
Lia menutup pintu rumahnya, dia menghela napas panjang. Astaga, bisa-bisa sakit mentalnya bertambah parah gara-gara omelan panjang omnya tadi. Untungnya dia tak terlalu mendengarkan, dirinya sibuk membandingkan keluarganya satu persatu dengan dokternya. Jelas, sang dokter lebih baik dari segala sisi. Dokternya selalu memikirkan tentang kesehatannya, perhatian dengan apa yang dirinya makan, dan kadang berkunjung kalau Lia lama tak pergi ke tempat praktek dokternya.
"Ahh, sepertinya aku mulai gila lagi?! Kuharap aku tak terlalu berlebihan," gumam Lia.
Lia mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum dengan begitu cerah. Perubahan wajah yang sangat cepat. Gadis itu melangkah dengan ringan sambil bersenandung pelan. Dapur menjadi tempat tujuan gadis muda itu. "Kurasa tak akan terlihat berlebihan jika aku berkunjung dan membawakan makanan untuk dokterku," katanya girang. Tangan Lia mulai memotong-motong sayur dan berbagai jenis bahan makanan yang dia punya.
"Selesai," ucapnya menatap bangga hasil karya yang baru dibuatnya. Lia kemudian mengendus bau tubuhnya sendiri, tercium berbagai aroma masakan menempel di badannya. "Sebaiknya aku mandi sebelum pergi," lanjutnya kembali ke kamarnya.
Setengah jam berlalu, Lia sudah siap dengan pakaian santainya.Tak lupa makanan yang dia kemas untuk dokternya dimasukkan ke dalam tas bekal, Lia bercermin sekali lagi sebelum dirinya keluar dan menutup pintu. "Saatnya berangkat, om dokter pasti senang!" katanya melangkah ke taksi yang sudah dipesannya tadi.
__ADS_1
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Dokter Putra, seorang dokter muda yang penuh dengan karisma. Selain tampan, dirinya juga sangat-sangat hangat dan bersahabat. Banyak rekan kerjanya yang menaruh perhatian dan mencoba peruntungan untuk mengambil hati dokter itu. Sayangnya, sang dokter terlalu tak peka dan sangat baik pada semua orang, baik rekan kerja maupun pasien, tak peduli itu pria atau pun wanita.
Seperti saat ini, seorang anak magang baru pun ikut terjerat dalam pesona dokter tampan itu. Dengan wajah malu-malu, si anak magang tadi mencoba mengajak gebetan hatinya untuk makan bersama. Dokter Putra menolak secara halus, dia masih memiliki janji jadi tak bisa menghabiskan banyak waktu untuk istirahat kali ini. Tak menyerah, si anak magang malah mengajak untuk makan malam bersama sebagai gantinya. "Ayolah, dok kali ini saja. Saya yang traktir," bujuk si anak magang dengan berani berusaha menyentuh tangan Dokter Putra.
"Aduh, gimana, ya?" anggap saja dokter muda ini memiliki firasat buruk, dia harus menolak tapi tak tahu bagaimana caranya.
"Lia? Ngapain di sini?" tanya Dokter Putra bergeser mendekati Lia, dia merasa risih didekati secara agresif seperti tadi.
__ADS_1
Lia mengubah mimik wajahnya, dia tersenyum dengan sangat manis seraya mengangkat kotak bekal yang dia buat untuk dokternya. "Tara, tadi aku buat ini dan inget kamu!" ucap Lia, di akhir kalimat dia melirik sinis anak magang yang terlihat bingung sekaligus kesal dengan kehadiran dirinya.
"Buat aku?" tanya si dokter menerima pemberian Lia. "Terima kasih," lanjut dokter itu disertai senyum tipis.
Lia balas tersenyum lalu melirik singkat si anak magang yang berdiri tak jauh dari dirinya. "Ah, ini Rina, anak magang di sini. Kenalkan ini Lia, pa–" ucapan Putra dipotong oleh Lia.
"Pacar dokter ganteng ini?!" ucapnya dengan sangat yakin, dia bahkan memeluk lengan sang dokter sambil menyandarkan kepalanya. Ahh, lihat wajah terkejut di depannya ini. Dia suka melihat reaksi anak magang ini, Lia jadi semakin ingin mengerjai gadis itu.
"Huh?" Dokter Putra menatap bingung pasiennya.
__ADS_1
"Apa, sayang? Jangan bilang kamu lupa sama pacar kamu? Kamu bahkan udah ketemu sama bibi aku kemarin kapan itu?!" Lia berpura-pura cemberut, dia merajuk karena pacarnya dadakannya itu melupakan dirinya ceritanya.
Dokter Putra melirik kiri dan kanan, alamat, pasti akan banyak rumor tentang dirinya setelah ini. Sang dokter hanya menghela napas lelah, dia pasti akan menjalani hari yang lebih merepotkan untuk sementara waktu ini.