
Eps 41
happy reading....
ššš
Toko kue bunda lumayan ramai hari ini, sampai - sampai Zia turut membantu Mira dan bunda untuk melayani pembeli.
"Eh... Kak Zia udah pulang bulan madu ya?" Sapa seorang anak tetangga kompleks sebelah yang sedang membeli kue.
Zia melihat gadis itu. Mengingat - ingat siapakah dia? Apa Zia mengenalnya? Kenapa sepertinya terlihat akrab dengan Zia?
Lumayan lama untuk Zia berfikir siapa gadis ini. Tapi nyatanya Zia tak mengingat apakah ia mengenalnya. Dan demi sopan santun, Zia tetap menjawab pertanyaan gadis itu.
Zia tersenyum. "Iya. Baru balik tadi malam."
"Uhhh... Pasti Jae Su oppa romantis ya kan kak? Duhh... Aku jadi iri. Boleh gak sih jadi madu kak Zia?" Tutur gadis itu.
Zia hanya menaikan sebelah alisnya. Maksudnya apa mau jadi madu Zia? Zia tak suka dengan gadis ini yang terbilang sangat lancang dalam berkata - kata. Ingin rasanya Zia melakban tuh bibir menor.
"Kamu mau beli kue, atau mau beli suami orang?" Bukan Zia yang membalas ucapan gadis kurang ajar itu, melainkan Mira.
Ia yang bukan siapa - siapa Jae Su saja jadi kesal sendiri, gimana dengan Zia?
"Ih... Kog situ yang sewot? Mbak Zia nya aja santai kog." Sungut si gadis calon pelakor.
"Maaf. Jika anda datang kemari hanya untuk membuat rusuh, silahkan keluar dari toko ini." Ucap Zia tegas.
"Cih... Sombong bener jadi orang. Paling - paling bentar lagi bakal dicampakin. Gak usah terlalu senang dulu kak." Gadis itu langsung berlalu pergi karena melihat raut muka Zia yang sudah berubah marah.
Perdebatan itu disaksikan para pembeli yang ada disana.
Sebenarnya mereka tak benar - benar membeli kue ditoko bunda, namun mereka hanya ingin sekedar melihat Jae Su secara langsung.
Karena mereka mendengar berita bahwa Zia dan Jae Su sudah kembali dari bulan madunya dari tetangga yang membeli kue ditoko bunda Rumi tadi pagi.
Namun hasilnya nihil. Jae Su tak berada di toko kue bunda Rumi. Yang ada hanya sang istri.
"Huh... Sebel aku tuh sama model orang yang begitu. Urat malunya udah putus kali ya? Gak ada harga diri banget jadi perempuan. Kalau gini terus, mbak Zia harus ekstra ketat jaga Jae Su oppa biar gak diambil pelakor." Omel Mira.
Huuhhhh...
__ADS_1
Zia menarik nafas. Menenangkan hati yang bergemuruh karena ulah gadis tak tau malu tadi.
Sedangkan bunda hanya bisa mengelus punggung sang anak untuk menenangkannya.
****
Hari mulai beranjak malam. Setelah selesai shalat berjamaah dan makan malam, kini pasangan pengantin baru itu dan bunda Rumi duduk diruang keluarga sambil menonton acara tv. Hingga akhirnya Jae Su buka suara.
"Bun." Panggil jae Su.
Bunda menoleh pada sang anak menantunya yang duduk berdampingan. Ia dapat melihat wajah sang anak yang sedikit sendu.
"Kenapa nak?" Tanya bunda dengan penuh kelembutan.
"Hari minggu nanti Zia akan ikut Jae Su untuk pindah kerumah ku di jalan xx. Apa bunda memberi izin?" Tanya Jae Su hati - hati.
Bunda tersenyum mendengar pertanyaan sang menantu.
"Kamu berhak membawanya Jae Su. Kamu itu suami Zia sekarang. Bunda sudah tidak ada hak padanya setelah dia kamu nikahi. Tapi pesan bunda pada kamu, Jae Su. Buat putri satu - satunya bunda bahagia. Jangan sakiti hati apalagi fisiknya. Jaga dia dengan sepenuh hatimu. Jangan sampai ada orang ketiga antara kalian berdua." Ucap bunda panjang lebar.
"Baik bunda." Jawab Jae Su singkat.
"Bunda ikut ya, sama Zia dan Jae Su?" Ucap Zia. Sebenarnya ia tak tega meninggalkan sang ibu sendiri dirumah ini.
"Tapi..." Ucap Zia menggantung.
"Ga apa - apa nak. Bunda kan udah biasa sendiri. Kamu tinggal empat tahun ke luar negeri gak balik - balik juga bunda aman - aman aja. Ini lagi cuma pindah rumah yang masih di Jakarta, kalau kangen, ya tinggal datang aja toh kerumah." Bunda mencoba menghilangkan kekhawatiran sang anak.
"Kalau bunda mau tetap disini ya sudah. Nanti biar aku cari dan bayar asisten rumah tangga buat bantu bunda dirumah." Ucap Jae Su.
"Gak usah Jae Su." Tolak bunda.
"Gak apa bunda. Biar ada teman bunda dirumah nanti." Tutur Zia.
Haaahhhh... Bunda menarik nafas. "Baiklah terserah kalian saja."
Keputusan kepindahan Zia dan Jae Su ini diambil semua demi kenyamanan Zia.
Setelah dari toko kue bunda tadi siang. Zia bercerita kepada Jae Su tentang hal yang terjadi ditoko kue.
Jae Su yang tak ingin istrinya menjadi murung karena ulah wanita - wanita genit yang selalu terang - terangan ingin menggoda Jae Su. Jadi Jae Su memutuskan akan membawa Zia kerumahnya sendiri. Disana privasi mereka akan terjamin keamanannya.
__ADS_1
****
"Maaf." Ucap Jae Su.
Zia mendongak menatap sang suami yang sedang memeluknya.
"Maaf untuk apa?" Tanya Zia dengan suara lembutnya.
"Karena ulah para fans ku, hati kamu jadi risau." Tutur Jae Su sambil mengeratkan pelukannya dan mengecup ujung kepala sang istri.
"Emm. Udah jadi resiko aku punya suami tampan yang jadi idola kaum wanita." Lirih Zia.
"Ya. Begini lah kalau jadi orang tampan. Dimana pun berada akan menjadi incaran wanita." Ucap Jae Su bangga. "Aaoowwsst. Sakit. Kenapa dicubit?"
"Seneng ya di kejar - kejar cewek?" Sewot Zia dan menatap horor suaminya yang super duper pede itu.
"Kenyataan sayang." Jae Su ingin mencium pipi sang istri. Namun dengan cepat Zia menghindar. Ia masih kesal dengan Jae Su yang senang jadi idola banyak wanita.
Melihat Zia yang menghindar, Jae Su tak membiarkan nya begitu saja. iya terus mendekat hingga akhirnya Zia mentok kesisi dinding tempat tidur.
"Zi!" Panggil Jae Su penuh maksud sambil mengelus pipi lalu bibir sang istri.
"Hemm." Sedangkan Zia hanya bergumam karena menikmati sentuhan lembut seorang Jae Su.
"Olahraga yuk?" Ajak Jae Su.
"Udah malam Jae Su. Mau olahraga apa malam begini?" Tanya Zia dengan polosnya tak mengerti maksud sang suami.
"Olahraga yang buat enak dan menghasilkan bibit - bibit unggul seorang Park Jae Su." Ucapnya sambil tersenyum mesum.
Tanpa permisi Jae Su langsung meraup bibir sang istri untuk dinikmati manisnya.
Memberi sentuhan - sentuhan lembut yang dapat membuat Zia merasakan nikmatnya surga dunia.
Keduanya benar - benar memanfaatkan waktu sebaik mungkin bereproduksi untuk secepatnya menghasilkan keturunan - keturunan dari bibit unggul keluarga Park yang sudah ditunggu - tunggu oleh keluarga. Terutama untuk keluarga Park.
Dan begitulah seterusnya š¤š¤
Aku gak berani nulis adegan yang begituan cuy...
...****************...
__ADS_1
...ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦...
Jangan lupa beri dukungan untuk karya aku.