Bidadari Sang Idol

Bidadari Sang Idol
Eps 28


__ADS_3

Eps 28


happy reading...


šŸ’žšŸ’žšŸ’ž


Tok tok tok tok....


Terdengar ketukan pintu dikamar Zia.


"Zi... Udah siang, ayo makan dulu, ajak Jae Su. Pasti dia udah lapar." Teriak bunda dari luar kamar.


" Iya Bun." Sahut Zia.


Ceklek...


Zia keluar dan menuju kamar tamu untuk memanggil Jae Su.


Tok tok tok....


"Jae Su. Ayo kita makan siang dulu. Udah ditungguin bunda." Serunya dari luar.


Kini Zia memilih berbicara menggunakan bahasa Indonesia, agar Jae Su lebih terbiasa lagi nanti saat dirinya menetap di Indonesia.


Ceklek...


Pintu dibuka. Tampak sosok Jae Su dengan muka bantalnya.


"Masha Allah.... gantengnya calon imam aku." Gumam Zia dalam hati.


Jae Su tersenyum melihat Zia yang tertegun menatapnya, akhirnya sang pujaan hati sudah masuk dalam pesonanya.


"Maaf aku ganggu tidur kamu." Zia sedikit kikuk karena telah mengganggu waktu istirahat Jae Su.


"Emm, tak masalah. Aku juga sudah lapar." Ucapnya dengan seulas senyum menawan dan mempesona.


"Ya udah, yuk, udah ditunggu bunda." Zia berjalan terlebih dahulu, lalu disusul oleh Jae Su.


"Siang bibi." Sapa Jae Su pada bundanya Zia.


"Siang juga Jae Su. Ayo sini makan dulu. Pasti kamu udah lapar kan?" Sambut bunda antusias dengan kedatangan Jae Su. Kapan lagi bisa puas liat yang bening - bening begini, pikirnya.


"Maaf ya. Cuma ada makanan Indonesia. Bibi belum sempat cari bahan masakan ala Korea." Sambungnya lagi.

__ADS_1


"Tidak apa bibi. Saya suka. Saya pernah makan makanan ini." Tunjuknya pada wadah yang penuh dengan rendang. "Ini rendang daging sapi kan?" Tanya Jae Su untuk memastikan kembali.


"Iya. Ini namanya rendang. Kamu sudah pernah mencicipinya ternyata. Ini salah satu makanan kesukaan Zia." Ucap bunda.


Jae Su mengangguk. "Zia pernah memaksakannya untuk ku dan teman - temanku waktu di Korea."


"Oh. Zia memang sering minta kirimin bumbu - bumbu masakan Indonesia. Tapi cuma bumbu instan aja yang bibi kirim. Kalau nanti bumbu yang belum diolah yang bunda kirimkan, pasti sampai sana bakal busuk." Ucap bunda mencoba mengakrabkan diri pada tamunya.


Setelah sedikit bicara basa - basi, mereka memulai makan siangnya dengan hikmat.


Terlihat Zia dan Jae Su sangat menikmati hidangan yang disajikan oleh bunda Rumi. Sudah lama sekali rasanya Zia tidak makan masakan bundanya.


Rumi senang, kini ia mulai bisa kembali memaksakan anaknya makanan - makanan yang disuka anaknya.


Tak lama setelah selesai dengan makan siangnya, mereka melaksanakan shalat djuhur berjamaah dengan Jae Su sebagai imamnya. Ini pertama kali bagi Jae Su menjadi imam shalat. Walaupun ia sedikit ragu, namun Zia meyakinkannya bahwa ia pasti bisa menjadi imam shalat.


Selesai shalat, Jae Su mengajak bunda untuk berbicara serius padanya.


Dan disinilah mereka sekarang. Duduk diruang tamu yang tak terlalu besar namun nyaman untuk jadi tempat berbincang.


"Begini bibi. Saya datang ke Indonesia sebenarnya bersama kedua orang tua ku. Tapi mereka saat ini tengah beristirahat di rumah kami yang ada di Indonesia." Jae Su menjeda ucap nya. "Saya dan kedua orang tua ku datang kemari ingin melamar Zia sebagai istri saya." Lanjutnya lagi.


Bunda Rumi masih diam, sedikit terkejut mendengarkan ucapan dan maksud Jae Su datang kerumahnya.


Kini bumda memandang Zia yang sedang tertunduk, tak berani melihat bundanya, dan sedang menantikan jawaban dari sang bunda.


"Kalau kamu sendiri gimana Zi? Kamu sudah setuju ingin jadi istri Jae Su?" Bukan menjawab pertanyaan Jae Su, kini bunda malah bertanya pada Zia.


"Kalau bunda kasi restu, Zia akan setuju dan terima Jae Su, Bun." Jawabnya dengan tenang.


Hemmm, ternyata putri kecilnya sudah dewasa. Sudah ada lelaki yang ingin memperistrinya.


"Kalau itu adalah hal yang terbaik untuk kalian, bunda merestui hubungan kalian. Walau bagaimanapun kalian kenal juga udah cukup lama. Belum lagi perjuangan Jae Su sampai ketitik ini. Bibi hargai usaha dari Jae Su. Jadi bawalah kedua orang tua mu kemari untuk meminta Zia pada bibi secara langsung." Tutur bunda.


"Baik bibi. Saya akan katakan pada orang tua saya." Sahut Jae Su penuh rasa bahagia.


Akhirnya, sebentar lagi ia akan dapat bersama - sama dengan wanita yang selama ini sudah mendiami hatinya begitu lama, tanpa ada status hubungan apapun.


Ia bahagia. Sangat amat bahagia. Perjuangannya selama ini untuk mengejar Zia ternyata tak sia - sia. Ingin rasanya ia melompat dan menari untuk menyuarakan isi hatinya, bahwa ia kini tengah bahagia.


****


Setelah kepergian Jae Su, kini bunda mulai disibukan dengan urusan memilih menu makan malam yang akan diadakan malam ini.

__ADS_1


"Bun, lebih baik pesan makanan dari resto aja deh Bun. Biar bunda gak terlalu repot juga. Toh yang datang hanya Jae Su sama kedua orang tuanya. Sedangkan kakak Jae Su masih di Korea untuk mengurus perusahaan mereka. disana " Ucap Zia.


"Begitu ya?" Tanya bunda memikirkan saran Zia. Zia menjawab dengan anggukan kepala.


"Ya udah deh. Biar bunda pesan dari resto aja. Lagi pula memang bahan makanan banyak yang belum dibeli. Kalau kepasar dulu, takut gak keburu nanti." Bunda menyetujui usul Zia.


Setelah urusan menu makan malam selesai, kini Zia mengekor bunda ke toko kue. Disana ia bertemu dengan Mira yang merupakan pegawai bunda yang sudah bekerja selama tiga tahun terakhir.


"Mir, kenalin ini Zia anak bunda satu - satunya yang sering bunda ceritain." Bunda memperhatikan Zia pada Mira.


"Hay mbak Zia..." Mira melambaikan tangannya menyapa Zia.


"Hay Mir, makasih ya udah nemenin kesibukan bunda selama ini."


"Mir, nanti kamu pisahin dua loyang kue ini ya. Untuk tamu nanti malam." Tunjuk bunda pada loyang loyang kue itu.


"Ok Bun." jawabnya cepat dan langsung mengerjakan yang diperintahkan bunda.


"Mbak Zia, itu tadi teman cowok mbak tadi itu kan Jae Su x-Blue Ring kan?" Tanya Mira penasaran.


"Iya." jawab Zia singkat.


"Wooaah... ternyata bener itu tadi Jae Su oppa. Aku pikir cuma mirip doang. Lebih cakepan aslinya ternyata." pujinya pada paras tampan Jae Su.


"Kamu nge fans sama Blue Ring?" Tanya Zia.


Mira mengangguk cepat. "Dari awal mereka debut aku udah nge fans sama mereka. Ganteng - ganteng banget, sumpah." puji Mira pada Blue Ring.


"Cuma suka wajahnya aja?" Tanya Zia tak percaya.


"Yang pertamakan lihat visualnya dulu mbak, abis itu baru karyanya." jawab Mira sambil nyengir kuda.


Zia hanya menggeleng melihat tingkah gadis satu ini.


Akhirnya mereka bercengkrama saling mengakrabkan diri satu sama lain. Dan ternyata Mira merupakan sosok teman yang asyik diajak bicara. Sikapnya yang humoris dan apa adanya, membuat dia merasa nyaman untuk bertukar cerita.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


thanks udah mampir šŸ™šŸ™šŸ™


jangan lupa untuk like dan komen nya ya...

__ADS_1


masukan juga ke list favorit kamu.


__ADS_2