
Eps 36
happy reading....
ššš
Tiba saatnya pasangan pengantin meminta restu pada keluarga.
Saat ini pengantin sudah berhadapan pada kedua orang tua Jae Su.
Lee Hyori langsung memeluk sang menantu pertamanya. "Selamat sayang. Semoga pernikahan kalian selalu dipenuhi dengan kebahagiaan." Ucapnya dengan tulus dengan menggunakan bahasa Korea.
Zia pun menyambut pelukan itu dengan hangat. "Terima kasih bibi."
Ibu Jae Su mengerenyit, kog ada yang janggal? " Kenapa panggil bibi?" Ucapnya tak suka.
"Maaf ibu. Aku belum terbiasa." Sahutnya sedikit canggung.
"Ya tak apa. Berilah kami cucu yang banyak." Pintanya sambil mengelus pundak Zia. Sedangkan Zia tak tau harus berkata apa. Ia hanya mengangguk mengiyakan permintaan ibu Jae Su.
Pelukan beralih pada Jae Su. Tak beda pesan yang ia sampaikannya pada sang anak, "Tepati janjimu pada ibu. Karena kau sudah ibu izinkan tinggal di negara ini. Jadi buatlah cucu untukku sebanyak mungkin. Kau mengerti?"
Memang waktu itu, Jae Su berjanji pada sang ibu, bila ia diizinkan untuk tinggal di Indonesia, ia akan memberi cucu yang banyak bagi keluarga Park. Jae Su beralasan bahwa biaya hidup dan pendidikan di Indonesia lebih murah ketimbang di Korea. Jadi ia dan Zia memutuskan untuk tinggal di Indonesia. Mendengar kata 'cucu yang banyak' membuat ibu Jae Su berbinar dan menyetujui permintaan Jae Su. karena memang anggota keluarga Park terbilang tak banyak. Ayah Ibu Jae Su hanya memiliki masing - masing satu saudara kandung dan masing - masing hanya memiliki anak hanya satu. Hanya pasangan ayah dan ibunya Jae Su yang memiliki dua anak.
"Aku akan berusaha untuk berkembang biak Bu. Tenang saja." Jawab Jae Su dengan begitu konyolnya.
Zia tercengang mendengar ucapan abstrud dari sang suami. Berkembang biak? Dikira hewan apa?
Dan kini mereka sedang berhadapan dengan ayah Jae Su. "Selamat datang kedalam keluarga Park, menantu ku. Semoga kelak kau bisa bersabar menghadapi tingkah anakku." Kemudian ia memeluk menantinya.
"Terima kasih sudah memberi restu mu untukku, ayah."
Kini Jae Su sudah berada diperlukan sang ayah. Lelaki hebat yang telah memberikan pelajaran hidup yang berharga bagi dirinya.
"Jaga istrimu dengan baik." Tuan Park menepuk punggung sang anak.
__ADS_1
"Akan aku lakukan." Jawabnya singkat.
"Hay adik ipar..." Jae Jun merentangkan tangannya, melangkah maju untuk memeluk Zia, namun tak disangka Jae Su lah yang masuk kedalam pelukannya.
"Jangan coba - coba berani menyentuh ataupun memeluknya." Ucap Jae Su penuh penekanan dan ancaman.
"Haisss... Kau ini. Aku hanya memberikan sambutan pada istrimu. Kau tak perlu cemburu begitu." Jae Jun tak habis fikir adiknya bisa berubah begini. Dulu Jae su tak peduli jika wanitanya dekat dengan sang kakak. Tapi kali ini? Jae Su tak kan membiarkan laki - laki lain memeluk istrinya.
Dan kini terakhir, pengantin itu sudah ada dihadapan bunda Rumi untuk meminta restu.
"Bunda..." Ucap Zia terdengar lirih, meraih tangan sang bunda dan dengan khidmat ia kecup penuh rasa kasih sayang dan hormat.
Bunda tersenyum melihat sang anak yang sudah menjadi seorang istri dari laki - laki sebaik Jae Su. Lagi, Ia mengecup kening sang anak tercinta. Menyalurkan rasa sayangnya yang tiada tara pada sang putri.
"Ingat selalu pesan bunda ya nak. Semoga kalian selalu bahagia." Doa bunda dengan tulus. "Jae Su." Panggilnya pada sang mantu.
"Iya bunda."
"Bunda titip Zia padamu. Jaga dan sayangi dia dengan sepenuh hatimu. Jangan pernah lukai hati dan fisiknya, apa lagi dengan orang ketiga. Jika kamu sudah tak menginginkannya lagi, maka kembalikan dia dengan baik - baik pada bunda." Ucap bunda penuh nasihat.
"Aku akan menjaganya. Insha Allah aku akan selalu bersamanya sampai maut memisahkan kami. Selalu doakan kami untuk mendapatkan segala kebaikan, bunda." Sahut Jae Su.
Usai acara meminta restu, kini semua orang yang ada disitu mulai bercengkrama mengakrabkan diri satu sama lain.
"Hay kakak ipar..." Sapa Tae won. Yang datang diikuti dengan member x-Blue Ring yang lain. "Akhirnya benar - benar menjadi kakak ipar kami. Selamat untuk pernikahan kalian."
"Terima kasih Tae won. Kapan kalian tiba?" Tanya nya pada Tae won.
"Dua hari yang lalu."
"Hay Eunjo... Makin tampan aja." Sapa Zia pada anak Ji-Sung. Ia gemas dengan anak berusia empat tahun ini.
"Baik bibi. Bibi begitu cantik. Aku suka." Ucapnya malu - malu.
Sontak orang disekelilingnya hanya bisa tertawa melihat Eunjo yang begitu menggemaskan dengan pipi kemerahannya.
__ADS_1
"Haisss... Anak dan ayah ternyata sama. Selalu tergoda melihat wanita cantik." Gerutu Ryung, melihat Eunjo begitu terpana melihat sosok Zia yang cantik.
"Ck... Jaga ucapanmu didepan anakku." Decak Ji-Sung.
"Itu kenyataan." Ryung melengos. "Aku akan cari makanan dulu. Perutku sudah lapar."
"Bagaimana kabar kalian?" Tanya Jae Su pada adik adik seperjuangannya dulu.
"Baik." Jawab mereka serempak.
Cukup lama mereka berbasa - basi dan bertukar cerita. Hingga Jae Su dan Zia pamit untuk beristirahat, karena nanti malam masih ada acara resepsi pernikahan mereka yang akan dilangsungkan.
Di kamar.
Zia dan Jae Su duduk di sofa kecil yang ada dalam kamar Zia.
Ia menjadi sedikit kikuk. Karena sedari tadi Jae Su hanya memandanginya penuh kasih. Lelaki ini, apa yang sedang ada difikirkannya saat ini?
"A-a-ada apa melihat ku seperti itu?" Tanya Zia gugup.
Jae Su hanya tersenyum. Ia suka melihat Zia yang malu - malu begini. Ah, tidak. Jae Su selalu suka apa yang ada pada diri Zia. Definisi virus bucin mulai berkembang biak.
"Aku mencintaimu." Hanya satu kalimat itu yang keluar dari mulut Jae Su. Namun nyatanya bisa membuat hati sang istri berdebar dan berbunga - bunga. "Apa kau tak mencintaiku?" Tanya Jae Su, karena tak mendengar balasan dari kata cintanya.
Zia hanya tertunduk malu sambil mengangguk. Ia tak sanggup untuk mengucapkannya. Bibirnya serasa keluh dan terkunci.
Jae Su mengulurkan tangannya untuk menyentuh lembut pipi sang istri. Mendekat sedikit demi sedikit kearah wajah sang istri. Lalu mengecup keningnya untuk yang kedua kalinya. Turun kedua matanya, hidungnya, kedua pipinya, kemudian terhenti tepat didepan bibir sang istri. Jae Su mengelus lembut bibir sang istri. Dan tak lama kemudian Jae Su memberikan sebuah ke cu pan singkat dibibir merah itu. Ke cu pan pembuka sebagai panjat untuk malam indah mereka nanti.
Jae Su tersenyum melihat keterpakuan sang istri. Ia tahu betul ini pertama kalinya bagi sang istri.
Ah... Jae Su jadi tak sabar akan menghabiskan malam - malam indah dengan sang istri. Ia harus bersabar sebentar lagi bukan?
...****************...
...ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦...
__ADS_1
Hay... aku udah tambah bab baru nih. kamu kamu juga jangan lupa tambah like, komen juga ya! terus tambah ke list favorit mu.
terima kasih buat teman teman yang sudah saling dukung š