Bidadari Sang Idol

Bidadari Sang Idol
Eps 21


__ADS_3

Eps 21


happy reading....


šŸ’žšŸ’žšŸ’ž


Hah...hah...hah....


Terdengar helaan nafas dari dua orang yang lagi ngos - ngosan dengan wajah memerah menahan lelah.


"Ya Allah.... Gini ternyata rasanya dikejar paparazi." Keluh Zia sambil terus berlari.


"Apa yang kamu katakan?" Tanya Jae Su, ia tak mengerti dengan ucapan Zia yang menggunakan bahasa aslinya.


"Capeknya ya Allah.... Mereka masih ngejar gak sih?" Zia terus menggerutu dan sesekali melihat ke belakang.


Dan sepertinya situasi sudah aman. Tapi lebih baik mencari tempat persembunyian dulu, untuk merehatkan diri dari aksi kejar - kejaran ini.


"Berhenti Jae Su. Kayaknya udah aman." Ucap Zia. Iya terbungkuk sambil mengatur nafasnya.


Melihat Zia menghentikan larinya, Jae Su pun mengikuti hal yang sama. Sambil melihat sekeliling. Dan Zia benar, setelah beberapa saat mereka berhenti, ternyata sudah tak ada lagi paparazi yang terlihat mengejar mereka.


"Sepertinya kamu benar - benar lelah. Ayo cari tempat yang aman untuk istirahat." Ucap Jae Su.


Mereka berdua celingak - celinguk mencari tempat yang aman.


"Jae Su, itu ada mesjid. Lebih baik kita istirahat disana." Tunjuk Zia pada sebuah bangunan yang sangat jarang ada di Korea.


"Ya. Aku rasa mesjid adalah tempat teraman untuk kita. Ayo..." Ajak Jae Su. "Sekalian kita shalat ashar." Kemudian dia melihat arloji nya. Dan memang, sebentar lagi memasuki waktunya sholat ashar.


Mereka berdua bejalan menuju sebuah mesjid yang tak terlalu jauh dari mereka berada. Tampak beberapa orang yang sedang beraktifitas didalamnya.


"Assalamualaikum..." Keduanya mengucapkan salam saat memasuki dalam mesjid.


"Wa allaikumussalam,..." Sahut para muslimah yang ada disana dengan seulas senyum tulus.


Sambil menunggu waktu shalat yang sebentar lagi, Zia mengambil duduk menyender dinding untuk merilekskan tubuhnya kembali, di ikuti Jae Su yang duduk tak jauh darinya dan membuka masker dan topinya. Dan tampaklah wajah tampan yang belum lama ini dikejar oleh para pemburu berita.


"Apa kamu sering seperti ini Jae Su? Dikejar - kejar paparazi jika sedang diluar?" Tanya Zia yang mulai penasaran dengan kehidupan yang dijalani oleh orang didekatnya ini.


"Tidak. Ini pertama kalinya. Dan terjadi disaat sedang bersama wanita yang sangat spesial bsgiku." Jawab Jae Su yang diselingi sedikit godaan. "Biasanya jika salah satu dari kami pergi, maka akan ada dua atau tiga bodyguard yang menjaga." Sambungnya.


"Dan sekarang kemana para bodyguard mu?" Zia heran, kenapa tidak ada bodyguard yang dimaksud Jae Su, sampai - sampai mereka harus kucing - kucingan dengan paparazi.


"Aku tidak membawa mereka. Karena aku hanya ingin berdua saja pergi denganmu."


Ini adalah hal terkonyol yang pernah terjadi disaat dia sudah menjadi bintang. Dan ini cukup menyenangkan baginya. Namun tidak bagi Zia.

__ADS_1


" Untung aku bukan artis." Gumam Zia pelan.


Ucapan Zia itu sontak membuat alis Jae Su tertaut. " Memangnya kenapa?"


"Ya karena aku gak harus jadi sorotan orang banyak. Kalau aku jadi artis nih, pasti aku gak leluasa bergerak, berekspresi, dan ber ber lainnya." Tukas Zia.


Jae Su mengangguk. "Hemmm... Kamu benar, segala sesuatu jadi terbatas." Tapi ini lah resikonya menjadi seorang idol.


"Gak kebayang kalau aku jadi jodoh kamu. Aku rasa kalau aku buang kotoran idung dimana, aku rasa mereka akan berusaha buat cari tuh tempat." Sewot Zia.


Jae Su yang mendengar perkataan abstrut Zia hanya bisa tertawa. Belum apa - apa dia sudah sefrustasi ini.


Terlihat seorang berdiri tegak disebelah mimbar untuk mengumandangkan adzan. Zia dan Jae Su sontak bergegas mengambil wudhu, dan ikut shalat berjamaah.


Setelah selesai shalat, mereka masih berdiam diri di mesjid untuk beberapa saat. Sambil menunggu pesanan taksi mereka tiba.


Mereka memutuskan pulang menggunakan taksi saja. Jika mereka kembali ke tempat tadi, dikhawatirkan masih ada paparazi yang menunggu mereka disana.


untuk masalah mobil yang ada disana, Jae Su akan memerintahkan orang untuk mengambilnya nanti.


šŸ“² Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...


Getaran ponsel Jae Su terdengar oleh keduanya.


Tampak nama kontak tertera adalah Yong Su.


šŸ“² "Kau dimana Hyung?"


šŸ“² "Aku sedang bersama Zia. Ada apa?


šŸ“² "Bisakah kau ke apartemen Ji-Sung? Urgent."


šŸ“² "Baiklah. Aku akan mengantar Zia dulu."


šŸ“² "Bawa saja dia sekalian. Mungkin Zia akan bisa membantu juga."


šŸ“² "Ada masalah apa?"


šŸ“² "Sudah lah. Nanti saja bertanya nya. Yang terpenting sekarang kalian kemari dulu."


šŸ“² "Ok."


Tut tut Tut


Jae Su mengakhiri panggilannya.


"Ada apa?" Tanya Zia penasaran.

__ADS_1


"Kita ke apartemen Ji-Sung terlebih dahulu. Setelah itu akan aku antar kamu." Terang Jae Su.


"Tidak usah. Aku akan pulang sendiri." Zia takut akan menunda pertemuan yang sepertinya penting.


"Yong Su juga meminta mu ikut dengan ku." Ucap Jae Su.


"Kenapa?" Zia kog jadi penasaran. Apa berita tentang mereka berdua sudah rilis? Secepat itu kah?


"Entah lah." Jae Su mengedikkan bahunya.


Setelah sampai di apartemen Ji-Sung, mereka berdua melihat enam orang dewasa dan seorang...? Bayi?


Betapa terkejutnya Zia dan Jae Su melihat itu. Apa lagi ini? kenapa ada masalah seperti ini?


Tadi dirinya dan Zia dikejar paparazi. Dan sekarang?


Kepala Jae Su seakan mau meledak rasanya.


"Anak siapa ini? Bisa jelaskan dimana kalian mendapatkannya?" Jadi ini masalahnya, fikir Jae Su.


"Tadi waktu kami lagi ngobrol, tiba - tiba datang tamu. Dan itu adalah mantan kekasih Ji-Sung. Dan wanita itu memberikan bayi ini kepada nya. Wanita itu berkata kalau bayi ini adalah anaknya dan Ji-Sung." Yong Su menjelaskan permasalahannya.


"Kau punya anak, tapi tidak mengetahuinya atau pura - pura tidak tahu?" Kini tatapan Jae Su beralih ke Ji-Sung.


"Aku benar - benar tidak tahu Hyung." Ji-Sung tertunduk lesu.


"Kenapa tidak melakukan tes DNA?" Zia memberi usul.


"Kau tidak nampak, wajah bayi ini begitu mirip dengan Ji-Sung. Tanpa melakukan tes DNA pun orang - orang sudah tahu kebenaran nya." Sewot Jenny, yang sedang menahan marah dan kecewa.


"Apa salahnya dicoba untuk memastikan." Ucap Zia sambil memandang bayi yang sedang asik bergumam sendiri.


"Lucu banget sih... Gemes banget." Ingin rasanya Zia menggigit pipi chubby itu.


Tanpa sungkan Zia langsung menggendong bayi gembul itu. Menimangnya dengan sayang dan mengecupnya dengan mesra.


"Sepertinya Zia sudah siap memiliki bayi dari mu Hyung. Kapan kau akan menikahi nya?" Goda Ryung penuh provokatif.


Jae Su tersenyum melihat interaksi Zia dan bayi itu. Hatinya menghangat melihat sisi ke ibuan Zia.


Tak sabar rasanya ingin segera menghalalkan gadis berhijab bermata sendu itu.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


terima kasih sudah mampir di karya perdana author. jangan lupa untuk like dan komen nya ya. tambah juga kelist favorit mu.

__ADS_1


__ADS_2