
Eps 45
happy reading....
ššš
Setelah pembicaraan tentang projects baru produk yang akan diluncurkan oleh perusahaannya pada sang istri.
Disinilah Jae su dan Zia sudah berada. Di studio tempat pemotretan beberapa rancangan baju dan gaun yang akan diluncurkan JF Group.
Tampak Zia yang sedang dipoles oleh tim rias.
"Wajah nyonya ternyata enggak perlu terlalu memakai make up yang terlalu tebal. Make up tipis begini aja udah kelihatan cantiknya." Puji salah satu anggota tim rias. "Pantas aja Jae su oppa sampai kelepek - kelepek. Nunggunya sampai empat tahunan lagi."
"Ah, mbak bisa aja." Zia tersipu malu. "O iya. Jangan panggil nyonya sama aku ya? Kurang nyaman aku dengernya."
"Wah, mana berani saya. Andakan istri bos besar." Tolak anggota tim rias itu.
"Terus tadi berani tuh panggil suami aku pakai kata 'oppa'." Gerutu Zia.
"He he he.... Udah kebiasaan, Nyonya. Kan aku tuh penggemar berat Jae su oppa." Ucapnya sambil cengengesan.
"Pokoknya jangan panggil aku nyonya ya mbak? Berasa kaya di sinetron - sinetron kalau dipanggil nyonya." Tutur Zia.
"Apa gak apa? Nanti kalau bos besar marah gimana?" Ucapnya ragu.
"Yang pentingkan masih terdengar sopan, mbak." Zia kekeh, tetap tak ingin dipanggil nyonya.
"Baiklah, mbak Zia. Nah... Udah selesai. Perfecto!" Anggota tim rias itu menyelesaikan sentuhan akhirnya diwajah Zia.
Jae Su menghampiri istrinya, saat ia melihat Zia sudah dirias.
Cup
Jae Su langsung mencium pipi Zia didepan para pegawainya. Dan itu membuat pipi Zia jadi merona. Ia malu akan kelakuan suaminya.
Plaakk...
Zia menepuk lengan Jae su.
"Apaan sih? Kan malu dilihatin yang lainnya." Cicit Zia dengan suara yang lirih.
Sungguh. Ingin rasanya Zia bersembunyi dilubang semut karena kelakuan Jae su yang semakin hari semakin berani menyentuhnya lebih didepan umum.
Kan takutnya yang lain jadi baper.
Dan benar saja. Saat Jae Su melihat sekelilingnya, banyak yang menatap mereka dengan wajah yang senyum - senyum sendiri karena terserang ke uwuan mereka.
"Ekkhheeem..." Jae Su berdehem. Dan itu berhasil membuat pegawainya yang tadinya baper, kini jadi kalang kabut karena tatapan tajam Jae Su pada mereka.
"Apa kita sudah bila memulai pemotretan kita, Tuan?" Tanya seorang fotografer.
__ADS_1
"Ya." Jawab Jae Su singkat. Ia langsung menggandeng tangan sang istri menuju tempat yang sudah ditentukan.
Jae Su dan Zia mulai berpose sesuai arahan dari fotografer.
Disini Zia terlihat sedikit kaku. Karena ini memang untuk yang pertama kalinya ia berpose sebagai model dari salah brand di perusahaan fashion.
Sedangkan untuk Jae Su, ia sama sekali tidak memiliki kendala yang berarti. Jae Su sudah terbiasa dengan yang namanya pemotretan.
"Maaf Nyonya. Bisakah anda lebih rileks lagi. Anggap saja kalian sedang mengambil gambar untuk koleksi pribadi kalian." Sang fotografer memberi masukan. "Tatap wajah Jae Su dengan penuh cinta, Nyonya. Agar kita bisa dapat kemistri difoto ini. Anggap saja hanya ada kalian berdua disini."
Walaupun sedikit kesusahan, Zia tetap berusaha memberikan yang terbaik untuk pemotretan perdananya.
Ia benar - benar menghilangkan rasa malunya kali ini. Zia memandang Jae Su dengan penuh cinta dan sedikit, menggoda?
Jae Su yang ditatap seperti itu oleh sang istri, refleks ia mengecup kening dan pipi Zia. Jae Su ikut memberikan tatapan mesranya pada istri tercintanya.
Mereka seakan masuk kedalam dunia yang penuh keindahan dan rasa cinta. Hanya ada mereka. Hanya ada cinta mereka.
Dan adegan romantis itu pun tak disia - siakan oleh fotografer nya. Ia mengambil setiap adegan yang dilakukan kedua orang yang sedang dimabuk cinta itu.
"Cut...!" Teriak sang fotografer saat ia akan melihat adegan panas yang akan dipertontonkan Jae Su.
"Yaaahhh..." Seru para wanita lain yang ada di sana.
Mereka kecewa pemirsaaa...
Jarang - jarang kan mereka lihat adegan kissing idola mereka secara langsung.
Zia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Maaf Tuan. Adegan selanjutnya harus saya sensor." Ucap sang fotografer sambil mengoda pasangan suami istri itu.
Dengan cepat Jae Su merubah raut wajahnya yang tadinya kikuk dan malu, kini berubah menjadi datar demi menjaga image nya.
"Saya rasa produk ini akan laris manis karena ke uwuan anda dengan Bu bos." Ucap fotografer itu lagi.
Pemotretan selesai tepat jam makan siang.
Zia dan Jae Su saat ini sedang berada di kantin perusahaan.
Dan lagi - lagi keduanya menjadi pusat perhatian. Banyak beraneka ragam tatapan yang mereka dapatkan. Namun Zia dan Jae Su yang memang memiliki sikap masa bodoh, mereka cuek dengan orang sekitar mereka. Asal jangan terlalu mengganggu kehidupan pribadinya, mereka sih ok ok saja.
Seorang penjaga kantin berlari menghampiri Jae Su dan Zia kemejanya saat ia melihat bos besar dan istrinya memasuki kantin.
"Tuan dan nyonya mau pesan apa? Ini buku menu di kantin ini." Tanya penjaga kantin itu sambil menyodorkan buku daftar menu.
Zia tersenyum menyapanya. Lalu meraih buku menu itu. Ia melihat menu apa saja yang ada di sana.
"Aku pesan nasi putih sama rendang dan sayur capai ya Bu." Zia memberitahu pesanannya. "Kamu mau makan apa, Jae Su?"
"Samakan saja dengan kamu." Jawab Jae Su.
__ADS_1
"Pesanan yang tadi dua porsi ya, Bu. Sama air putih sama jus jeruk juga dua porsi." Zia memberikan buku menu itu kembali pada penjaga kantin.
"Baik. Ditunggu sebentar, Tuan dan Nyonya." Penjaga kantin undur diri mengambil pesanan mereka.
"Jae Su!" Panggil Zia.
"Ya?" Jae Su menoleh pada sang istri.
"Emm, boleh gak kalau aku kerja?" Tanya Zia sedikit ragu. "Kan sayang ijazah aku gak digunain. Kuliah jauh - jauh gak pulang selama empat tahun, masa sampai sini gak kerja?" Zia menatap suaminya dengan tatapan penuh harapan.
"Apa uang yang aku beri masih kurang?" Bukannya menjawab, Jae Su malah balik tanya.
"Cukup. Cukup banget malahan. Cuma aku sedikit bosan dirumah aja tanpa melakukan apapun." Ucap Zia.
"Terus?" Alis Jae Su naik sebelah. Ia masih menanti apa yang akan diucapkan lagi oleh Zia.
"Aku mau cari kesibukan, sambil nunggu kamu pulang kerja. Dan mungkin kalau jadi guru enggak bakalan terlalu menyita waktuku diluar. Jadi aku masih bisa sambut kamu waktu pulang dari kantor." Zia menyampaikan niatnya.
Jae Su tampak berfikir. Mempertimbangkan keinginan istrinya untuk bekerja.
"Bagaimana kalau kamu jadi sekertaris ku? Aku belum punya sekertaris." Tawar Jae Su.
"Itu namanya nepotisme. Aku gak mau jadi bahan gosip staf kamu. Nanti dikira mereka aku gak percaya sama suami. Sampai - sampai harus aku yang jadi sekertaris kamu." Sungut Zia.
Jae Su tertawa kecil mendengar penolakan istrinya. Sebenarnya ia tak ingin Zia kelelahan bila ia bekerja. Tapi Jae Su tak sampai hati untuk menolak keinginan istrinya.
"Baiklah. Tapi dengan satu syarat." Negosiasi dimulai. Memang ya kalau pengusaha, gak mau rugi.
"Syarat? Apa?" Zia memiringkan kepalanya.
Jae Su mengangguk. "Ya. Kalau nanti kamu hamil, kamu harus berhenti untuk bekerja. Bagaimana?"
Emmm tidak buruk. Setidaknya Zia akan memiliki pengalaman kerja sebelum nantinya ia hamil.
"Ok." Zia menyanggupi persyaratan itu.
"Memang kamu sudah dapat lowongan kerja?" Tanya Jae Su.
"Sudah. Dan karena kamu udah kasih izin. Besok aku mau antar CV aku. Dan lusa udah bisa mulai kerja. Karena sekolah itu memang lagi butuh tenaga pengajar di bidang komputer." Tutur Zia.
"Ok. Jangan sampai kamu kecapekan. Ok?" Jae Su memperingatkan Zia.
"Ok sayang..." Ucap Zia girang.
Melihat istrinya begitu bahagia, Jae Su langsung mengelus kepala yang terbalut hijab itu.
Ia sungguh mencintai wanita ini. Wanita yang mampu mencairkan bongkahan es yang ada dihatinya.
...****************...
...ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen kamu ya