
"Dokter duduk aja, biar saya yang beresin meja sekaligus nyuci piring." tangan Lia dengan cepat bekerja, merapikan meja, mengangkat bekas piring yang mereka berdua pakai, dan menyuci piring-piring kotor tersebut.
"Harusnya saya tadi yang menggantikan kamu, katanya kamu capek, kan?" ucap si dokter ketika Lia telah menyelesaikan semuanya.
"He-he, gak apa-apa, om dokter. Udah biasa, sedikit gini juga, kok," timpal Lia cepat.
Dokter Putra menatap Lia degan seksama, jari tangannya mengetuk-ngetuk meja. "Kenapa, om dokter? Ada yang salah?" tanya Lia yang merasa aneh ditatap dengan seksama oleh dokternya.
Dokter Putra menggeleng tenang. "Tidak, aku hanya kepikiran sesuatu," aku di dokter tanpa melepas tatapannya dari Lia.
"Oh, he-he," balas gadis itu tertawa canggung. Dia bingung harus menanggapi seperti apa.
"Kamu tak ingin tahu?" tanya si dokter berpangku tangan di dagu.
Lia pun ikut-ikutan berpangku tangan juga. "Haruskah saya bertanya?" ucap sang gadis mengumpulkan kembali keberaniannya. Lia sedikit bersyukur karena dirinya memiliki kekurangan, dengan begitu dia seperti memiliki kepribadian ganda. Lia terlalu cepat mengubah emosi yang dirasakannya terkadang.
"Mungkin?!" balas Putra singkat menyandarkan punggungnya ke kursi.
__ADS_1
"Hmm, entah kenapa, meski saya sangat ingin tahu, saya seperti diperingatkan agar tak bertanya!" aku Lia jujur.
Dokter muda itu menarik sudut bibirnya ke atas. "Padahal kalau kamu bertanya, saya akan menjawab dengan jujur, loh," pancing pemuda itu dengan tatapan jenaka.
"Arghh, jangan diteruskan atau saya tak akan bisa menahan rasa penasaran saya, om dokter!" teriak Lia seraya menutup kedua telinganya dengan tangan.
Dokter muda di depan Lia malah tertawa renyah melihat tingkah pasiennya itu. "Baiklah, baiklah, akan kukatakan meski kamu tak bertanya, Lia." Lia menatap serius dokternya, apa kali ini dia akan mendengar rahasia si dokter, gadis itu cukup antusias menunggu si dokter melanjutkan ucapannya.
"Saya teringat tentang ucapan kamu semalam," aku dokter muda itu serius.
"Ya?" tanya Lia memastikan, dia terlalu banyak bicara semalam, jadi dia tak tahu yang mana yang dokternya ingat sekarang.
"Bukan begitu, om dokter. Saya hanya memastikan, perkataan yang mana yang om dokter maksud," jelas Lia cepat.
"Ajakan nikah, Lia?!" sahut Putra menatap lurus Lia. "Ayo kita lakukan seperti yang kamu katakan!" lanjut pemuda itu sangat serius.
"Hah? Huh? Gimana?" tanya Lia seolah tak bisa berpikir.
__ADS_1
Dokter Putra tersenyum tipis. "Saya akan melamar setelah kamu lulus sekolah!" jawab pemuda itu lancar.
"Jangan bercanda?!" kata Lia tertawa tak percaya.
"Saya tak pernah seserius ini!" balas Putra cepat.
"Bagaimana dengan keluarga anda? Tak akan ada yang mau memiliki seseorang seperti saya sebagai keluarga mereka?!" ucap Lia sadar diri.
"Saya yang menikah dan saya juga yang akan menjalani kehidupan setelahnya. Jadi saya hanya butuh restu! Mereka tak perlu tahu, tapi kita juga tak harus berbohong!" tatapan serius menjadi bukti kalau dokternya ini tak sedang main-main. Lagipula mana mungkin dokternya itu bercanda sampai seperti ini.
"Apa yang membuat anda berubah pikiran?" tanya Lia ingin tahu. "Apa karena rasa kasihan?" Lia membuang pandangannya ke arah lain, dia benci melihat dirinya dikasihani.
Putra mengangkat bahunya ringan. "Entahlah, tapi yang jelas ini bukan rasa kasihan, simpati, atau iba. Saya hanya memutuskan sesuai dengan apa yang logika saya terima. Kamu bisa menganggap ini sebagai kontrak yang saling menguntungkan. Saya tak akan diganggu oleh perawat-perawat lagi dan rahasia kamu tetap aman karena saya tahu semuanya!" Lia terdiam, dia tahu seharusnya dia menerima saja dengan cepat, tapi entah kenapa dia merasa dikasihani hanya karena masalah yang dialaminya.
"Berikan saya waktu untuk mempertimbangkan!" pinta Lia.
"Sebanyak yang kamu butuhkan!" balas Putra tersenyum tipis.
__ADS_1
...°°°°°...
...══════❖•ೋ° °ೋ•❖══════...