Bidadari Sang Idol

Bidadari Sang Idol
Eps 48


__ADS_3

Eps 48


happy reading....


šŸ’žšŸ’žšŸ’ž


Mobil Jae Su sudah terparkir rapi didepan rumah.


Iya menoleh ke arah istrinya yang sedang tertidur. Namun, sedetik berikutnya Zia mulai terbangun dan mengerjapkan mata.


Zia meneliti sekitarnya. "Kita sudah sampai?" Tanyanya pada sang suami.


"Iya kita sudah sampai." Jae Su mengelus kepala yang terbalut hijab baby blue itu. "Nyenyak banget tidurnya. Aku jadi kesepian dimobil gak punya teman cerita."


"Ngantuk banget aku. Hooaaammm." Lalu Zia membuka pintu mobil dan keluar dan diikuti Jae Su, namun tak beranjak dari tempatnya.


Jae Su yang sedang menunggu istrinya untuk jalan beriringan seketika melihata tak ada pergerakan dari istrinya itu pun merasa bingung. Pasalnya saat ini ia melihat wajah sendu Zia dengan mata yang mengembun.


Jae Su langsung menghampiri Zia. Ia khawatir dengan istrinya itu.


"Ada apa sayang?" Apa ada yang sakit?" Tanya Jae Su dengan raut wajah yang begitu khawatir.


"Kamu udah gak sayang sama aku." Jawab Zia dengan air mata yang mulai luruh dipipinya.


"Apa yang kamu katakan? Insha Allah aku akan selalu sayang kamu. Apa lagi kita akan punya anak." Jae Su menghampiri Zia mencoba menenangkan Zia.


Ada apa dengan istrinya ini? Kenapa tiba - tiba jadi begini?


"Bohong." Sanggah Zia.


Jae Su menarik nafas. Apa lagi ini? Kenapa Zia nya jadi aneh begini.


Jae Su merengkuh sang istri kedalam pelukannya. "Aku gak pernah bohong sama kamu. Aku cinta dan sayang kamu dengan jiwa dan raga, istri ku tercantik."


"Benarkah?" Seketika wajah Zia jadi berbinar walau masih berlinang air mata.


"Of course, baby." Cup. Ia mengecup pucuk kepala istrinya. "Sekarang kita masuk, ayo." Ajak Jae Su.


Ia menarik lembut lengan sang istri. Tapi yang ditarik tetap tak mau beranjak dari tempatnya.


Jae Su memandang istrinya dengan kening dan alis berkerut. "Kenapa lagi?"


"Gendong." Pinta Zia dengan kepala tertunduk malu - malu dan suara pelan.


Jae Su melongo mendengar permintaan istrinya yang tak seperti biasanya.


"Gendong." Pinta Zia lagi dengan suara sedikit ngegas, karena suaminya hanya menatapnya.


Tak menunggu waktu lebih lama lagi, sang oppa tampan langsung berjongkok didepan sang istri untuk menggendong dipunggungnya. Ia tak ingin mood istrinya kembali rusak. Dan ternyata Jae Su mendapat timpukan lumayan keras dipundaknya dari Zia.


"Aoow." Jae Su mengelus pundaknya yang terasa sedikit sakit akibat tepukan Zia. "Kenapa?" Ia mendongak melihat wajah istrinya yang berdiri didepannya.

__ADS_1


"Masa gendongnya dipunggung? Kaya gendong tuyul." Gerutu Zia.


"Tuyul? Apa itu?" Jae Su berdiri dari jongkoknya.


"Hantu kecil yang suka curi duit orang."


"Memang ada hantu bisa curi uang?" Tanya Jae Su tak percaya.


"Ada sih katanya." Jawab Zia ragu.


"Waaahhh... Mau beli apa hantu itu, sampai - sampai curi uang orang?" Jae Su mengeluarkan pertanyaan abstrudnya.


"Gak tau. Mungkin mau beli kopi kali." Zia jadi ikut - ikutan abstrud.


Dan terjadilah pembicaraan abstrud antar suami istri itu.


"Kenapa gak disuruh kerja saja yang namanya hantu tuyul itu?" Tanya Jae Su lagi yang sebenarnya tak paham apa itu yang dinamakan tuyul.


"Kamu mau gendong aku atau mau bahas tuyul?" Sewot Zia yang sudah memanyunkan bibirnya.


"Eh? Iya. Aku mau gendong kamu. Ala bridal style aja, biar romantis." Jae Su nyengir kuda.


Haappp


Kini Zia sudah berada dalam gendongan sang suami.


"Terima kasih my hubby. Cup." Zia mengecup rahang suaminya.


Suami istri itu terus melangkah menuju kamar.


Saat akan menaiki tangga, mereka berpapasan dengan bik Marni.


"Loh, Tuan. Nyonya kenapa?" Tanya bik Marni yang ikut khawatir.


"Gak apa - apa bik. Lagi mode manja istri saya." Jae Su langsung berlalu menuju kamar.


Ternyata berat juga istrinya ini. Kalau tak buru - buru keatas, takut nanti Zia akan terlepas dari gendongannya. Dan bisa - bisa ia mengamuk nanti.


"Bisa bukakan pintu nya, sayang?"


Zia meraih handel pintu.


Ceklek


Keduanya memasuki kamar. Kemudian Jae Su menurunkan sang istri dengan perlahan diatasi kasur empuk mereka.


"Manjanya nona muda Park." Jae Su yang sudah duduk ditepi ranjang, mencubit gemas hidung Zia.


Keesokan harinya, rumah Jae Su dan Zia kedatangan tamu pertama mereka semenjak tinggal di rumah ini.


"Wah... Nyaman banget rumah Mbak Zia." Puji Mira.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Mir. Kalau kamu merasa nyaman." Jawab Zia.


Mulai pagi tadi sampai siang ini Zia tak keluar dari kamarnya. Ia benar - benar merasa lemas tak bertenaga.


Sedangkan siang ini Jae Su ada meeting yang tak bisa diwakilkan oleh Hansel. Dan ia tak dapat menemani istrinya saat ini.


Maka dari itu, Jae Su meminta ibu mertuanya untuk menemani sang istri dirumahnya.


Tapi tak hanya mertuanya yang datang, Mira pegawai toko mertuanya pun ikut menemani Zia.


"Jadi, toko kue tutup lebih awal dong Bun?" Tanya Zia dengan suara sedikit lemah.


"Ia. Kue yang belum terjual Bunda bagikan ke anak - anak pinggir jalanan. Terus ada juga yang Bunda bawa kemari." Jawab bunda.


"Maaf ya Bun, Zia ngerepotin Bunda jadinya." Tutur Zia merasa tak enak karena bundanya terpaksa menutup toko kuenya.


"Kamu ngomong apa sih? Walaupun kamu udah nikah, kamu itu tetap anak Bunda. Jadi gak ada kata ngerepotin. Apalagi ini tentang calon cucu Bunda." Ucap bunda Rumi yang selalu penuh rasa kasih sayang pada anak semata wayangnya.


"Jadi mbak Zia gak jadi ngajar dong?" Mira ikut nimbrung obrolan ibu dan anak itu.


"Ho oh. Padahal belum mulai juga." Lesu Zia.


"Belum rezeki kamu sayang. Tapi Allah kan udah ganti dengan rezeki yang lebih luar biasa lagi." Ucap bunda sambil mengelus perut Zia.


"Ia. Zia juga gak nyangka bisa dipercaya secepat ini buat punya momongan." Ucap Zia tersenyum sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Mertua kamu udah tahu kabar baik ini?" Tanya bunda.


Zia mengangguk. "Kata ibu, mereka akan datang sebulan sebelum aku lahiran."


"Masih lama atuh mbak." Sahut Mira. "Wah... Aku jadi gak sabar nunggu anak mbak Zia sama Jae Su oppa lahir. Pasti cakep bener. Aku kapan punya pasangannya ya mbak? Pingin punya baby sendiri jadinya." Fikiran Mira menerawang jauh entah sampai mana.


Buukkk


Zahwa melempar bantal pada Mira yang suka mengkhayal. Ia gemas pada gadis yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu.


"Kamu ini. Pasangan aja belum punya, udah sibuk menghayal punya baby. Mau mbak jodohin?" Tawar Zia.


"Mau mau mau." Mira mengangguk - angguk cepat.


"Tapi sama kucing." Goda Zia.


"Ikhhh... Mbak Zia gak lucu ah." Mira mengerucutkan bibirnya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa beri dukungan untuk karya aku.


beri like, komentar dan tambah ke list favorit kamu.

__ADS_1


...thanks udah mampir šŸ™...


__ADS_2