
Lia keluar dari kantor kepala sekolah, begitu dia menutup pintu ruangan tersebut, dia melangkah dengan ringan kembali ke kelasnya. Senyum kecil mengembang di bibir gadis itu, dia senang bisa terhindar dari masalah dan membereskan rumor tentang dirinya.
Lia tahu semua ini dikarenakan oleh tantenya yang baik hati, hanya karena dia tak memberi beberapa lembar rupiah, si tante malah tega mencoreng nama keponakannya sendiri. Inilah bentuk keluarga Lia, parasit yang hanya ingin numpang dan menghabiskan semua yang dia miliki.
"Ekhem, lagi mikirin apa, lu?" tanya beberapa siswa mengelilingi meja Lia.
"Bibiku yang paling cantik dan sangat baik hati!" balas Lia memamerkan senyum merekah, kali ini dia jujur kalau dirinya sedang memikirkan bibinya dan itu memang kenyataannya.
"Hi-hi-hi-hi, dikasih banyak duit jajan, ya lu sama bibi lu itu?" tanya teman sekelas Lia yang tadi lagi.
Senyum Lia menghilang. Ngasih duit jajan, yang ada tuh malah dia yang dimintain duit buat belanja. "Pikirkan sesukamu saja?!" jawab Lia acuh, buat apa juga dijelaskan, mereka tak akan peduli juga.
__ADS_1
"Udah lah Rik, gak usah muter-muter nanyanya, langsung aja tancap gas!" salah satu teman Riko memberi saran sambil terkekeh kecil.
"Bener juga!" timpal siswa yang dipanggil Riko tadi. Si Riko menoleh menatap lurus Lia. "Ikut gue yuk malam ini, temen gue ngadain party tapi gue gak punya pasangan. Bisalah lu bantuin gue, gue bayar deh, tenang aja!" cerocos si Riko dengan tatapan pongah, dia yakin kalau Lia pasti menerim ajakannya.
Lia tersenyum kecil lalu menjawab dengan acuh. "Sayangnya saya punya janji?!" katanya beralasan.
"Gue jemput jam sepuluh, deh. Gak mungkin lu janjian di jam segitu, kan?" desak Riko dengan nada tak suka, dia cukup kesal permintaannya ditolak.
Riko mengepalkan tangannya kesal. "Kalau masalah bayaran, gue bisa tambahin sebanyak yang lu mau?!"
Astaga, Lia mendesah lelah. Teman sekolahnya ini ternyata cukup keras kepala juga, ya. Sudah ditolak dengan berbagai alasan, tapi masih saja kekeh mengajak dirinya. Bahkan dengan iming-iming imbalan uang segala. Lia menatap tanpa ekspresi. "Berapa?" tanyanya singkat menatap tajam Riko.
__ADS_1
Riko menyeringai, mengira umpannya akan diambil oleh Lia. "Sejuta, dua juta, tiga juta, atau lu mau lima juta? Di mana lagi lu bisa dapat uang jajan tambahan sebanyak itu hanya dengan nemanin gue ke satu acara?!"
Lia mencoret-coret kertas di bukunya, kemudian dia menempelkan materai dan menyodorkan bukunya ke arah Riko. "Tandatangan, gih. Aku suka kalau harganya segini?!" Lia mengetuk-ngetuk jarinya di kertas tadi.
Mata Riko membulat lebar, gila, gadis di depannya ini gila. Masa dia harus menyerahkan semua yang dia miliki. Bahkan rumah yang dia tinggali. Itukan masih milik ayahnya, dia mana punya apa-apa selain uang. "Sinting!" umpat Riko murka.
"Kalau sudah tahu sinting, ngapain mendekat? Sakit jiwa, ya?" mulut pedas Lia mulai kumat, dia sudah cukup apatis dengan sekelilingnya, tapi dia tetap tak suka kalau dirinya diusik seperti sekarang.
"Awas lu?!" ancam Riko.
Lia menggelengkan kepalanya pelan, ngencem tapi mereka yang pergi. Dasar gak jelas. Pelajaran pun dimulai saat guru mereka masuk ke kelas, tatapan permusuhan jelas diterima Lia. Namun, gadis itu tak menghiraukan. Lia tak akan bertindak kalau dia tak diganggu seperti tadi. Kalau hanya tatapan dan rumor, Lia tak terlalu peduli, itu tak akan membunuhnya menurutnya. Lain halnya kalau dia sudah mulai diusik, Lia akan balas melawan sebisanya.
__ADS_1