Bidadari Sang Idol

Bidadari Sang Idol
Eps 49


__ADS_3

Eps 49


happy reading


šŸ’žšŸ’žšŸ’ž


Tanpa terasa waktu terus berlalu.


Kini kehamilan Zia sudah memasuki waktu persalinan.


Masa - masa kehamilannya terbilang cukup mudah, karena tak ada kendala yang berarti.


Seperti pada umumnya para ibu hamil yang memiliki segudang keinginan yang tak masuk akal. Dan Zia juga tak terlepas dari hal itu.


Pernah suatu ketika Zia menginginkan Jae Su kembali tampil bersama para saudaranya di Blue Ring.


Walaupun sedikit kerepotan, tapi Jae Su bisa mengabulkan keinginan sang istri tercinta dengan mengadakan konser dadakan.


Jae Su memanggil para member Blue Ring lainnya untuk datang ke Indonesia agar membantu mewujudkan ngidam sang istri.


Hal itu sangat disambut antusias para fans mereka yang ada di negara ini. Dan konser dadakan itu berhasil dilaksanakan dengan baik.


"Sungguh luar biasa keinginan calon anakmu itu, Hyung." Ryung berujar.


"Maklumkan saja. Calon anak sultan." Yong Su ikut menimpali.


****


Hari ini pun kedua orang tua Jae Su akan tiba dari Korea.


Mereka begitu antusias dengan hari kelahiran sang penerus pertama keluarga Park, yang digadang - gadang adalah seorang bayi laki - laki.


"Ayah, Ibu." Sambut Jae Su dengan kedatangan orang tuanya yang telah tiba di bandara.


"Bagaimana kabar mu dan menantu ku?" Tanya ayah Jae Su.


"Kami baik."


"Bagaimana calon cucu ibu? Dalam minggu ini kan hari perkiraan lahirnya?" Tanya ibu Jae Su begitu semangatnya.


"Ya. Kemungkinan minggu ini. Bisa lebih cepat atau lambat." Tutur Jae Su.


Ibu Jae Su mengangguk membenarkan. "Ya, ya, ya. Dulu ibu juga begitu. Kelahiran anak tidak bisa selalu tepat dari perkiraan."


"Ayo, kita langsung kerumah. Biar ayah dan ibu bisa cepat beristirahat." Ajak Jae Su.


Ketiganya berjalan menuju mobil yang sudah menunggu mereka yang mana sudah ada Hansel yang menyambut tuan besarnya.


"Selamat datang, Tuan dan Nyonya besar." Hansel membungkuk memberi hormat.


Ayah Jae Su hanya menepuk pundak Hansel dan berlalu masuk kedalam mobil.


Tak membutuhkan waktu lama, rombongan Jae Su dan kedua orang tuanya sudah tiba dikediaman Jae Su.


Didepan pintu sudah ada Zia dengan perut buncitnya dan sang besan yang menyambut kedatangan mereka.


"Ayah, Ibu!" Zia merengsek maju mengambil tangan kedua mertuanya untuk disalim.


"Ah... Menantuku. Kamu terlihat cantik berkali - kali lipat saat hamil seperti ini." Puji ibu Jae Su. Ia memeluk menantunya itu lalu mengelus perut Zia dengan lembut.

__ADS_1


"Hai cucu nenek! Sebentar lagi mau lahir ya?" Sapanya pada calon cucunya.


"Auuwwsssttt..." Zia meringis menahan sakit.


"Kenapa sayang?" Jae Su yang berada disampingnya dengan sigap menahan tubuh Zia yang sedikit terhuyung.


"Sa, sa kit Ja e Su." Ucap Zia terbata.


"Apa sudah waktunya melahirkan?" Tanya bunda Rumi.


"Hah? Ternyata cucu ku sedang menunggu kedatangan nenek dan kakeknya tiba dari Korea? Jadinya dia langsung mau keluar hari ini?" Ucapan itu keluar dari bibir ibu Jae Su.


"Ayo, ayo bawa kerumah sakit sekarang." Ayah Jae Su seketika ikut panik. Ia langsung mengambil alih kemudi dengan istrinya duduk disebelahnya.


"Bunda akan mengambil keperluan Zia dan bayinya, dan nanti menyusul dengan Hansel. Pergilah lebih dahulu." Ucap bunda Rumi pada menantunya.


Jae Su langsung memapah istrinya untuk masuk kedalam mobil yang belum sempat dimasukan garasi.


"Aaakkhhh." Pekik Zia dengan merasa lengan Jae Su.


"Sa sa yang. Aduh ibu bagaimana ini?" Jae Su tambah panik.


Zia terus meremas tangan suaminya. Kepalanya kini sudah ia sandarkan di dada sang suami.


"Aaaaaaa..." Bukan Zia yang berteriak, melainkan Jae Su.


Bagaimana tidak? Zia kini tengah menggigit dada bidangnya dengan kuat.


"Ada apa Jae Su?" Bentak ibu Jae Su. Ia menoleh ke belakang melihat keadaan anak dan menantunya.


"Sa yang, ssss... Sakit." Rintih Jae Su.


Tak membutuhkan waktu lama. Karena jarak rumah sakit dengan kediaman mereka tak begitu jauh. Kini mereka sudah sampai dirumah sakit.


Dan tak lama disusul dengan kedatangan bunda Rumi dan Hansel dibelakang mereka.


Melihat kedatangan seorang pasien, para suster bergegas untuk membantu.


Diruang persalinan.


"Akkhhhssss.... Astaghfirullah." Rintih Zia.


"Sabar ya ibu. Sebentar lagi baby nya lahir. Udah buka delapan ini." Ucap bidan yang ikut menangani Zia.


"Su ami saya mana Bu?" Zia tak melihat Jae Su disekitarnya.


"Suami Ibu nanti akan dipanggil jika sudah waktunya ibu siap mengeluarkan baby nya ya Bu." Tutur salah satu suster disana.


Zia kini hanya bisa menikmati rasa yang sungguh luar biasa.


"Begini mungkin yang dirasakan bunda waktu ngelahirin aku. Maafin zia, Bun. Belum bisa jadi anak yang bisa membanggakan bunda." Zia membatin.


Cukup lama Zia didalam hanya ditemani oleh beberapa suster dan seorang bidan.


Ceklek


Masuk seorang dokter wanita yang akan menangani persalinan Zia.


"Hai calon bunda! Gimana? Sungguh nikmatkan menunggu kedatangan dede bayinya?" Sapa dokter itu dengan tersenyum ramah pada Zia.

__ADS_1


Zia yang sudah tak mampu mengeluarkan kata - kata hanya bisa tersenyum.


"Saya periksa dulu ya." Dengan lembut, dokter itu memeriksa jalan keluar si baby. "Ok. Udah waktunya. Suster!"


"Ya Dok?"


"Panggil suami pasien. Persalinan akan segera dilakukan." Perintah dokter itu pada seorang perawat.


Beberapa menit kemudian, Jae Su sudah masuk dengan pakaian sterilnya.


Ia langsung mendekat kearah istrinya. Melihat Zia yang betapa pucat dan menahan rasa sakit yang teramat sangat.


"Semangat sayang! Baby kita akan segera lahir." Ucap Jae Su lirih ditelinga sang istri, kemudian mengecup keningnya penuh rasa sayang.


"Sudah siap Bunda? Ikuti arahan saya ya." Ucap dokter itu lagi.


Zia hanya mengangguk pasrah. Menyerahkan diri hanya kepada Allah, ia hanya bisa berusaha dengan sekuat tenaga demi melahirkan anak tercintanya.


"Ok. Tarik nafas." Intrusi dokter terjeda sesaat. "Ya. Mengejan sekarang."


"Eeeeeemmm..."


"Ok. Tarik nafas lagi. Mengejan bunda."


"Eeeeeemmm... Hah hah hah." Zia mulai terengah - engah.


"Ayo Bunda, sekali lagi. Kepala baby nya udah kelihatan."


"Eeeeeeeeemmm...." Zia mengejan cukup panjang. Dan....


Ooowek... Ooowek...


Akhirnya...


Seorang bayi tampan jae Su dan Zia telah lahir ke dunia.


"Alhamdulillah..." Seru Jae Su dan Zia.


"Terima kasih sayang." Ucap Jae Su mengecup kening istrinya kembali dengan tetesan air mata bahagia.


"Wah... Tampannya. Bayi lahir dengan sempurna ya." Seru sang dokter. Dan memberi bayi itu untuk dipeluk Zia.


Air mata bahagia luruh seketika dipipi kedua orang tua baru itu. "Welcome to the world, little baby." Ucap Jae Su.


Kemudian dokter mengambil alih baby itu lagi dan menyerahkan baby tampan itu kepada suster untuk dibersihkan. Sedangkan ia beralih kembali pada sang ibu bayi untuk melakukan proses pengeluaran plasenta bayi.


Beberapa menit kemudian, Zia sudah selesai dibersihkan, begitu juga si bayi.


"Silahkan diadzani Tuan." Suster menyerahkan bayi tampan itu pada sang ayah.


Dengan suara merdu dan lirihnya, Jae Su mengumandangkan adzan tepat ditelinga sang putra. Dan kemudian mengecup kening sang putra. Lalu memberikannya kepada istrinya.


"Terima kasih, sayang. Kamu sudah memberikan hadiah yang tak ternilai harganya. Selalulah jadi bidadari ku, sampai kita dipertemukan di surga Nya nanti."


...T A M A T...


...****************...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2