
Eps 12
happy reading....
ššš
"Biar kami bantu Zia." Ryung langsung berdiri mengambil piring kotor dari tangan Zia.
"Enggak usah Ryung. Biar aku aja yang beresin. Kamu duduk saja dengan yang lain." Tolak Zia atas bantuan dari Ryung.
"Tidak apa - apa. Kami sudah biasa melakukan ini semua. Ya kan Tae Su, Ji-Sung, Yong Su? Sekarang kalian bantu aku membereskan ini. Biar Zia dan Jae Su hyung disini." Ryung mencoba menciptakan ruang untuk Zia dan Jae Su.
Yang disebut namanya oleh Ryung tadi langsung mengerti kode yang diberikan olehnya. Dan mereka menuju dapur Zia untuk membersihkan bekas makan mereka.
Sementara itu, terjadi keheningan antara sepasang manusia yang ditinggalkan keempat member Blue Ring yang lain.
"Aku boleh tanya?" Tanya keduanya kompak.
Otomatis Zia dan Jae Su tatap.
"Kamu duluan." Lagi - lagi keduanya kompak mengatakan hal yang sama.
Jae Su meringis, sedangkan Zia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Emmm... Apa kamu punya kekasih?" Tanya Jae Su to the point.
"Eh...?" Zia menelengkan kepalanya mendengar ucapan Jae Su.
"Apa kamu punya kekasih?" Tanya Jae Su sekali lagi.
"Tidak. Aku tidak punya kekasih. Didalam agama ku, kami dilarang untuk pacaran." Terang Zia.
"Kenapa tidak boleh?" Tanya Jae Su heran.
"Karena berpacaran bisa menggiring manusia pada hubungan dan kegiatan suami istri, yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh yang bukan suami istri. Aku hanya mencegah diriku agar tidak jatuh dalam dosa besar." Zia memberi sedikit pemahaman tentang Islam.
"Jadi kamu tidak pernah memiliki kekasih?" Tanya Jae Su lagi. Dan dijawab gelengan dari Zia.
"Teman pria?" Haiiss.... Jae Su seperti wartawan saja.
"Hanya sekedar teman ada. Termasuk kalian berlima." Jawab Zia sambil tersenyum.
Mendengar jawaban Zia, Jae Su ikut tersenyum. Itu berarti belum ada lelaki yang menyentuhnya. Betapa beruntungnya dia bila bisa sampai mendapatkan Zia.
"Apa aku masih ada kesempatan?" Tanya Jae Su ambigu.
"Kesempatan? Kesempatan apa?" Tanya Zia bingung.
"Kesempatan untuk mendekati mu dan menjadi suami mu." Ucap Jae Su serius.
__ADS_1
Mendengar ucapan Jae Su itu, Zia berjingkat kaget, dan langsung berfikir. Dia bingung harus menjawab apa.
Ini kenapa kog jadi bahas suami - suamian ya?
"Apa kamu yakin Jae Su? Aku masih terlalu muda, latar belakang budaya kita juga berbeda. Terlebih lagi kepercayaan dan keyakinan kita juga berbeda. Lagi pula kita belum lama kenal. selain itu belum lagi untuk restu orang tua kita." Ucap Zia dengan serius.
"Aku tidak percaya akan adanya Tuhan Zia. Aku atheisme. Untuk usia, aku tidak masalah, aku bisa menunggumu. Kamu juga bisa menyelesaikan kuliah mu dulu. Baru kita menikah. Aku bisa sambil mengenalmu kan dalam masa menunggu?" Terang Jae Su dengan diselipi dengan pemaksaan.
"Dalam Islam, kami tidak boleh menikah dengan yang berbeda keyakinan Jae Su...." Zia tidak menyangka Jae Su seserius ini.
"Kalau begitu biar aku yang mengikuti keyakinan mu. Aku ingin mengenal Islam dan Tuhan kalian." Jae Su maju terus pantang mundur.
Sebenarnya Jae Su sudah mempelajari sedikit tentang Islam melalui internet.
"Jika kamu ingin mengenal Nya, maka kenali lah Dia dengan hatimu. Lakukan itu dengan hatimu, jangan lakukan itu hanya karena aku." Zia tidak habis fikir dengan pria didepannya ini.
"Baik lah. Akan aku lakukan sesuai perkataan mu. Lakukan dengan hati, bukan karena mu. Mau kah kau membantuku?" Pinta Jae Su pada Zia.
"Kau yakin Jae Su? Bagaimana dengan orang tuamu? Jangan mempermainkan sebuah keyakinan." Tanya Zia memastikan.
"Ya... Aku yakin dengan semua ini. Untuk orang tua ku, kamu tenang saja, aku akan membicarakan ini dengan mereka. Mereka adalah tipe orang tua dengan pikiran yang terbuka. " Ucap Jae Su mantap.
"Baik lah, aku akan membantumu. Kapan kamu siap, bilang padaku Jae Su." Zia melihat kesungguhan didirikan Jae Su.
"Hemmm secepatnya Zia." Jae Su mengangguk.
Dan kini Jae Su mencoba meraih tangan Zia untuk digenggam nya. Namun dengan cepat Zia langsung menarik tangannya.
Zia menggeleng dan berucap. " Dalam Islam, wanita dan laki - laki yang bukan mahram dilarang bersentuhan, Jae Su?"
"Mahram? Apa itu?" Tanya Jae Su.
"Mahram itu orang yang halal atau boleh disentuh oleh kita." Jawab Zia.
Zia senang Jae Su ingin mengenal agama nya dan Tuhannya. Semoga ini menjadi awal yang baik.
Dan tanpa Zia dan Jae Su sadari, ada empat pria yang tengah mengintip mereka berdua melalui tirai jendela kost an Zia.
"Apa yang mereka bicarakan? Sepertinya serius sekali? Apa hyung melamar Zia? Cepat juga langkah Jae Su hyung kita ini." Cerocos Ryung ingin tahu.
"Sudah kebelet kawin mungkin." Celetuk Tae Won.
"Jika kau ingin tahu, seharusnya kau ikut duduk dengan mereka saja tadi." Sungut Ji-Sung.
š² Drrrttt.... Drrrttt...
Keempat nya terkejutnya mendengar getaran dahsyat handphone Yong Su.
Tanpa menunggu lama Yong Su langsung melihat siapa yang menelepon nya.
__ADS_1
"Manager Lim." Yong Su memberi info.
š² "Ya manager Lim?"
š² "...."
š² "Bukannya kami sudah memberi tahu, kalau kami mengosongkan jadwal hari ini." Kening Yong Su berkerut mendengar penuturan manager Lim.
š² "...."
š² "Ah... Kau ini. Tak bisakah kami rehat sehari saja?" Ketus Yong Su. "Baik lah, kami kesana."
Tutttt...
"Ada apa?" Tanya Tae Won.
"Kita diminta ke agensi sekarang. Ada masalah." Yong Su langsung keluar dan di ikuti yang lainnya.
"Hyung... Kita diminta untuk ke agensi sekarang." Ucap Yong Su.
"Apa ada masalah?" Tanya Jae Su. Dan dibalas anggukan oleh keempat nya.
Jae Su mengalihkan perhatian ke arah Zia.
"Zia, kami pergi dulu. Terimakasih atas jamuannya." Jae Su menunduk hormat.
"Hemmm ya."
"Sampai jumpa lagi Zia." Pamit Ryung langsung melangkahkan kakinya, diikuti dengan yang lain. Tak lupa memberi salam perpisahan.
"Aku pergi dulu. Hati - hatilah dirumah." Pamit Jae Su dengan senyuman.
Zia hanya mengangguk. Dan tak lama Jae Su pun berlalu.
Kini Zia hanya bisa termenung mengingat pembicaraanya tadi dengan Jae Su. Untuk masalah Jae Su ingin mengikuti kepercayaan nya, Zia merasa senang. Tapi untuk masalah pernikahan? Sepertinya Zia sedikit ragu.
Tak lama Blue Ring pergi, kini giliran Joana yang nongol di kos Zia. Dia datang terlambat dari jam undangan Zia.
"Hoy.... Zia..." Joana menepuk pundak Zia yang sedang melamun.
"Astaghfirullah.... Joana. kamu ngagetin aja sih." gerutu Zia.
"Ya habis kau ngelamun terus, sampai - sampai dipanggil gak dengar. Eh... udah pada pulang tamu mu Zi?" tanya Joana yang melihat kos Zia sudah sunyi.
"Udah. Belum lama juga mereka balik. kamu ketinggalan makanan sisa. Habis lama banget datangnya." canda Zia.
"Kalau sisanya masih banyak aku sih seneng - seneng aja Zi." cengir Joana.
Zia hanya bisa menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
...****************...
...ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦...