
Eps 44
happy reading....
ššš
[23/2 16.19] Ria Ni: Cup
"Kamu masak apa malam - malam begini?" Jae Su menghampiri Zia sambil melongok kan kepalanya dari balik punggung zia, dan memeluknya dari belakang sambil menghadiahkan kecupan dipipi sang istri.
Sedari tadi Jae Su sudah menunggu Zia dikamar. Namun sudah sepuluh menit, istrinya itu tak kunjung muncul. Jadi Jae Su memutuskan untuk mencari sang istri.
Ternyata yang ditunggu - tunggunya sedang berkutat didepan kompor dan memasak sesuatu.
"Aku lagi pingin makan mie instan." Tunjuknya pada bungkusan mie dan potongan cabai bawang yang ada di depannya.
"Mie instan?" Jae Su sedikit berfikir. "Apa sejenis ramyeon?" Ia memiringkan kepalanya untuk melihat wajah sang istri yang sedang menumis bumbu.
Zia mengangguk. "Iya. Sejenis ramyeon. Kamu mau? Biar aku buat sekalian." Tawar Zia.
"Hemm. Boleh. Sudah lama juga aku tidak makan makanan itu." Ucap Jae Su sambil mengeratkan pelukannya dipinggang istrinya.
"Sayang!" Panggil Zia.
Jae Su tersenyum lebar. Sebab jarang sekali istrinya ini memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Ya istriku?" Sahut Jae Su sambil mengendus leher sang istri yang tertutup hijab.
"Bisakah lepaskan pelukan ini dulu? Aku sulit bergerak kalau kamu terus dalam posisi ini. Bisa - bis kita yang masuk kedalam penggorengan." Ternyata Zia mengomeli dirinya.
Tadinya Jae Su fikir Zia akan meminta agar dirinya melakukan adegan romantis seperti yang pernah ia perankan dalam salah satu filmnya.
"Bukan kah ini romantis? Memasak sambil berpelukan?" Jae Su mulai menghayal.
"Ck. Itu hanya ada dalam adegan film yang kamu bintangin, sayang! Jadi lepaskan dulu pelukan kamu. Biar masak mie nya cepat selesai. Aku benar - benar sudah lapar." Gerutu Zia yang sedari tadi dipeluk Jae Su dari belakang.
"Baiklah. Baiklah." Jae Su mengalah dan melepaskan sang istri.
Namun ia hanya beranjak kesamping Zia. Ia ingin menemani istrinya yang sedang memasak.
Definisi pengantin baru yang kaya amplop dan perangko. Tak mau lepas.
Setelah berkutat dengan waktu yang tak begitu lama, akhirnya mie mereka sudah siap dihidangkan.
Keduanya menuju meja makan, dengan Zia membawa semangkuk besar mie instan kuah yang menggugah selera.
"Mau kemana lagi?" Tanya Jae Su yang melihat Zia hendak menjauh dari meja makan.
"Ambil mangkuk. Masa mau makan pakai mangkuk segitu besarnya?" Jawab Zia.
__ADS_1
"Tidak perlu." Zain menarik lengan istrinya agar duduk. "Kita makan berdua dalam satu mangkuk besar ini. Bukankah ini kelihatan romantis?" Ucapnya sambil tersenyum.
Zia memandangi wajah tampan Jae Su. Sejak kapan suaminya ini ingin selalu romantis dengannya? Apakan memang seperti ini seorang Jae Su pada pasangannya.
Haaahhhh...
"Baiklah. Kita makan semangkuk berdua."
Kini mereka mulai melahap mie yang sudah dimasak Zia. Dan ternyata seperti biasanya, masakan Zia selalu enak.
[23/2 16.28] Ria Ni: Pagi menjelang.
Seperti biasa, Zia dan Jae Su disibukan dengan urusannya masing - masing.
Tak tak tak....
Jae Su menuruni anak tangga dengan santai dan menghampiri sang istri yang sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.
"Pagi sayang." Jae Su menyapa sambil mengecup ujung kepala Zia.
"Pagi juga my hubby." Zia menerbitkan senyum indahnya.
"Ayo sarapan. Hari ini aku harus cepat sampai di perusahaan." Ajak Jae Su.
Zia menuangkan nasi goreng dan selembar telur mata sapi kepiting suaminya. Tak lupa ia buatkan secangkir teh hangat.
"Tidak usah, sayang. Siang ini ada meeting diluar dengan beberapa investor baru. Jadi sekalian makan siang diluar." Tutur Jae Su.
"Emm baiklah. Semoga kerjaan kamu selalu lancar dan diridhoi Allah." Doa tulus Zia.
"Aamiin." Sahut Jae Su cepat.
****
Beberapa orang staf dari semua divisi memasuki ruangan rapat.
Mereka semua sibuk mempersiapkan bahan persentasi produk yang akan dipasarkan pada musim ini yang akan disampaikan kepada pimpinan tertinggi diperusahaan ini, yaitu Jae Su.
Ceklek
Jae Su masuk dan diiringi oleh sang asisten, Hansel.
Mata para staf wanita seketika berbinar melihat wajah tampan itu.
Ini pertama kalinya mereka mengadakan rapat secara langsung dengan pimpinan tertinggi mereka diperusahaan ini.
"Assalamualaikum. Selamat siang semua." Sapa Jae Su pada para staffnya.
"Wa allikumussalam bos. Selamat siang juga." Jawab para staffnya serempak.
__ADS_1
"Baik. Rapat kita mulai sekarang. Silahkan divisi bagian produk menyampaikan persentasinya."
Kepala divisi bagian produksi mulai menyampaikan persentasinya tentang produk fashion yang akan segera diluncurkan. Mulai membahas desain pakaian dan gaun, jenis produk yang digunakan, badget yang harus dikeluarkan, masalah pemasaran produk, dan terakhir siapa model yang akan menjadi ambasador dari produk baru mereka.
"Apa saya boleh memberi usul?" Tanya Winda salah satu tim desainer JF Group.
"Ya silahkan." Sahut Jae Su.
"Bagaimana untuk model yang akan menjadi ambasador produk baru kita itu, Tuan Jae Su dan Nyonya Zia?" Ucap Winda sedikit ragu. Takut bila bosnya itu akan marah.
"Kenapa harus saya dan istri saya?" Jae Su mengerenyitkan keningnya, ia ragu dengan usulan dari stafnya itu.
"Maaf sebelumnya jika saya lancang Tuan." Winda menjeda kalimatnya.
"Saya rasa pemberitaan tentang pernikahan Tuan dan istri masih hangat diperbincangkan khalayak ramai. Baik di media televisi maupun media online. Terkhususnya kaum muda mudi. Dan dari survei yang telah kami tim desain buat, berita tentang pernikahan Tuan dan Nyonya mendapatkan tanggapan yang positif. Jadi apa salahnya kita memanfaatkan hal ini untuk mendongkrak keberhasilan untuk pemasaran produk baru kita. Terutama untuk baju couple." Tutur Winda panjang lebar.
"Saya kurang setuju." Ucap Jae Su.
"Apa alasannya Tuan?" Tanya kepala tim desainer.
"Saya tidak ingin istri saya terekspos media. Dan akan mengganggu privasinya nanti." Terang Jae Su.
Para staf terdiam. Begitu perhatian nya si bos pada istrinya ini.
"Coba anda fikiran kembali Tuan. Jika produk ini berhasil dipasaran, bukankah itu akan menarik lebih banyak lagi para investor?" Ucap kepala divisi marketing.
"Benar Tuan."
"Benar Tuan."
Sahut keberapa orang staf.
Hhhhaaahhh...
Jae Su menarik nafasnya dalam. Apa ia harus melibatkan sang istri untuk proyek dari produk mereka kali ini?
"Ck. Akan aku tanyakan dulu pada istriku. Jika dia tidak bersedia, kita akan cari model lain sebagai ambasador baru produk kita. Dan tentunya usahakan dapatkan model yang tak memiliki skandal apapun."
Jae Su berdiri. "Baiklah rapat kita akhiri. Dan saya akan memberi jawaban atas persetujuan istri saya secepatnya. Selamat siang. Assalamualaikum." Jae Su beranjak dari ruangan rapat dan menuju ruangannya sendiri.
Ia akan istirahat sejenak, sambil menunggu waktu rapat selanjutnya di jam makan siang nanti.
...****************...
...ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦Ī©ā¦ā¦...
jangan lupa like komen dan tambah ke list favorit mu ya.
...^^^thanks udah mampir š^^^...
__ADS_1