Bidadari Sang Idol

Bidadari Sang Idol
Eps 2


__ADS_3

Happy reading buat para reader...


......................


Cuaca sedikit mendung di senin sore hari ini, ketika dua orang gadis yang dengan semangatnya menyantap semangkuk bakso yang lezat disebuah kedai bakso terkenal dekat rumah Zia.


"Zi...?"


"Hemmm?" Zia menyahut hanya dengan berdehem.


"Zi...?" Mia masih enggan untuk meneruskan ucapannya karena tanggapan sang sahabat yang ala kadarnya.


"Apa sih Mi...? Dari tadi Za Zi Za Zi aja. Ada yang mau kamu sampaikan?" sebal Zia melihat sahabatnya itu.


Mia menghentikan aktivitasnya menyeruput sisa kuah bakso dan menoleh ke arah Zia.


"Nanti kalau kamu udah sampai Korea, kamu dapat teman baru, kamu bakal lupain aku gak Zi?" tampak wajah Mia yang mulai sedih karena sebentar lagi ia akan ditinggalkan oleh orang yang benar - benar tulus berteman dengannya.


"Kok gitu ngomongnya Mi?" tanya Zia dengan kening berkerut.


"Kalau kamu udah pergi, aku bakal kehilangan sahabat yang benar - benar tulus dan ngertiin aku. Kamu kan tahu gimana aku saat kita belum sahabatan. Gak ada yang benar - benar tulus berteman sama aku?" ucap Mia masih dengan nada dan wajah sendunya.


"Mi... walaupun aku jauh di negeri orang, aku gak akan bakal lupain orang yang benar - benar baik sama aku dan bunda." Zia mencoba menenangkan hati Mia.


"Janji?"


"Hemmm... Janji." Sambil mengacungkan jari kelingkingnya ke arah Mia dan disambut wajah bahagia sang sahabat.


Tak terasa sudah bakso dan es teh manis yang mereka pesan pun kandas.

__ADS_1


"Tapi aku kok sedikit takut ya Mi. Nanti di sana aku bakal didiskriminasi," giliran Zia yang menampakan wajah sendunya.


"Maksudnya?" Mia memiringkan kepalanya melihat Zia.


"Ya... karena penampilan aku yang menggunakan hijab."


"Jadi sampai ke Korea kamu mau buka hijab gitu?" Mia bingung dengan jalan pikiran sahabatnya itu.


"Ya enggak lah Mi," jawab Zia cepat.


"Terus?" Mia menjeda sesaat kalimatnya. "Aku yakin kalau kamu itu wanita yang hebat, teguh pendirian dan gak bakal kamu tinggalkan identitas kamu sebagai muslim sejati," Mia mencoba menguatkan Zia lagi.


"Soalnya aku pernah lihat acara talk show di channel yuyube, dan yang dibahas tentang hijab. Dan narasumber itu banyak banget mengalami diskriminasi karena penampilannya yang berbeda."


"Kan gak semua orang suka mendiskriminasikan Zi..."


"Emmm.... kata bokap sih didalam negeri aja. Soalnya bokap gak percaya sama aku yang suka pecicilan. He...he..." ujar Mia sambil cengengesan dan dibalas gelengan oleh Zia.


"Kerumah yuk Mi." ajak Zia pada Mia.


"Besok aja deh sambil nganterin kamu ke bandara. Jam dua belas 'kan penerbangannya?" Mia memastikan kembali jam keberangkatan sahabatnya.


"Hemmm, jam dua belas. Jadi kamu datang kerumah jam sebelas loh Mi. Kamu harus ikut ngantri aku ke bandara," paksa Zia agar Mia ikut mengantarkan ke bandara.


"Iya, iya... Cuss balik. Tar nyokap aku ngomel - ngomel aku pulang telat. Maklum anak perawan atu - atunya," kembali Mia cengengesan.


Setelah membayar ke kasir Zia dan Mia menuju rumah masing - masing.


****

__ADS_1


Keesokan harinya di bandara Soekarno Hatta, Zia telah tiba setengah jam sebelum keberangkatan. Ditemani sang bunda yang selalu tak henti - hentinya memberikan nasihat kepada anak tercinta. Hingga terlihat tiga orang mendekat kearahnya.


"Assalamualaikum Bunda..." sapa Mia dengan wajah berseri-seri pada Rumi.


"Wa allaikumussalam Mia. Wah... Kamu ditemani papi kamu dan Juan rupanya." Ibu Rumi tak menyangka ayah dan kakak Mia ikut mengantar Zia.


"Oh iya dong Bun, bahkan Mia bakal antar Zia sampai ke Korea bareng Mas Juan," senyum Mia terbit bak mentari.


Terlihat kerutan di kening Zia dan bundanya. Seakan bertanya kog bisa?


"He...he.... Aku bakalan ikut ke Korea buat liburan Zi, bareng Mas Juan. Sekalian kita cari rumah kontrakan buat kamu," begitu senangnya Mia bisa ikut mengantar Zia, karena ia bisa ikut liburan ke negara tempat berkumpulnya para idol tampan.


"Alhamdulillah... Jadi untuk hari pertama aku gak terlalu bingung buat cari tempat tinggal,"


"Apa kabar ibu Rumi?" sapa Mahendra pada bundanya Zia.


"Alhamdulillah baik Pak Mahen. Terima kasih sudah membantu Zia selama ini pak," Rumi sedikit sungkan menerima segala kebaikan yang diberikan oleh Mahendra kepada putrinya.


"Ya sama - sama ibu Rumi. Zia pantas mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi lagi. Karena memang Zia adalah salah satu murid berprestasi disekolah. Terlebih Zia adalah sahabat Mia yang selalu ada disaat Mia terpuruk,"


Hingga terdengar pemberitahuan keberangkatan sebentar lagi.


Zia, Juan dan Mia menuju get keberangkatan setelah berpamitan kepada masing - masing orang tua.


Dipesawat Zia dan Mia tak henti - hentinya membahas tentang negara yang sedang mereka tuju. Dan untuk Juan, ia mulai mengambil posisi wuenaknya untuk menuju kealam mimpi. Dan membiarkan kedua gadis labil itu cerita sesuka hatinya.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2