
Entah karena stress atau masih dalam pengaruh emosi yang menguras tenaganya, Lia memesan makanan pesan antar dalam jumlah yang sangat banyak. Dia malas masak katanya, makanya mereka berdua sepakat untuk memesan makanan pesan antar saja untuk makan malam mereka. Keduanya melahap habis makanan yang dipesan Lia, tentunya Lia yang lebih banyak memakan dari semua yang mereka pesan.
"Sudah merasa lebih baik?" tanya si dokter.
Lia mengangguk cepat. "Tentu," balas gadis itu lebih ceria.
Putra tersenyum usil. "Buat cemilan, gih sana?!" katanya menjahili Lia.
"Aiss, jangan bikin bete lagi dong, om dokter!" gerutu gadis itu, tapi dirinya berdiri juga dan mulai membuat cemilan untuk tamunya.
__ADS_1
"Silakan dihabiskan!" ucap Lia setelah menghabiskan beberapa waktu di dapur.
"Terima kasih, ya," balas si dokter sembari menyicipi cemilan yang baru saja dibuat Lia.
Lia menatap dokternya sambil berpangku tangan. "Gimana kalau kita nikah aja kalau aku udah lulus," celetuk Lia dengan entengnya.
Dokter Putra terbatuk saking terkejutnya dirinya. "Ya?" teriak dokter muda itu secara tak sadar. "Jangan bercanda, bocah?!" lanjutnya memasang tampang terkejut sekaligus kesal. Tenggorokannya sedikit sakit gara-gara keselek dan pasien di depannya malah menatap dirinya bingung, seolah dia tak seharusnya marah karena ajakan dadakan tersebut.
"Yah, kecuali om dokter udah punya tambatan hati, pacar rahasia, atau apalah namanya. Pasti om dokter bakalan rugi, jadi om bisa nolak, kok!" lanjut gadis itu seolah apa yang dia katakan tadi tak terlalu penting.
__ADS_1
"Dengar Lia, kamu masih bocah yang belum dewasa. Masih banyak yang harus kamu lewati, masih banyak yang harus kamu lihat dan lakukan. Jangan mengikat diri dan menyesalinya di kemudian hari!" ujar Putra memberi nasihat. Jalan gadis di depannya ini masih sangat panjang, sangat disayangkan kalau harus terikat dalam rumah tangga di usia dini. Usia yang seharusnya digunakan untuk belajar dan sedikit bersenang-senang.
"Aku juga paham, om dokter. Tapi aku sedikit takut kalau-kalau suatu saat rahasia tentang kakak terkuak. Bisa-bisa tubuhku dibedah dan dilakukan penelitian, keluargaku tak akan ada yang peduli, mereka lebih suka kalau aku menghilang jadi mereka bisa berusaha merampas semua yang ditinggalkan ayah padaku.
"Kalau tentang itu, kita harus berpikir positif, Lia. Ilmu kedokteran terus berkembang, masa tak bisa menyembuhkan penyakit kamu! Kalau masalah kakakmu yang berbagi tubuh dan waktu, mungkin di masa depan itu akan terselesaikan dengan sendirinya. Entah ketika kamu sudah dewasa dan mulai bisa menerima kalau kamu ditinggalkan sendirian, atau kamu yang menerima kenyataan kalau keluargamu sudah berpulang dan menunggu di alam lain. Maksud saya, mungkin masalah itu dapat diselesaikan sesuai dengan kondisi hati dan kejiwaan kamu, paham kan?"
Lia mengangguk mengerti. "Maaf membuat om dokter kaget tadi," kata gadis itu tulus.
Dokter muda itu mengangguk maklum. "Tapi, aku serius loh tadi, om?!" lanjut Lia sambil tertawa cekikikan. Gantian dirinya yang menjahili dokternya kali ini.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...