
Tamu yang datang yang mengetuk pintu tanpa etika, bahkan berteriak cukup kencang kalau akan melaporkan si dokter, sukses menarik perhatian orang-orang yang kebetulan lewat di depan rumah Lia. Sang dokter harus cukup bersabar dan menahan emosi, kepalanya memperingatkan kalau akan ada masalah jika dia terlalu menanggapi tamu di depannya ini.
"Saat ini pemilik rumah tak bisa menemui anda, kalau anda memiliki pesan, nanti akan saya sampaikan, atau anda bisa datang kembali nanti!" kata Dokter Putra berusaha bersikap ramah.
"Kamu pasti penjahat! Keponakan saya pasti kenapa-napa di dalam, ya kan?" tuduh orang di depannya membuat Putra mengetatkan rahangnya marah.
"Tolong jangan menuduh sembarangan, saya bisa menuntut anda karena telah mencemarkan nama baik saya, nyonya?!" kata Putra membuat wanita dengan dandanan menor di depannya ini.
"Huh, katakan pada ponakan saya kalau bibinya yang paling cantik datang berkunjung!" dengus si wanita memuji dirinya sendiri.
Putra mengangguk singkat. "Akan saya sampaikan seperti yang anda inginkan?!" balas sang dokter cepat.
"Kalau kamu bukan penjahat, lalu ... siapa kamu?" tanya si bibi penasaran.
__ADS_1
Putra berpikir sejenak, dia tak mungkin mengatakan kalau dirinya seorang dokter. Dia tak tahu apa orang yang mengaku sebagai bibi dari pasiennya ini tahu bagaimana kondisi keponakannya. "Saya pacar Lia, saya datang untuk mengisi kulkas kekasih saya yang terlalu malas untuk belanja!" Dokter Putra berbohong tanpa berkedip, bahkan ekspresi wajahnya tidak berubah.
"Astaga, anak kecil zaman sekarang, bukannya sekolah dengan benar malah main pacar-pacaran. Putus, patah hati, nangis sepanjang hari, haduh." keluh si bibi sok perhatian.
"Terima kasih atas perhatian anda, bibi. Saya dan Lia yang akan menjalani masa depan kami dan kami yakin kami akan bahagia!"
"Huh, ya sudah permisi. Jangan lupa sampaikan pesan saya?!" si bibi dengan dandanan menor pun melangkah sok anggun, dia masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan rumah ponakannya.
...ೋ❀❀ೋ═══ • ═══ೋ❀❀ೋ...
Lia menguap seraya meregangkan tubuhnya, badannya merasa jauh lebih segar setelah tidur beberapa saat. Gadis itu pun segera keluar dari kamar setelah mencuci wajahnya. "Om dokter masih di sini?" tanya Lia yang mengira Dokter Putra akan pulang saat dia tertidur.
"Ya, ada yang ingin saya pastikan sebagai dokter. Dan sebagai seorang pria, saya tak bisa meninggalkan seorang gadis yang sedang tidur sendirian tanpa mengunci pintu rumah! Jadi, saya menunggu sampai kamu terbangun dulu!" aku si dokter.
__ADS_1
"He-he-he, maaf sudah membuat om dokter repot," ucap Lia tertawa cengengesan.
"Tak apa. Oh ya, tadi bibi kamu datang!"
"Bibi? Yang mana?" tanya Lia, sejak orang tuanya meninggal sangat jarang ada yang berkunjung ke rumahnya.
"Hmm, katanya dia bibi kamu yang paling cantik!" sahut Putra berkata tanpa ekspresi.
"Huh? Bibi paling cantik?" Lia berpikir sesaat. "Ah, apa dandanannya terlalu heboh?" tebak Lia memastikan. Si dokter mengangguk malas.
"Tapi buat apa Tante Nita datang kemari?" gumam Lia. Dokter Putra mengangkat bahu acuh, mana dia tahu apa niat si bibi aneh itu, dia dokter, bukan peramal.
Dokter Putra pamit pulang, dia juga harus mengerjakan pekerjaan rumahnya. Tak lupa sang dokter menyuruh Lia untuk makan makanan yang dibuatnya saat pasiennya itu tidur. Lia mengangguk dengan senang hati, dia juga mengucapkan terima kasih atas kebaikan dokternya hari ini.
__ADS_1