
Eps 47
happy reading....
ššš
Pasangan suami istri yang sedang hangat - hangatnya itu kini tengah memilih kebutuhan bahan dapur.
Jae Su dengan setia menemani sang istri kesana dan kesini dengan mendorong troli belanjaan sudah mulai penuh.
"Sayang!" Panggil Zia dengan mesra pada suaminya.
Zia sebenarnya sedikit malu menggunakan kata 'sayang' didepan umum. Namun demi membuat wanita - wanita yang matanya selalu jelalatan melihat suaminya, mau tak mau Zia harus menunjukan bahwa dialah wanitanya Jae Su yang sesungguhnya.
"Ya?" Jae Su melihat istrinya.
"Kita kebagian bahan masakan untuk makanan Korea yuk. Kamu udah lama kan, gak makan makanan Korea. Pasti kamu kangen sama rasanya." Ajak Zia.
"Ya. Aku sedikit rindu dengan rasanya kimchi dan bimbimbab."
Keduanya menuju area bahan makanan Korea. Mereka memilih bahan mana saja yang boleh dikonsumsi oleh orang muslim.
Cekrek cekrek
Suara bidikan kamera terdengar oleh Jae Su dan Zia. Mereka menoleh kearah suara. Ternyata ada seorang gadis yang sedang mengambil gambar mereka.
Gadis itu tersenyum kikuk, karena perbuatannya diketahui oleh sang empu, gegara gadis itu lupa mematikan suara bidikan kamera.
"He he he... Hay!" Gadis itu melambaikan tangannya. Dan disambut senyum hangat Zia dan Jae Su.
"Boleh foto bersama?" Tanyanya ragu - ragu.
Zia dan Jae Su saling pandang. Zia mengangguk memberi izin.
Betapa senangnya si gadis bisa berfoto dengan idolanya. Dan itu berhasil menarik minat para pengunjung yang lain untuk berfoto dengan Jae Su. Namun Jae Su menolak untuk mengabulkan permintaan mereka semua.
Usai berfoto dengan gadis itu, kini keduanya melanjutkan acara belanja mereka.
"Untung kamu tolak tadi mereka yang mau foto bareng kamu. Kalau enggak, pasti aku jadi kang foto dadakan." Gerutu Zia.
"Yang sabar sayang. Memang pesonaku ini tidak akan pernah luntur." Ucap Jae Su dengan PDnya.
Zia hanya mencebik karena kepercaya dirian Jae Su yang tinggi.
****
"Tuan!" Hansel membungkuk memberi hormat.
"Ya paman?" Sahut Jae Su.
"Ini laporan tentang pemasaran produk baru kita." Hansel memberikan berkas laporan itu pada tuannya.
Jae Su mempelajari laporan itu dengan seksama. Dan hasilnya diluar perkiraan mereka.
__ADS_1
Belum ada satu bulan produk dipasarkan, produk dengan JF fashion sudah ludes, habis terjual.
"Seperti perkiraan tim marketing. Produk kita laris dipasaran." Hansel menjeda ucapannya. "Dan tadi saya mendapat telefon dari calon investor yang ingin menanam saham di perusahaan kita."
"Apa paman sudah mencari tahu tentang calon investor kita itu? Kita harus tetap berhati - hati paman." Tutur Jae Su.
"Masih dalam tahap pemeriksaan tuan." Jawab Hansel tegas.
"Hem. Setelah dapat informasi tentang calon investor itu, langsung konfirmasi ke aku." Perintah Jae Su.
"Baik Tuan. Saya permisi." Hansel keluar dari ruangan Jae Su.
Namun belum ada lima menit, Hansel kembali keruangan Jae Su dengan wajah puasnya.
Braak...
Pintu terbuka dengan kasar.
"Ada apa paman? Kenapa wajahmu tegang begitu? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Jae Su heran.
"Maaf Tuan. Tadi saya mendapat kabar dari OB, bahwa sekarang nyonya sedang berada di klinik perusahaan."
"Apa?" Jae Su langsung berdiri dan panik. "Ada apa dengan Zia?"
"Tadi OB bilang, bahwa nyonya tadi pingsan dilobi." Jawab Hansel.
Tanpa menunggu lama, Jae Su langsung berlari menuju klinik perusahaan. Ia sungguh khawatir akan terjadi sesuatu pada sang istri.
Di klinik tampak sang istri yang belum sadarkan diri dengan wajah sedikit pucat.
Seorang dokter menghampiri Jae Su.
"Tuan!" Panggilnya.
Jae Su menoleh kearah sang dokter. Menanti apa yang akan diucapkan dokter itu.
"Sebaiknya Tuan membawa nyonya kerumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut ke dokter obgyn." Tutur sang dokter.
Kening Jae Su mengerut. "Dokter obgyn?"
"Ya Tuan. Menurut hasil pemeriksaan saya, nyonya saat ini tengah mengandung. Dan untuk memastikan usianya, anda bisa mendatangi dokter obgin." Tutur sang dokter.
"Zia hamil?" Tanya Jae Su dengan perasaan campur aduk.
"Ya Tuan." Jawab dokter itu lagi.
"Selamat Tuan. Penerus keluarga Park akan hadir." Hansel turut berbahagia dengan kabar baik ini.
"Alhamdulillah. Terima kasih ya Allah." Ucap Jae Su lirih sambil meneteskan air mata bahagianya.
Jae Su mengecup seluruh wajah istrinya yang tak kunjung sadarkan diri.
Jae Su benar - benar bahagia. Baru dua bulan ia menikah, dan kini sudah diberi hadiah terindah dari sang Pencipta.
__ADS_1
"uuughh..." Zia melenguh mulai tersadar. "Jae Su?" Kening Zia mengerenyit.
"Sayang! Kamu udah bangun?"
"Aku kenapa?" Tanya Zia.
"Tadi kamu pingsan dilobi." Jawab Jae Su. "Kita akan punya baby, sayang." Bisik Jae Su ditelinga Zia.
Zia tertegun mendengar bisikan Jae Su. Ia hamil? Benar kah?
Zia memandang suaminya. Ia masih belum percaya akan yang dikatakan oleh Jae Su.
Melihat reaksi tak percaya istrinya, Jae Su mengangguk kembali. " Kamu hamil." Ucap Jae Su kemudian mencium kening Zia.
****
"Selamat Tuan. Istri Anda tengah mengandung enam minggu. Dan keadaan bayinya untuk saat ini sehat." Ucap dokter kandungan itu. "Apa ada keluhan Nyonya?"
"Tidak ada Dok. Selama ini aman - aman saja." jawab Zia.
"Apa ada hal yang harus dihindari, Dok?" Tanya Jae Su.
"Untuk saat ini, karena usia kandungan masih rawan, hal yang harus Tuan dan Nyonya hindari adalah frekuensi menjenguk baby nya lebih dikurangi ya." Ucap dokter itu sambil tersenyum.
Karena ia tahu, kebanyakan para calon ayah akan menjadi frustasi bila menyangkut dalam hal mengurangi frekuensi ber cinta dengan pasangannya yang tengah hamil di trimester pertama.
"Be, be gitu kah Dok?" Wajah Jae Su pias seketika.
Sang dokter pun mengulum senyumnya melihat raut wajah tak rela calon ayah baru ini.
"Ya Tuan."
"Jadi kapan saya sudah bisa sering melakukannya Dok?" Tanya Jae Su tanpa malu, demi kesejahteraan burung perkututnya, ia rela bertanya seabstud itu.
Plaakk
Jae Su mendapat timpukan dari Zia tepat dilengannya. Sungguh. Zia malu mendengar pertanyaan itu.
"Jika keadaan ibu dan calon bayi baik - baik saja, dalam usia kandungan empat bulan bisa langsung tancap gas Tuan. Tapi ingat, ritmenya harus tetap perlahan. Kan kasian nanti baby nya kena gempa akibat ayah ibunya." Kini sang dokter ikut - ikutan bicara abstrud.
"Berarti hanya perlu bertahan dua bulan lagi." Gumam Jae Su sambil menghitung waktu hiya hiya akan terlaksana dengan bebas.
Plaakk
Kini giliran paha Jae Su yang menjadi sasaran Zia.
Jae Su hanya tersenyum mendapatkan plototan istrinya.
"Dan untuk Nyonya, dijaga asupan gizinya ya. Biar baby nya tambah sehat. Saya akan meresepkan kapsul penambahan darah dan vitamin untuk Nyonya konsumsi. Jangan lupa minum susu khusus ibu hamil ya. Dan harus rutin check up ya, buat tahu kondisi perkembangan janinnya." Dokter itu tersenyum.
"Baik Dok. Terima kasih."
...****************...
__ADS_1
...ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦...