Berkah Atau Musibah

Berkah Atau Musibah
22.


__ADS_3

Paman Lia yang baru datang dari negeri seberang mendatangi Lia. Awal semua terlihat wajar, sampai ketika sang paman mengungkit masalah pembukaan pabrik baru di sekitar daerah tempat Lia tinggal. Tentunya dia membutuhkan banyak dana, dan Lia diminta menjadi salah satu investor. Hanya investor di atas kertas, semua keuntungan akan dikeruk sendiri oleh sang paman.


"Jadi bagaimana? Kamu pasti tertarik kalau kamu paham soal bisnis! Ini bisnis yang benar-benar menjanjikan?!" desak sang paman tak sabar mengambil keuntungan dari keponakannya yang tinggal sendirian ini.


"Bicarakan saja dengan pengacara almarhum ayah, om. Lalu bicara juga tentang ini pada Om Dani, yang mengurus perusahaan ayah saat ini!" balas Lia tenang.


"Mereka akan setuju kalau kamu menganggukkan kepala, kan kamu pemiliknya!" timpal si om enteng.


"Tapi saya hanya tahu sedikit dan belum bisa mengambil kesimpulan hanya gara-gara kita keluarga, om."

__ADS_1


"Tahu sedikit tak masalah, kamu hanya perlu menghitung keuntungan yang datang diakhir!"


Lia berpikir sesaat, pamannya memandang dengan penuh harap. Pundi uang akan mengalir dengan sendirinya, dia hanya perlu berlagak jadi bos dan meraup keuntungan yang besar tanpa modal sepeserpun. "Ayolah, Lia. Om tak akan merugikan kamu, justru om mengajak kamu berbisnis agar kamu bisa melipatgandakan uang yang kamu miliki saat ini!" desak si om dengan tak sabar.


Lia mengangguk pelan, merogoh saku celananya. "Saya punya segini, apa cukup?" Lia tersenyum sok polos. Jangan dikira dirinya tak tahu berapa kali omnya itu mencoba berbisnis tapi selalu gagal. Bahkan omnya itu menumpuk hutang di mana-mana, mana mau Lia ikut terlibat dengan hal merepotkan dan memusingkan seperti itu.


"Kata om tadi dengan uang yang sekarang Lia 'Miliki'?!" Lia menelengkan kepalanya sok bingung. "Nah, ini sisa jajan Lia hari ini," lanjut gadis itu semakin memancing emosi omnya.


"Astaga Lia, maksud om itu, kamu ambil uang dari papa kamu. Habis itu kamu investasikan ke bisnis yang baru om buka?! Bukan duit receh pembeli permen gitu."

__ADS_1


Lia mengangguk-angguk dengan mulut membulat, sambil mengatakan 'O' yang cukup panjang. Si paman mulai berharap, akhirnya ponakannya mengerti dan akan melakukan sesuai dengan keinginannya. "Gak ada?!" kata Lia lempeng dengan ekspresi polos.


"Kok gak ada? Kamu kemanakan semua uang warisan papa kamu?" tanya si om cukup ngegas, dia merasa dipermainkan oleh anak kecil.


"Bukan Lia yang ngatur, semua diatur sama Om Dani. Lia tinggal tanda tangan, trus nerima jajan bulanan. Semua pengeluaran ya om itu yang ngurus," jelas Lia.


Si om memegang leher bagian belakangnya. Emosinya memuncak cukup tinggi kali ini, bisa-bisa darah tingginya kambuh dan dirinya mati di tempat karena ulah keponakannya. Kenapa bukan dia saja yang ditunjuk sebagai wali, kan jadinya dia bisa mengambil beberapa keuntungan dari ponakannya yang polos rada-rada bego di depannya ini.


Si paman tak tahu kalau Lia menatapnya dengan tatapan dingin, gadis itu mendengus dalam hati. Satu lagi parasit yang datang dan mencoba menghisap darahnya. Dikira dia anak polos yang tak tahu kejamnya dunia, dirinya yang ceria dan lugu sudah mati bersama dengan keluarganya. Dia harus menjadi sosok yang baru agar tak ditelan dan dibodohi oleh orang-orang di sekitarnya. Ahh, Lia jadi merindukan om dokternya yang baik dan perhatian.

__ADS_1


__ADS_2