
Kicau burung menjadi alunan musik dikala gadis cantik yang masih tertidur dengan pulasnya. Seolah tak terganggu, gadis itu terus terlelap tanpa bergerak sedikit pun. Sinar surya pun ikut mengintip di balik jendela yang tirainya tersingkap.
Suara sisa-sisa hujan masih menetes dari pepohonan di sekitar rumah Lia. Gadis yang tadi sedang terlelap pun menggeliatkan badannya. Matanya mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan penglihatannya.
"Selamat pagi!" sapaan hangat penuh keceriaan disertai dengan senyuman manis yang membuat diabetes, sayangnya tak ada yang membalas sapaan itu. Hanya keheningan dan udara kosong yang ada di kamarnya.
Lia menepuk kedua pipinya pelan, mengusir kesedihan yang tiba-tiba melanda hatinya. "Bodoh, bukannya kamu sudah terbiasa?!" gumamnya berkata pada dirinya sendiri.
"Selain itu kamu masih memiliki kakak yang tak bisa kamu temui!" lanjutnya mengembalikan semangat. Ya, dia masih memiliki kakaknya. Kak Anthony masih hidup di dunia yang sama, hanya saja waktunya yang berbeda. Lia masih bisa saling bertukar catatan, tetapi tak bisa bertemu mau bagaimanapun dia berusaha. Kakaknya tertidur di dalam dirinya dan akan terjaga saat dia tertidur di malam hari.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Lia bergegas berangkat sekolah setelah dia selesai bersiap dan sarapan. Menurut dokternya, dia harus sehat. Dan agar itu terjadi, Lia tak boleh melewatkan jam makan sekalipun. Lia juga harus cukup berolahraga dan beristirahat agar tetap fit, dengan begitu kejiwaannya juga tak akan terganggu.
__ADS_1
Baru saja menutup pintu, Lia melihat dokternya menunggu sambil bersandar di depan mobil. "Om dokter?" Lia mengernyit heran kenapa dokternya bisa ke rumahnya sepagi ini.
"Harusnya kamu menyapa daripada mengernyit bingung begitu," tukas si dokter menunjuk dahi Lia yang berkerut.
"He-he, selamat pagi, om dokter!" sapa Lia memamerkan senyum yang terbilang cukup lebar.
"Hmm, pagi," balas si dokter. "Masuk, biar saya antar!" lanjut pemuda itu membukakan pintu mobil untuk Lia. Bagai terhipnotis, Lia mengikuti dalam keadaan bengong.
Dokter Putra tersenyum tipis. "Jangan bengong, nanti kesambet!" tegur dokter muda itu sedikit usil.
"Kebetulan lewat," balas Putra beralasan.
"Semoga tiap hari Om dokter kebetulan lewat, ya. Jadi saya bisa duduk manis di kursi ber-AC seperti ini tiap pergi sekolah!" ucap Lia jujur.
__ADS_1
Putra tersenyum simpul. "Berharaplah lebih tulus lagi!" katanya menimpali.
"Eh, aku udah tulus, kok. Masih kurang, ya?" gumam Lia mempertanyakan ketulusannya saat dia berucap tadi. Dokter Putra tak menjawab, dia hanya tersenyum lalu melakukan mobilnya menuju sekolah Lia.
"Om dokter, semalam kakak saya bilang apa?" tanya Lia penasaran, pasalnya sang kakak tak menuliskan apa yang kedua orang ini bicarakan hingga harus bertemu.
Dokter Putra mengetuk-ngetuk setirnya saat menunggu lampu merah berganti. "Hanya bertanya ini-itu soal kesehatan kamu, Lia." mobil yang mereka tumpangi kembali melaju saat lampu lalu lintas sudah berubah hijau.
"Kenapa? Kamu gak percaya?" tanya si dokter.
Lia mengangguk ragu. "Biasanya kakak akan menulis apapun yang dia lakukan, bahkan jika itu hal yang tak penting. Tapi kali ini kakak tak meninggalkan catatan apapun, om dokter," cicit Lia.
"Kalau itu saya kurang tahu," ucap Dokter Putra cepat. "Sudah sampai, belajar yang giat!" lanjut pemuda itu saat mobilnya sudah sampai di depan gerbang sekolah Lia.
__ADS_1
Lia mengangguk paham, dia segera turun. "Makasih tumpangannya," katanya sebelum berbalik pergi. Putra menatap Lia hingga gadis itu menghilang di balik kerumunan siswa lain.
"Sepertinya aku yang mulai gila sekarang?" gumamnya kembali melajukan mobilnya ke tempat kerjanya. "Apa yang harus kulakukan?" desah dokter muda itu menghela napas panjang.