Berkah Atau Musibah

Berkah Atau Musibah
13.


__ADS_3

Pagi menjelang, Dokter Putra sejak tadi berkutat di dapur. Dia membuat sarapan ringan dengan beberapa resep yang sering dia buat. "Pagi, om dokter!" sapa Lia yang terlihat segar sehabis mandi.


"Pagi, bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya si dokter seraya mematikan kompor.


"Sangat, bahkan aku tak bermimpi apa pun!" ucap Lia cepat.


"Sarapan dulu, ada yang ingin saya bicarakan dengan anda sebagai 'Dokter'!" Lia mengangguk mengerti, gadis itu menyantap sarapan yang dibuatkan si dokter setelah dia mengucapkan terima kasih.


Denting piring dan sendok memenuhi ruang makan Lia yang berukuran sedang, Lia menyantap makanan yang dibuatkan untuknya dengan tak sabar, bukan hanya karena dia sangat ingin tahu apa yang akan dibicarakan dokternya, gadis itu juga sangat menyukai sarapan pagi ini. Cukup lama dia makan sendirian, alangkah baiknya jika ini bisa terus terjadi. Mungkin dia akan bisa menekan kegilaan yang dia rasakan akhir-akhir ini.

__ADS_1


...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...


Kini Lia dan Dokter Putra duduk berhadapan di ruang tamu, dokter muda itu menatap pasiennya dengan serius. "Anda ingin berbicara apa dengan saya, dok? Sepertinya sangat penting?" tanya Lia yang tak suka dengan keheningan yang menggantung di atmosfer rumahnya.


Dokter di depannya pun menghela napas seolah meyakinkan diri kalau dia harus berbicara agar pasiennya tahu apa yang sebenarnya terjadi. "Begini, Lia, saya ingin menceritakan sesuatu yang saya alami dan ini mungkin terdengar gila atau tak masuk akal sama sekali?!" suara tegas nan serius, si dokter merasa tak boleh menutupi apa yang menjadi penyebab kegelisahan pasiennya.


"Baiklah kalau kamu berkata seperti itu. Semalam, setelah kamu pergi ke kamar untuk beristirahat, tak lama seseorang keluar dari kamar kamu. Saya berbicara dengan orang itu cukup lama dan kemungkinan orang yang saya temui itulah yang membuat kamu berpikir kalau ada hal-hal aneh yang mengganggu kamu."


"Tunggu, apa dokter terlalu lelah sehingga ikut berhalusinasi seperti saya juga? Atau keluhan-keluhan saya yang membuat anda seperti itu? Tak ada seorangpun di sini selain saya, setidaknya itu yang harus saya yakini agar saya tidak semakin terjerat dalam halusinasi yang diciptakan otak saya!"

__ADS_1


"Jujur, diawal saya juga tak percaya dengan hal yang tiba-tiba terjadi semalam. Orang yang saya temui terlihat cukup tak bersahabat karena melihat orang asing seperti saya di sini, setelah kamu berbicara, kamu berdua saling bertanya dan menjawab beberapa pertanyaan!"aku si dokter dengan wajah serius.


"Dan, siapa orang yang anda maksud, dok? Apa saya mengenal dia?" tanya Lia sedikit berharap meski itu tak mungkin terjadi.


"Kamu bisa melihatnya sendiri!" Dokter Putra menggeser ponselnya, di layar ponsel tersebut tertera foto si dokter bersama dengan seseorang yang sangat-sangat dikenal oleh Lia.


Lia menangis menatap foto yang sangat dirindukannya itu. "Bagaimana? Bagaimana mungkin?" Lia menutup mulutnya tak percaya.


"Tolong ceritakan lebih banyak pada saya. Kumohon?!" pinta Lia menatap sungguh-sungguh dokternya. Dokter muda itu pun menceritakan semuanya secara perlahan agar pasiennya tak terlalu terkejut. Lia hanya bisa menangis, dia mengira dirinya ditinggalkan sendirian, siapa yang mengira bahwa hal tak masuk akal begini bisa terjadi. Kakaknya menguasai waktu malamnya ketika Lia tertidur, meski tak bisa bertatap muka, tetapi Lia merasa itu sudah cukup dengan mengetahui fakta bahwa sang kakak menemani dirinya sekarang, entah keadaan ini akan bertahan sampai kapan. Tapi, Lia akan memanfaatkan keadaan ini dan berbagi cerita dengan sang kakak.

__ADS_1


__ADS_2