Bidadari Sang Idol

Bidadari Sang Idol
Eps 42


__ADS_3

Eps 42


happy reading....


šŸ’žšŸ’žšŸ’ž


Pasangan pengantin baru yang masih hangat - hangatnya itu kini memasuki sebuah rumah dengan desain rumah minimalis modern dengan dua lantai.


Hunian yang nyaman dengan taman dan kolam renang yang lumayan luas.


Zia terkagum dengan konsep dari rumah Jae Su ini. Walaupun tak sebesar rumah keluarga Park yang ada di Korea, namun ini benar - benar nyaman untuk dihuni pasangan pengantin baru itu.


Terdapat satu kamar utama, dua kamar tamu dan dua kamar ART. Cukup luas memang bila hanya dihuni untuk dua orang.


"Selamat datang Tuan, Nyonya." Sambut bik Murni, ART dirumah itu.


Zia dan Jae Su hanya tersenyum ramah pada sang ART.


Dirumah itu tak hanya mereka bertiga saja. Ada satu orang satpam dan satu orang supir yang merangkap menjadi tukang kebun.


"Tolong bawa koper ini ke kamar utama, bibi." Perintah jae Su.


"Baik Tuan." Bik Murni menggeret kedua koper itu untuk diletakan kekamar majikannya.


"Kamu mau melihat sekeliling rumah ini?" Tawar Jae Su.


"Emm." Zia mengangguk. Ia mengikuti langkah suaminya untuk melihat - lihat seisi rumah.


"Bukankah ini terlalu luas untuk kita, Jae Su?" Tanya Zia.


"Ya. Tapi tidak jika kita sudah memiliki anak, sayang." Jae Su mencubit sayang pipi Zia.


"Emang mau punya berapa anak?" Tanya Zia ingin tahu.


"Empat atau enam mungkin." Jawab Jae Su enteng.


Zia melongok mendengar jawaban dari Jae Su. Tidak segampang itu buat melahirkan anak sebanyak itu Ferguso...


"Banyak banget? Masa harus satu tahun satu anak aku lahirin? Dikira aku kucing?" Sewot Zia.


Jae Su tertawa mendengar ucapan istrinya.


"Kita bisa program bayi kembar kan? Jadi cukup tiga kali melahirkan dengan masing - masing kelahiran dua orang anak." Tutur Jae Su.


"Sedikasihnya Allah aja ya?" Bujuk Zia dengan puppyeiss nya.


"Hahaha... Iya sayang." Jae Su merangkul sang istri untuk melanjutkan tour keliling rumah.


****


Ini hari pertama Jae Su masuk kantor setelah menikah.

__ADS_1


Seperti biasa, Zia selalu melayani kebutuhan Jae Su dengan tangannya sendiri. Mulai dari menyiapkan pakaian dan urusan perut Jae Su. Sedangkan bik Murni bertugas untuk bagian bersih - bersih.


Kini keduanya sudah berada dimeja makan untuk sarapan.


Hari ini cukup dengan nasi putih dan ayam goreng tepung sesuai permintaan Jae Su.


"Hari ini mau makan siang diluar atau mau aku bawakan makan siang dari rumah?" Tanya Zia penuh perhatian.


Jae Su berfikir. Apakah hari ini ada kegiatan diluar atau tidak.


"Kalau tidak merepotkan, aku ingin kamu buatkan sup daging dengan wortel yang banyak." Pintanya pada Zia.


"Ok. Nanti aku suruh mang usep antar makan siangnya." Ucap Zia.


Jae Su mengerenyit. Bukannya tadi istrinya bilang bahwa dirinya sendiri yang akan mengantar makan siang untuknya?


"Kog mang usep yang antar?" Tanya Jae Su.


Zia yang sedang fokus dengan makanannya menoleh kearah sang suami. "Iya. Kenapa?" Tanyanya polos.


"Katanya tadi kamu yang mau antar. Kenapa sekarang kamu bilang mang usep yang antar?"


"Oh... Emang gak apa aku sering Dateng ke perusahaan kamu?"


"Ya enggak, sayang." Jae Su mencubit hidung istrinya. "Nanti siang aku tunggu kamu antar makan siang buat suami tampan kamu ini, ok?"


"Ok suami!" Zia menyanggupi permintaan Jae Su.


****


"Ya udah pasti cerah lah. Kan dapat servis dari ibu boss." Jawab temannya.


"Beruntung banget jadi Bu boss ya, bisa dapetin cowok idola para kaum hawa." Tutur Desi.


"Ho oh. Masih ada lowongan buat yang kedua gak ya?" Si teman Desi mulai menghayal.


"Ck." Desi meraup wajah temannya. "Jangan mimpi ketinggian. Kamu tau gak cewek yang tadinya bakal jadi sekertaris si boss?" Tanya Desi pada temannya.


"Hem tau."


"Denger - denger nih ya. Gara - gara dia pakai baju seksi waktu masuk keruangan si boss aja, dia langsung kena semprot dan turun jabatan langsung sebelum jadi sekertaris sungguhan si boss. Boss itu tipe - tipe suami setia. Kalau si boss laki - laki yang suka jajan, gak mungkin dia pilih istri yang berhijab. Nunggunya sampe empat tahun lebih lagi." Ucap Desi panjang kali lebar.


Hingga terdengar suara deheman dari arah belakang mereka. Dan ternyata tak lain adalah mantan calon sekertaris si boss.


"Ekkhheem. Jangan kebanyakan ngegosip. Gak bagus buat kesehatan bibir." Ketusnya dan langsung berlalu pergi.


Desi dan temannya bukan merasa takut, mereka malah cekikikan karena tak sengaja menggosipkan orang didepannya langsung.


Setengah jam lagi waktu makan siang tiba. Namun Zia sudah sampai didepan perusahaan Jae Su diantar oleh mang usep tadi.


Zia melangkah masuk ke dalam perusahaan. Tak seperti pertama kali saat kedatangannya dulu, kini Zia disambut dengan ramah oleh resepsionis yang sama saat itu.

__ADS_1


"Siang ibu boss." Sapa seorang resepsionis.


"Siang mbak. Jae Su ada diruangannya?" Tanya Zia dengan seulas senyum.


"Ada ibu, pak boss udah nunggu dari tadi. Beliau pesan, bila ibu sudah datang, disuruh langsung keruangan pak boss. Mau saya antar?" Tawar resepsionis itu.


"Gak usah mbak. Biar saya sendiri. Mari."


Kedua resepsionis itu mengangguk hormat.


Begini ternyata rasanya jadi istri dari seorang boss. Semua orang pada nunduk hormat waktu berpapasan dengannya.


Namun disebuah kubikel, ada seseorang yang menatapnya sinis tak suka. Tatapan penuh rasa iri dan dengki.


"Lihat aja. Cepat atau lambat, gue yang akan gantiin posisi elo." Gumamnya sinis.


Tok tok tok...


Zia mengetuk pintu dimana Jae Su bekerja. Setelah mendapatkan sahutan dari dalam ia pun masuk keruangan Jae Su.


Ceklek...


Pintu terbuka.


"Assalamualaikum my hubby." Sapanya pada lelaki tampan yang sudah menunggunya.


"Wa allikumussalam sayang." wajah Jae Su langsung sumringah melihat wajah cantik yang sudah berhasil memikat hatinya itu.


Jae Su beranjak dari kursi kerjanya, dan menuntun Zia untuk duduk di sofa tamu.


"Aku bawa makanan pesanan kamu. Semoga kamu suka sama rasanya ya?" Tutur Zia sambil menyusun bekal yang sudah ia bawa keatas meja.


"Bagaimana pun rasanya, aku akan selalu suka. Karena kamu yang memasaknya sudah dibubuhi dengan rasa cinta." Jae Su mengeluarkan kata - kata manisnya untuk sang istri.


"Pinter bener kamu merayu sekarang ya? Apa seperti ini sebenarnya seorang Park Jae Su?" Cibir Zia.


"Hanya sama kamu aku begini." Cup. Jae Su mengecup pipi istrinya.


Zia yang mendapat gombalan dari Jae Su hanya memonyongkan bibirnya.


Cup


Lagi - lagi Jae Su mengecup sang istri. Tapi kali ini bukan dipipi, melainkan dibibir.


"Issss... Kamu makin lama makin mesum tau gak." Zia kesal dengan kelakuan mesum Jae Su belakangan ini yang selalu nyosor dimana pun mereka berada.


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


jangan lupa beri dukungan untuk karya aku dengan beri like, komentar dan masukan ke list favorit mu.

__ADS_1


jangan lupa vote juga ya.


thanks udah mampir šŸ™


__ADS_2