
Beberapa hari kemudian, Lia sudah bebas bergerak di rumahnya sendiri. Tak lupa dia menulis untuk bercerita dengan kakaknya. Sang kakak pun meminta dipertemukan dengan dokter yang pernah dia temui sebelumnya, siapa lagi kalau bukan Dokter Putra. Katanya dia ingin menyampaikan terima kasih karena sudah banyak menolong sang adik saat dia tak bisa menjadi kakak yang diandalkan. Lia pun setuju-setuju saja.
Malam pun datang, Dokter Putra memencet bel di depan pintu rumah Lia. Dia cukup terkejut karena bukan pasiennya yang membukakan pintu, tetapi malah saudara laki-laki yang berbagi waktu dengan Lia. Padahal dia datang jam tujuh lewat, apa pasiennya terlalu jatuh tertidur sedini ini. "Masuklah!" ucap Anthony. "Jangan lupa tutup dan kunci pintunya!" lanjut pria itu.
Keduanya duduk berhadapan di sofa tunggal, Anthony menatap dokter adiknya itu dengan seksama. "Ekhem, saya dengar anda ingin bertemu dengan saya, ada apa?" Putra berdehem memulai pembicaraan, dia canggung diperhatikan seperti tadi.
"Saya mendengar dari adik saya, anda sangat banyak membantu. Jadi saya ingin berterimakasih, tapi ada satu hal yang harus saya pastikan. Maka dari itu izinkan saya bertanya walau mungkin itu sedikit tak sopan." Putra mengangguk mengizinkan Anthony bertanya padanya.
__ADS_1
"Saya berterimakasih karena anda membantu adik saya dalam banyak hal, tetapi saya dengan lancang bertanya apa anda memiliki tujuan? Kebaikan tanpa imbalan sangat langka sekarang, jadi saya meminta maaf karena saya meragukan anda!" kata Anthony formal.
Putra tak merasa tersinggung sama sekali, dia malah paham dengan kekhawatiran kakak pasiennya itu. "Anda bisa mengatakan kalau ini bentuk tanggung jawab saya kepada pasien saya. Sebagai dokter saya ingin melihat pasien saya baik-baik saja dan selalu sehat, saya juga akan melakukan apa saja yang dibutuhkan untuk mewujudkan hal tersebut," aku dokter itu jujur.
"Termasuk berbohong kepada banyak pihak kalau kalian sedang terikat hubungan?" dia ingat saat adiknya mengatakan kalau tante mereka yang menjengkelkan itu mampir dan meminta uang pada adiknya, bahkan dia juga tahu kalau wanita menor itu juga yang menjadi biang keladi rumor yang menyusahkan sang adik belakangan ini.
"Saya tak keberatan," ucap Putra enteng, dokter muda itu mengangkat bahunya. "Saya tak memiliki hubungan apapun dengan siapapun, jadi tak akan ada celah untuk mengetahui kalau saya sedang bersandiwara saat mengatakan kalau saya dan Lia sedang berpacaran," lanjutnya menjelaskan.
__ADS_1
Anthony memijat pelipisnya, dia sedang mencerna kata-kata yang baru saja dia dengar. Kaget, sudah pasti. Dia tak tahu kalau adiknya akan seberani itu. "Jadi, anda tak memiliki perasaan pada adik saya?" tanya pemuda itu dengan tatapan menusuk.
Dokter Putra menggeleng pelan. "Untuk saat ini tidak, tapi saya tak bisa menjamin bagaimana di masa depan. Hati seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu, kan?"
"Jangan sakiti adikku, aku tak bisa berada di sisinya dan menghibur kala dia bersedih. Jadi, saat anda melihat bahwa adikku serius. Namun, anda tak memiliki perasaan yang sama. Tolong, jauhi adik saya. Menghilanglah dan jangan pernah muncul lagi agar adik saya tak terlalu terluka!"
"Akan saya lakukan sesuai keinginan anda!"
__ADS_1
"Dan satu lagi, biarkan pembicaraan ini menjadi rahasia di antara kita saja. Jangan ceritakan apapun pada Lia?!" pinta Anthony.
Dokter Putra mengangguk cepat. "Tentu!" janjinya. Keduanya bercerita beberapa saat, sebelum dokter muda itu pamit pulang. Anthony duduk di tengah kegelapan, berpikir keras bagaimana harus melindungi adiknya. "Ini rumit semenjak aku hanya parasit yang bisa bangun saat adikku tertidur, aku tak akan bisa memberikan bantuan saat dibutuhkan!" desah pemuda itu dengan wajah murung.