
Eps 23
Heppy reading....
ššš
"Assalamualaikum bang Juan..." Sapa Zia pada Juan yang sudah menunggunya disebuah restoran.
"Wa allaikumussalam Zi." Senyum terkembang dari bibir Juan melihat seorang gadis yang dulu sering wara Wiri dirumahnya hanya sekedar mampir memberikan pesanan kue yang Mia pesan dari bundanya. Dan kini gadis itu sudah tumbuh lebih dewasa.
"Bang Juan udah lama? Maaf telat, tadi ada urusan sebentar yang gak bisa ditunda." Tutur Zia tak enak membuat Juan menunggu lama.
"Enggak masalah. Gimana kabar kamu dan kuliah mu? Lancar? Tinggal setahun lagi kan?" Tanya Juan.
Zia mengangguk. "Iya tinggal setahun lagi. Kabar Zia baik, bang. Abang sendiri? Liburan sendiri, atau bawa pacar?"
"Liburan sama mantan pacar yang udah jadi istri. Sekalian bulan madu." Tutur Juan menampilkan senyum jumawanya.
"Wahhh... Udah nikah ternyata." Zia senang mendengar kabar bahagia itu. "Terus mana istri Abang? Kog sendiri?" Tanya nya lagi.
"Lagi ketoilet." Jawab Juan singkat.
"Abang jadi sama kak Melda?" Tanya Zia sedikit ragu. Takut tebakannya salah.
Juan hanya menampilkan senyum manisnya, menandakah bahwa tebakan Zia benar.
"Wah... Akhirnya sama kak Melda juga. Gak sia - sia usaha abang buat ngejar kak Melda sampai ke ujung dunia." Goda Zia sedikit mengejek.
Karena Zia tau perjuangan Juan untuk mendapatkan sang pujaan hatinya. Sungguh amat sulit. Sampai - sampai Mia dan Zia ikut turun tangan.
"Kamu ini, tiga tahun gak jumpa ternyata makin cerewet ya? Lebih dewasa juga."
"Iya dong makin dewasa. Kan umurnya nambah bang." Zia senang dapat bertemu lagi dengan Juan, salah satu orang yang berjasa baginya.
Obrolan ringan terus berlangsung dan saling bertukar canda tawa. Dan tak lupa Zia memberikan sesuatu yang pernah Mia minta padanya.
Tanpa disadari oleh mereka, ada sosok yang memperhatikan kedekatan mereka itu.
Kepala nya mendidih, hatinya panas, dengan muka merah padam menahan cemburu.
Tak tahan lagi, pria itu langsung menghampiri sepasang anak manusia yang terlihat bahagia itu.
Tak tak tak tak
Langkah cepat sepatu fantopel yang semakin mendekat. Dan berhenti tepat disamping meja yang sedang Zia dan Juan gunakan.
Sontak saja keduanya melihat kearah orang yang sedang berdiri didekat mereka.
__ADS_1
"Jae Su?" Wajah terkejut Zia tak dapat ditutupi.
"Ya aku." Ketus Jae Su. "Siapa pria ini? Kelihatannya kamu terlalu akrab dengannya? Bukannya biasanya kamu langsung pulang setelah selesai belajar di universitas?" Tanya Jae Su dengan nada tak senangnya. (Dengan menggunakan bahasa Korea)
Sedangkan Juan masih memperhatikan lelaki tersebut.
Belum sempat Zia menjawab pertanyaan dari Jae Su, tiba - tiba seorang wanita bergelayut manja di lengan Juan.
"Maaf sayang, aku lama ya?" Ucap Melda sambil mengecup pipi Juan.
"Aku fikir kamu sekalian numpang tidur di toilet tadi." Sindir Juan dengan nada bercanda kepada Melda. Dan ia langsung mendapat cubitan mesra dari sang istri.
"Ini Zia ya?" Sapa Melda pada Zia.
"Iya kak. Masih ingat ternyata."
Tak tau kah Zia, sosok disebelahnya begitu dongkol melihat mereka, karena menganggapnya tak ada disitu? Dan parahnya mereka berbicara dengan bahasa yang tak dia mengerti. Ya. Zia , Juan dan Melda menggunakan bahasa mereka, bahasa Indonesia.
Mulai besok Jae Su akan belajar bahasa Indonesia, agar tak terlalu bodoh saat sang pujaan hati mengobrol dengan menggunakan bahasa aslinya.
"Ekheemm..." Dengan terpaksa Jae Su berdehem menyatakan bahwa dia juga berada diantara mereka.
"Oh... Maaf aku melupakan mu, Jae Su." Ucap Zia.
Apa katanya tadi? Jae Su yang mendengar itu hanya bisa menganga dibuatnya. Zia melupakan nya? Padahal ia ada didekatnya. Sungguh terlalu wanita ini.
Melihat tingkah genit istrinya, Juan langsung menarik Melda untuk kembali duduk di kursinya.
"Apaan sih yank? Kamu mengusik kebahagiaan aku tau..." Melda memanyunkan bibirnya.
Sedangkan Jae Su hanya menaikan sebelah alisnya keatas. Melihat wanita itu. Dan kini perhatiannya beralih kembali pada Zia. Ia masih menunggu jawaban Zia dari pertanyaannya yang dari tadi diabaikan Zia.
Tapi, tak berapa lama seorang wanita menghampiri Jae Su dan langsung menggandeng mesra lengannya.
"Jae Su, kita sudah ditunggu yang lainnya." Ucap wanita itu dengan manja dan genitnya.
Melihat itu, sontak mata Zia membola. Dan parahnya lagi wanita itu sengaja menempelkan dadanya ke lengan Jae Su.
Jae Su yang terkejut mendapat perlakuan itu pun sontak menghempaskan kasar tangannya.
"Apa yang kau lakukan Hey-Yun?" Sentak Jae Su kasar. " Jangan pernah menyentuh ku." Ketusnya lagi.
"Oh... Ayo lah... Aku hanya memeluk lengan mu, bukan tubuhmu." Ucapnya dengan memutar bola matanya.
"Jaga sikap mu." Jae Su masih tetap ketus.
"Hehgghh... Sudah lah. Ayo kita masuk. Acara akan dimulai. Bukankah kita yang jadi bintang utama? Kita pasangan serasi bukan?" Ucapan Hey-Yun itu seolah memprovokasi salah seorang dari dua wanita yang ada disana.
__ADS_1
"Dan maaf, aku tak mau menjadi pasangan mu di dunia nyata." Tukasnya dan berlalu pergi tanpa pamit pada Zia.
Zia dan Melda mengulum senyum mereka atas tontonan yang ada didepan mereka.
Dengan kesal dan menghentakkan kaki, Hey-Yun menyusul Jae Su yang sudah masuk ke ruangan tempat acara perayaan keberhasilan film mereka.
"Kamu kenal Jae Su, Zi?" Tanya Melda yang sedang penasaran.
"Hemmm... Teman Zia kak." Jawab Zia.
"Teman apa teman?" Goda Melda. "Tapi kog masam gitu mukanya ya? Kaya lagi marah gitu." Lanjutnya lagi.
"Kamu pacaran Zi?" Tanya Juan.
"Enggak bang. Zia gak pernah pacaran kog." Sanggah nya.
"Terus? Kog tadi kaya orang cemburu gitu dia sama abang? Kalau gak pacaran, apa gebetan kamu, zi?" Juan terus mengorek informasi dari sahabat almarhum adiknya itu.
Karena setahu Juan, Zia tak kan mau untuk yang namanya pacaran. Apa mungkin prinsip Zia sudah berubah? Pikirnya.
"Kan bang Juan tau, Zia tuh gak mau yang namanya pacaran, Zia maunya langsung nikah." Zia menampik tuduhan Juan.
"Berarti calon suami dong?" Celetuk Melda.
"Hahaha... Kak Melda ada - ada aja." Zia jadi kikuk sendiri.
"Bunda kamu udah tahu Zi?" Tanya Juan, dan dijawab dengan anggukan kepala Zia.
"Udah dapat restu dari orang tua kalian?" Ya ampuuunn, kog jadi bawel gini si Juan ya?
"Belum kearah sana bang. Kita ikuti alurnya aja. Kalau jodoh gak kemana kan?" Tutur Zia.
"Oh... Aku ingat! Jadi wanita berhijab yang digosipkan dekat sama Jae Su itu kamu zi?" Melda teringat tentang gosip yang beredar beberapa tahun lalu.
Lagi - lagi Zia hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Wahhh beruntung kamu zi, ditaksir idol tampan dan karismatik begitu. Andai kakak jadi kamu, udah lama kakak ajak dia nikah Zi." Melda membayangkan bahwa ia lah yang ada di pelaminan bersama Jae Su.
"Ekheemm....
Aku mau kamu kemana kan yank?" Gerutu Juan.
Melihat wajah masam Juan, kedua wanita itu sontak tertawa. Dasar Juan, bucinnya Melda, dari dulu hingga sekarang.
...****************...
...ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦...
__ADS_1