
Menutupi kebohongan sang dokter yang mengaku-ngaku sebagai kekasihnya, Lia pun mengarang cerita tentang pertemuan mereka. Lia berkata mereka bertemu secara tak sengaja saat pacarnya itu menolong dirinya yang kecopetan, entah cerita dari mana yang menginspirasi Lia hingga cerita kebohongan itu mengalir dengan lancarnya.
Tante Nita terus menanyakan soal Putra, apa pekerjaan pemuda itu, dimana dia tinggal, apa pekerjaan orang tuanya, pengusaha atau bukan, dan masih banyak pertanyaan lainnya yang menurut Lia tak penting untuk dijawab.
"Jadi, tante ada perlu apa kemari?" sela Lia cepat, dia tak ingin mendengar lebih banyak pertanyaan tentang dokternya.
"Kan sudah tante bilang tadi, tante cuma pengen liatin kamu aja!" balas Tante Nita santai. Lia membuang pandangannya ke lain arah, jelas dia tak percaya dengan ucapan tantenya itu. Saat dia sendirian dan diselimuti kesedihan, sang tante bahkan tak pernah muncul meski hanya untuk mengucapkan kaya penghiburan.
Lia menarik napas panjang, dia bukan bocah kecil yang bisa ditipu hanya dengan satu perkataan manis. "Karena tante sudah melihat saya dan seperti yang tante lihat, saya baik-baik saja. Jadi, bisakah tante kembali sekarang? Saya ada perlu di luar?" Lia memasang senyum ramah yang kelewat manis untuk jadi kenyataan, tentu saja dia berbohong, dia tak punya janji atau tak ada perlu apa pun di luar. Dirinya hanya ingin sang tante segera meninggalkan rumahnya.
__ADS_1
"Tunggu!" Lia tersenyum remeh di balik punggung tangannya, dia yakin sang tante akan mengatakan apa keperluannya yang sebenarnya.
"Ya, tante?" balas Lia menaruh perhatian penuh dengan apa yang akan tantenya sampaikan.
"Emm, begini ...," ucap si tante ragu-ragu.
Lia menelengkan kepalanya ke samping. "Begini apa, tan?"
"Minta lagi saja sama om!" timpal Lia enteng.
__ADS_1
"Huh, bisa-bisa tante dipenggal sama om kamu kalau minta uang belanja tambahan lagi!" dengus wanita yang merupakan tante dari gadis ini. Lia ikut mendengus dalam hati, kalau dipenggal dia juga tak rugi, yang melayang bukan kepalanya, jadi tak masalah sama sekali baginya.
"Jadi tante maunya gimana? Cuma mau curhat gitu ke Lia?" sengaja Lia berpura-pura bodoh tak tahu maksud dari sang tante bercerita kepadanya.
Tante Nita mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah ponakannya. "Tante pinjam uang kamu, ya. Minggu depan tante ganti, deh?!" ucap Tante Nita dengan wajah memelas, dia memegang tangan keponakannya seolah ponakannya adalah satu-satunya harapan agar dia bisa terus bernapas.
Lia tersenyum kecil, menarik tangannya lalu menggaruk pipinya, tak lupa gadis itu memasang tatapan tak enak saat melihat tantenya. "Aduh ..., gimana, ya tan? Lia gak punya uang sekarang! Tahulah, Lia kan cuma anak sekolah dan kebutuhan Lia gak banyak, jadi uang jajan Lia paling banyak cuma tiga sampai lima juta. Yah, gak mungkin banget bisa dipakai untuk membeli barang limited edition yang harganya pasti selangit!" wajah si tante berubah kesal, perlakuan hangat tadi entah menghilang kemana.
"Ya, sudah kalau gitu. Tante balik dulu?!" perempuan itu berdiri dengan kasar dan pergi tanpa mengucapkan salam. Kakinya menghentak karena kesal tujuannya tak tercapai.
__ADS_1
"Katanya keluarga, katanya perhatian, gak dikasih duit aja langsung berubah garang, ck, ck, ck," decak Lia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ha-ah, begitulah rata-rata sikap keluarganya. Hanya datang disaat perlu dan selalu ingin menghisap warisan yang ditinggalkan ayahnya.
"Mending jadi keluarga om dokter aja daripada jadi keluarga kalian?!" Lia menutup pintu rumahnya, dia kembali ke kamar setelah memastikan pintu rumahnya sudah terkunci.