
Eps 35
Happy reading...
ššš
Tiga hari sebelum pernikahan Jae Su dan Zia dilaksanakan, keluarga besar Jae Su sudah tiba di Jakarta. Mereka berkumpul di rumah tuan Park yang ada di Jakarta.
Sedangkan untuk para member x-Blue Ring, mereka Kan tiba satu hari sebelum acara pernikahan Jae Su dan Zia.
Tampak perbincangan hangat antara satu dengan yang lainnya di ruang keluarga.
Sedangkan Jae Su dan Jae Jun, kakak kandung Jae Su, memilih duduk di gazebo samping rumah.
Walaupun hubungan keduanya tak sehangat hubungan antar saudara kandung lainnya, namun hubungan mereka lumayan baik.
"Kenapa kau mendahuluiku begitu cepat? Aku bahkan belum bisa menemukan wanita Korea yang cocok untukku. Andai aku bukan anak pertama, pasti aku sudah menikah dengan wanita Eropa yang menjadi idamanku." Ucap Jae Jun dengan gerutuannya.
"Silahkan masuk kembali ke perut ibu, lalu keluar kembali, dan jadilah anak ketiga dari ayah dan ibu." Sahut Jae Su diselingi dengan candaan.
Mendengar ucapan sang adik, Jae Jun hanya mendengus tak suka. Ia iri pada sang adik yang memiliki kebebasan dalam memilih pasangannya. Kenapa harus begini nasib percintaannya? selalu saja tak berjalan mulus seperti kisah sang adik. Padahal usianya hanya terpaut dua tahun dari usia Jae Su.
"Apa wanita yang selama ini dekat denganmu tidak ada satupun yang cocok denganmu?" Tanya Jae Su penasaran. Pasalnya sang kakaknya ini lumayan player untuk urusan wanita.
"Mereka mendekatiku hanya karena harta keluarga kita. Itu yang membuat ku jengah. Kau kan tahu sendiri, di Korea aku tak kalah terkenalnya dengan mu." Ujar Jae Jun sedikit pongah.
"Kalau kau mau mencari wanita yang tak akan mengenai mu di Korea, lebih baik kau cari gadis di desa terpencil yang tidak ada akses internet dan listrik. Jadi mereka tidak akan tahu segala berita tentang dirimu." Sewot Jae Su, dan berakhir mendapatkan timpukan sebungkus tisu dari sang kakak.
"Lagi pula kalau wanita itu materialis, menurutku wajar. Karena hidup butuh biaya, dan penampilan cantik mereka juga butuh biaya. Jadi wajarkan mereka begitu? Itu juga demi menyenangkan kita para kaum pria?" Tutur Jae Su lagi.
"Hahh... Sudahlah. Mungkin ini memang takdir ku." Ucap Jae Jun pasrah, lalu ia beranjak ke kamarnya.
****
Dan kini tiba saatnya hari bahagia itu datang. Hari bahagia Zia dan Jae Su.
Untuk acara akad nikah diadakan dirumah pada pagi hari. Sedangkan untuk resepsi akan diadakan di ballroom hotel xxx malam nanti.
__ADS_1
Zia begitu tampak cantik dengan kebaya putih muslimahnya. Dengan polesan make up natural yang tak begitu tebal namun dapat memancarkan kecantikan Zia yang alami. Ia sedang menunggu keberlangsungan akad nikah dari dalam kamarnya.
"Cantiknya mbak Zia...." puji Mira.
"Terima kasih." Jawab Zia singkat. Ia begitu gugup saat ini.
"Gugup ya...?" Goda Mira. Zia hanya bisa mengangguk pelan.
"Mau bulan madu kemana nih mbak?" Tanya Mira mulai kepo.
"Rencana ke Raja Ampat. Kenapa? Mau ikut?" Zia mencoba bercanda dengan Mira untuk mengurai kegugupannya.
"Emang boleh?" Tanya Mira dengan wajah usilnya. "Gak takut keganggu nanti malam pertamanya?"
"Apaan sih, udah bahas malam pertama aja kamu ini." Sahut Zia dengan rona merah di wajahnya.
"Ya kan habis nikah biasanya bakal anu anu." ucap Mira sambil menaik turunkan alisnya.
"issss... Anak perawan dilarang ngomongin anu anu." Sewot Zia. Mira hanya bisa menertawakan Zia yang sedikit salah tingkah.
ceklek...
"Anak bunda bentar lagi bakal jadi istri orang." Ucap bunda sambil mengelus kepala Zia penuh kasih sayang. "Jadi istri yang shalihah ya nak? Menurut sama suami kamu dalam salah segala hal kebaikan. Dampingi Jae Su saat suka dan dukanya. Ridho bunda selalu ada untuk kalian." Bunda menasihati anaknya yang sebentar lagi akan dipersunting oleh lelaki yang insha Allah baik dan shaleh.
Zia hanya mengangguk mengiyakan nasihat bundanya.
Terdengar suara mic mulai dinyalakan, menandakan acara ijab qobul akan segera dilaksanakan.
Tak lama pun terdengar suara seseorang melantunkan sebuah surah dalam Al Qur'an, surah yang selalu dapat menggetarkan hati seorang Zia Aulia disaat ia lagi kalut.
Zia begitu mengenali suara merdu ini, suara seorang pria yang sabar menantinya selama empat tahun ini. Ya... Ini suara milik Jae Su, suara yang begitu merdu saat bernyanyi diatas panggung konsernya, kini suara merdu itu terdengar sedang melantunkan surah Ar Rahman.
Dengan begitu khusyuk Zia memperdengarkan lantunan surah favoritnya, tanpa terasa air mata mulai mengalir dari sudut matanya.
Zia begitu bersyukur, Allah memberikan seorang jodoh padanya yang seperti Jae Su. Tak hanya tampan rupawan, kaya dan setia. Namun nyatanya Jae Su bisa menjadi seorang mualaf yang begitu taat pada Allah. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang kau dustakan?
Pembacaan surah Ar Rahman telah selesai dilakukan. Kini suara beralih pada suara seorang lainnya yang merupakan suara penghulu yang akan menikahkan mereka.
__ADS_1
"Saudara Park Jae Su bin Park Joon Jae." Panggil sang penghulu.
"Saya." Sahut Jae Su cepat.
"Saya nikahkan anda dengan saudari Zia Aulia binti alm. Hendro Aulia, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan surah Ar Rahman dibayar tunai " ucap penghulu sambil menghentakkan tangan Jae Su.
"Saya terima nikahnya Zia Aulia binti alm. Hendro Aulia dengan mas kawin tersebut tunai." Ucap Jae Su dengan satu tarikan nafas.
"Bagai mana para saksi?" Tanya pak penghulu.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillah..." Terdengar seruan para undangan yang hadir.
Kemudian terjadi keheningan beberapa saat, sebelum akhirnya terdengar ketukan pintu dan ucapan salam dari Jae Su.
Dengan langkah pasti, Zia berjalan kearah pintu dan membukanya. Setelah tampak sosok pria tampan yang sudah sah menjadi suaminya, Zia langsung membalas salam Jae Su yang sedang terpana dengan paras ayunya. Zia mengulurkan tangannya dan meraih tangan sang suami untuk dikecup.
Mendapat perlakuan manis dari sang istri, Jae Su langsung membungkukkan sedikit tubuh nya dan dengan hati berdebar tak karuan, Jae Su mulai mengecup lembut kening Zia untuk pertama kalinya.
Tak dapat dipungkiri oleh keduanya, kini seakan hadir beribu kupu - kupu dalam diri mereka disertai sebuah getaran yang tak dapat mereka ungkapkan.
Setelah acara kecup mengecup Jae Su membimbing Zia untuk keluar menemui penghulu, keluarga dan para tamu, serta pemasangan cincin pernikahan dan menandatangani dokumen pernikahan.
Binar bahagia kini tampak dari wajah kedua pengantin. Penantian panjang mereka kini untuk memulai awal kehidupan baru. Kehidupan rumah tangga yang tak akan luput dari segala gangguan.
Zia berdoa dalam hati, semoga ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Begitu juga dengan Jae Su, ia berharap ini untuk pertama dan terakhir kalinya ia menikahi seorang wanita. Dan tentu itu hanya Zia seorang.
...****************...
...ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦...
Hay.... aku datang dengan bab baru. semoga pada suka ya.
yuk beri dukungan kamu dengan cara like, komen, tambah ke list favorit mu. jangan lupa beri vote mu.
__ADS_1
thanks udah nyempetin waktu kalian buat baca karya aku. š