lia bisa dikatakan tak memiliki penyakit yang serius, atau bisa dibilang Nona sangat sehat. Namun, Nona Lia sering mengeluhkan hal-hal yang bisa dikatakan tak masuk akal. Seperti ada seseorang yang tinggal bersamanya padahal dia sendirian, nona juga sering berhalusinasi dan ketakutan sendiri!" jelas Putra sebagai dokter.


"Ha-ah, jadi ... dengan kata lain adik saya mengalami gangguan mental, begitu?" Anthony merasa bersalah karena dia tak bisa bertahan. Namun, siapa yang bisa menolak saat kematian datang menjemput.

__ADS_1


"Boleh saya mengajukan beberapa pertanyaan?" tanya Putra menatap kakaknya Lia dengan serius. Anthony mengangguk mengizinkan.


"Bagaimana anda bisa di sini?" tanya Putra mengajukan pertanyaan pertama.


"Karena ini rumah saya!" jawab Anthony cepat.


"Anda tahu bukan itu maksud dari pertanyaan saya, kan?!" timpal si dokter muda.


Anthony terdiam, helaan napas panjang terdengar darinya. "saya juga tak tahu, hanya saja belakangan ini saya bisa muncul ketika adik saya tertidur. Dengan syarat, itu terjadi di malam hari!" aku Anthony jujur. Kalau saudara perempuannya saja percaya pada dokter di depannya ini, maka dia bisa mempercayai pria ini juga.


"Terlalu aneh malah, tapi saya tak mau ambil pusing. Saya hanya ingin melindungi dan menemani adik saya. Yah, walaupun dengan cara aneh begini. Kami tak bisa bertatap muka, saat aku bangun, Lia yang tak sadar."

__ADS_1


Dokter Putra berpikir sesaat. "Hmm, mungkin kita bisa berfoto dan saya akan menunjukkannya pada Nona Lia."


"Atau anda bisa mulai menulis di kertas dan mengakui pada Nona Lia, meski tak bisa bertatap muka, tapi kalian bisa saling bertukar surat. Anggap saja kalian tinggal di kota berbeda!"


"Tak bisakah hanya begini saja?" tanya Anthony setelah mendengar beberapa masukan si dokter.


"Itu bisa dilakukan, tapi saya takut kalau Nona Lia akan berpikir yang bukan-bukan. Jika demikian, kemungkinan besar itu akan mempengaruhi kesehatan jiwa nona!"


"Baiklah, akan saya lakukan. Saya menyukai sikap anda, jadi ayo kita berteman!" Anthony mengulurkan tangannya ke arah Putra.


Dokter Putra tersenyum kecil. "Mari berteman?!" katanya menjabat tangan pemuda di depannya. Tony dan Putra terus mengobrol, Tony banyak bertanya tentang adiknya, dan Putra menjawab sebanyak yang dia tahu.

__ADS_1


...°°°°°...


...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...


__ADS_2