
Seharian ini Dokter Putra tak bisa berkonsentrasi, dia selalu kembali memikirkan pembicaraannya dengan Anthony semalam. Sedikit bingung apa kebaikan yang dia lakukan bisa menjadi racun bagi pasiennya. Apa tak seharusnya dia terlalu masuk dan ikut campur dengan kehidupan pasiennya. Putra merasa itu bagian dari tanggungjawabnya, tapi dirinya tak pernah mengira kalau itu bisa semakin membuat pasiennya bergantung dan berharap lebih padanya.
Dirinya sangat yakin Lia tak akan begitu, tetapi dia tak memiliki keyakinan kuat kalau hal itu tak akan terjadi di masa depan. "Apa aku harus mulai membatasi diri?" gumam dokter itu pada dirinya sendiri. "Setelah semua campur tangan yang kulakukan?" lanjutnya mengingat kalau dia terlibat dalam banyak hal menyangkut Lia.
Dokter Putra menghela napas lelah. "Ahh, entahlah! Jalani saja, terus maju dan lihat bagaimana hasilnya nanti?!" katanya memutuskan.
Lagipula kalau seandainya dia dan Lia pun benar-benar menjalin hubungan, tak akan ada yang keberatan. Mereka berdua tak memiliki pasangan, meski umur sedikit terpaut, tapi Dokter Putra juga belum terlalu tua dan tak akan menimbulkan pandangan aneh di masyarakat. Dia juga yakin, drinya tak akan dicap sebagai pedofil, yang menyukai anak di bawah umur. Secara hukum Lia sudah cukup umur, hanya saja statusnya masih seorang pelajar.
__ADS_1
"Kalau memang takdir, aku bisa terus bekerja sebagai dokter dan Lia yang meneruskan usaha orang tuanya. Kami akan saling menyemangati dan mendukung, membantu di saat saling membutuhkan," gumam dokter muda itu berpikir positif seandainya dia dan Lia terikat dalam hubungan pernikahan nantinya.
Putra tahu kalau dia semakin aneh dengan memikirkan ini, tapi dia hanya membaca segala kemungkinan yang akan terjadi di masa depan. Bisa saja dia dan Lia memang ditakdirkan bersama, atau bisa juga hanya akan terus berhubungan sebagai dokter dan pasien. Maka dari itu, dokter muda ini membentuk semua gambaran yang mungkin akan terjadi di masa depan dengan otaknya yang sangat pintar. "Tak buruk," kata pemuda itu lebih tenang.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Menurut dokternya, dirinya harus menghitung mundur dari sepuluh kalau terlalu emosi. Kalau tak berhasil, maka hitung lagi dan lagi hingga dirinya lupa kalau tadi merasa marah. Jadi, itulah yang Lia lakukan sekarang, di dalam hati gadis itu menghitung mundur dari angka sepuluh dan sudah mengulanginya lebih dari tiga kali.
__ADS_1
Hari ini pokoknya dia harus bertemu dengan dokternya dan menceritakan hal yang dia alami, Lia tak ingin termakan oleh kemarahan yang menumpuk dan dibiarkan tanpa tersalurkan. Dia butuh seseorang yang mendengar ceritanya, dan kebetulan orang yang tepat dan selalu siap menjadi pendengar dan juga pemberi saran adalah dokternya sendiri.
Teman-teman sekelas yang mengerjai Lia menggerutu kesal karena korban mereka terlihat terlalu tenang, bahkan sekarang Lia senyum-senyum sendiri, entah apa yang sedang dipikirkannya. Para pengganggu itu sebenarnya hanyalah sekumpulan anak-anak yang merasa iri pada Lia, mereka tak bisa seperti gadis itu. Padahal mereka tak tahu seberapa menderita dan kesepiannya Lia, tetapi mereka hanya melihat apa yang ingin mereka lihat, mereka juga buta akan kesedihan dan keputusasaan orang lain.
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...
__ADS_1