Bidadari Sang Idol

Bidadari Sang Idol
Eps 32


__ADS_3

Eps 32


happy reading.....


šŸ’žšŸ’žšŸ’ž


"Assalamualaikum bibi..." Sapa Jae Su meraih tangan bunda Rumi untuk di salim saat memasuki rumah. Ia mulai meniru kebiasaan Zia.


"Wa allaikumussalam. Loh? Jae Su, tumben hari gini dateng? Udah lama sampainya?" Tanya bunda.


"Lumayan lama bibi. Tadi ke toko dulu buat ketemu Zia. Kangen Zia." Jae Su menampilkan senyum sejuta watt nya.


"Hahaha... Kamu ini. Ada yang tersipu malu itu." Tunjuk bunda pada Zia.


"Apa sih bunda...." Cicit Zia manja karena digoda sang bunda.


Makin hari kenapa Jae Su sering menggombalnya ya?


"Mumpung kamu disini, yuk imami bibi sama Zia sholat magrib. Tuh udah azan." Ajak bunda.


"Baiklah. Dengan senang hati aku menjadi imam kalian, terlebih menjadi imam Zia. Aku akan berusaha untuk selalu jadi imam terbaik untuknya dan anak kami nanti" Goda Jae Su.


Yang digoda hanya bisa menampakan rona merah diwajahnya. Tak pernah sekalipun ia mendapatkan gombalan dari lawan jenisnya, karena Zia memang membatasi pertemanannya dengan lawan jenis.


Usai shalat, Zia menuju dapur untuk membantu sang bunda untuk menyiapkan makan malam.


Hanya makanan sederhana. Namun bila dimakan bersama sang terkasih, seakan - akan makanan itu berubah menjadi makanan mewah.


Jae Su akui, masakan Zia dan bundanya memanglah enak. Dan saat ini ia mulai terbiasa dengan makanan Indonesia.


"Bagaimana persiapan pernikahan kalian?" Bunda memulai obrolan tentang pernikahan Jae Su dan Zia.


"Alhamdulillah Bi, sudah berjalan tujuh puluh lima persen. Dan mungkin minggu nanti kami akan fitting baju pengantin." Tutur Jae Su.


Bunda mengangguk mengerti. "Semoga lancar sampai harinya tiba." Doa bunda. Dan diaminkan sang calon pengantin.


Bunda ingin anak dan calon mantunya itu selalu dilimpahi dengan kasih sayang dan kebahagiaan, hingga maut memisahkan.


****


Tok tok tok...

__ADS_1


"Permisi tuan." Sapa Hansel memasuki ruangan bosnya, Jae Su.


"Hemm. Ada apa paman?" Tanyanya tanpa mengalihkan perhatian dari dokumen.


"Saya membawa sekertaris yang akan membantu Anda tuan." Jawab Hansel.


Mendengar itu, barulah Jae Su mengalihkan perhatiannya kepada dua orang didepannya. Jae Su tertegun tak percaya bahwa Hansel membawa wanita seperti ini keruangannya.


Tampak sosok wanita tinggi, cantik dan seksi sedang tersenyum ramah padanya.


"Apa kau ingin membuat pernikahanku batal paman? Kenapa memilihnya sebagai sekretaris?" Tanya Jae Su dengan tatapan dan ucapan yang terkesan dingin.


"Maksud tuan?" Tanya Hansel bingung.


"Aku tidak ingin calon istriku salah faham dengan keberadaannya disini dengan pakaian seperti itu." Tutur Jae Su.


"Dan kau!" Tunjuk Jae Su pada calon sekretaris nya tanpa menghiraukan kebingungan Hansel. "Kau niat bekerja di perusahaan ku atau mengadakan pameran tubuhmu disini." Ketus Jae Su pada calon sekretaris nya.


"Maaf tuan. Bukankah para karyawan diminta berpenampilan menarik?" Tanya sekertaris dan mencoba sedikit menggoda sang bos dengan suara manja sedikit mendesah.


"Berpenampilan menarik bukan berarti kau harus menunjukan tonjolan - tonjolan tubuhmu disini. Bekerjalah menggunakan otak dan skill mu, bukan dengan tubuh mu." Jae mulai meradang, sekertaris nya ini memang tak tahu malu.


"Tapi tuan, biasanya para atasan saya terdahulu tidak pernah protes dengan penampilan saya." Ucap sekertaris itu menantang.


Kini tatapan Jae Su beralih pada asistennya. "Suruh dia pergi."


"Tapi tuan, dia satu - satunya kandidat dengan potensi baik dalam pekerjaan ini." Tutur Hansel.


"Aku tidak perduli."jawab Jae Su cepat. " Bila perlu paman ganti dia dengan sekertaris pria. Aku tak ingin pernikahanku gagal karena hal ini."


Jae Su masih ingat ketika untuk pertama kalinya Zia marah padanya karena seorang wanita yang dengan lancang memeluknya. Dan Jae Su tidak ingin hal itu terulang lagi saat ia melihat ada wanita berpenampilan terbuka berada disekitarnya. Apa lagi itu untuk setiap harinya. Bisa - bisa Zia akan mengamuk nanti.


.Apa lagi siang ini Jae Su ada janji makan siang di kantor dengan Zia yang membawa makanan untuknya. Tak terbayang oleh Jae Su akan kemarahan Zia padanya.


"Tapi perusahaan sudah menandatangani kontrak kerja dengan nya tuan." Ungkap Hansel.


"Paman bisa tempatkan dia dibagian lain. Tapi tidak berada di dekatku. Paman paham?" Ucapnya tegas.


"Baik tuan." Hansel menunduk patuh. Dan menyuruh wanita itu keluar ruangan Jae Su.


Diluar ruangan, wanita itu merutuk dan menggerutu sebal.

__ADS_1


"Sialan memang tuh orang. Sok jual mahal banget. Untung ganteng. Belum tau aja dia rasanya goyangan gue. Bisa merem melek mendesah dia gue buat. Kalau gini gak ada kesempatan buat gaet dia nya kan gue?"


****


Dilobi kantor, Zia sedang menunggu Jae Su untuk menjemputnya. Karena memang tak sembarang orang bisa memasuki JF Group.


Kini tampaklah orang yang sudah ditunggunya beberapa saat tadi. Sosok tampan berkharisma yang sudah lama dan sabar mendekatinya.


"Assalamualaikum. Kenapa tidak langsung keruangan ku." Tanya Jae Su.


"Wa allaikumussalam. Resepsionisnya gak kasih izin tadi." Jawab Zia jujur.


Zia sedikit kesal pada sang resepsionis tadi. Resepsionis itu mengira Zia hanya lah seorang fans dari seorang Jae Su, yang hanya mencari kesempatan untuk bertemu dengan idolanya.


Mendengar jawaban dari Zia, Jae Su langsung menuju meja resepsionis. Dan itu membuat dua resepsionis yang ada disitu seketika gugup.


"Kalian berdua, dia adalah Zia, calon istriku. Jadi dia bebas datang kemari. Apa kalian paham?" Ucap Jae Su tegas.


"Paham tuan." Keduanya menunduk sungkan pada Jae Su.


"Maafkan kami Nona. Kami tidak tahu anda adalah calon istri tuan Jae Su." Ucap salah satu resepsionis itu.


"Iya. Tidak apa mbak." Jawab Zia.


"Ayo sayang, kita keruangan ku." Ajak Jae Su.


Mendengar kata 'sayang' dari mulut Jae Su auto membuat pipi Zia merona. Dan itu tak luput dari perhatian dua orang resepsionis itu.


Karena mereka tahu, selama sebulan Jae Su memimpin disini, mereka tak pernah melihat sikap Jae Su yang sehangat itu pada seorang wanita. Apalagi pada karyawan nya.


Dalam perjalanan menuju ruangan Jae Su, Zia dapat melihat tatapan rasa kagum dari para karyawan wanita yang ada disana.


Seketika hati Zia sedikit merasa tak tenang, mengetahui bahwa banyak wanita di perusahaan ini menarik minat pada calon suami ganteng nya.


Apakah ini perasaan cemburu?


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


ayo beri dukungan kamu pada karya author. beri laik, komen dan tambah ke favorit mu ya.

__ADS_1


kamu juga bisa berbagi hadiah untuk karya author ini.


thanks udah mampir šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2